Pemerintah mendorong jutaan sepeda motor berbahan bakar bensin beralih ke motor listrik melalui jalur konversi. Namun, skema itu dinilai tidak sesederhana yang dibayangkan dan kurang efektif jika diterapkan untuk skala besar.
Juru Bicara KOSMIK (Komunitas Sepeda/Motor Listrik) Indonesia, Hendro Sutono, menilai pendekatan konversi terlalu rumit untuk dijadikan solusi massal. Ia menilai pasar motor listrik justru sudah cukup siap, sehingga yang dibutuhkan adalah dorongan yang lebih praktis dan terstruktur bagi konsumen.
Konversi Dinilai Tidak Mudah Diterapkan Massal
Secara teknis, konversi motor bensin menjadi motor listrik memang memungkinkan. Akan tetapi, proses itu menuntut perubahan pada komponen utama kendaraan, sehingga tidak bisa diperlakukan seperti sekadar penggantian aksesori.
Hendro menilai kerumitan itu menjadi hambatan jika konversi ingin dijalankan secara luas. Di sisi lain, industri motor listrik di Indonesia disebut sudah berkembang, baik dari sisi model, jaringan penjualan, maupun layanan purna jual.
Menurut Hendro, berbagai merek motor listrik kini menawarkan pilihan yang semakin beragam. Kondisi itu membuat konsumen sebenarnya sudah bisa membeli motor listrik layaknya membeli motor konvensional di diler resmi.
“Ekosistem purna jualnya sedang berkembang, yang kurang hanyalah dorongan nyata dan terstruktur bagi konsumen untuk beralih,” kata Hendro kepada Kompas.com, Jumat (3/4/2026).
Tukar Tambah Dinilai Lebih Realistis
Dibanding konversi, Hendro menilai program tukar tambah atau trade in jauh lebih masuk akal untuk mendorong transisi. Skema ini lebih sederhana karena konsumen cukup menyerahkan motor bensin lama ke diler resmi sebagai bagian pembayaran motor listrik baru.
Dalam skema tersebut, konsumen bisa memperoleh potongan harga atau subsidi dari selisih nilai kendaraan lama dengan motor listrik yang dipilih. Mekanisme ini dianggap lebih mudah dipahami dan tidak menambah beban teknis pada pengguna.
- Konsumen membawa motor bensin lama ke diler resmi.
- Motor lama dijadikan bagian pembayaran motor listrik baru.
- Konsumen mendapat potongan harga atau subsidi.
- Motor bensin bekas masuk ke jalur daur ulang resmi.
Hendro menilai cara ini lebih tepat karena menghasilkan dampak ganda dalam satu transaksi. Populasi motor bensin berkurang secara nyata, sementara populasi motor listrik bertambah melalui jalur distribusi yang sudah mapan.
Motor Bekas Tak Perlu Kembali ke Pasar
Salah satu keunggulan skema tukar tambah terletak pada pengelolaan motor bensin bekas. Motor itu tidak kembali dijual bebas, melainkan diarahkan ke jalur daur ulang resmi agar komponennya diproses sesuai jenis material.
“Motor bensin bekas itu kemudian tidak dijual kembali ke pasar melainkan masuk jalur daur ulang resmi. Komponennya dipilah sesuai jenisnya, logamnya dilebur dan diproses kembali, dan material yang tidak bisa didaur ulang dikelola sesuai standar lingkungan,” ujar Hendro.
Pendekatan ini juga dinilai lebih aman bagi konsumen karena motor listrik baru masuk melalui ekosistem resmi. Garansi pabrikan, BPKB yang lebih bersih, serta layanan diler menjadi nilai tambah yang sulit didapat jika transisi ditempuh lewat konversi yang tidak seragam.
Lebih Dekat ke Kebutuhan Pasar
Hendro bahkan menggambarkan rumitnya konsep konversi melalui analogi “Kapal Theseus”, yakni pertanyaan filosofis tentang identitas suatu benda yang bagian-bagiannya diganti sedikit demi sedikit. Dalam konteks kendaraan, perubahan komponen utama bisa menimbulkan pertanyaan baru soal keandalan, identitas kendaraan, dan kepastian penggunaan jangka panjang.
Skema tukar tambah juga memberi manfaat bagi para pihak yang terlibat. Konsumen mendapat kendaraan baru yang lebih andal, pemerintah memperoleh pengurangan emisi yang lebih terukur, dan industri motor listrik domestik mendapat dorongan permintaan yang lebih jelas.
Di tengah berkembangnya pasar motor listrik nasional, opsi tukar tambah dinilai lebih mudah dijalankan karena tidak memaksa konsumen memahami proses teknis yang rumit. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, transisi dari motor bensin ke motor listrik dinilai bisa berlangsung lebih cepat, lebih terukur, dan lebih dekat dengan kebutuhan pengguna sehari-hari.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: otomotif.kompas.com





