Emmo Dipilih Buat MBG, Padahal Motor Listrik Rp 37 Juta Sampai Rp 39 Juta Ini Lebih Masuk Akal

Pengadaan motor listrik untuk layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG kembali jadi sorotan karena nilainya disebut mencapai triliunan rupiah. Di tengah ramainya perbincangan itu, pilihan merek Emmo memunculkan pertanyaan baru, terutama karena tersedia banyak motor listrik lain dengan harga di bawah Rp 40 juta.

Sorotan publik tidak hanya tertuju pada besarnya volume pengadaan, tetapi juga pada efisiensi pilihan kendaraan yang dipakai. Dari data pengadaan yang ditelusuri di Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan Inaproc milik LKPP, ada paket kendaraan roda dua untuk Badan Gizi Nasional dengan masing-masing volume 24.400 unit, sehingga totalnya mencapai 48.800 unit.

Kenapa Emmo jadi sorotan

Motor listrik yang muncul dalam pengadaan itu adalah Emmo JVX GT dan skuter listrik Emmo JVH Max. Berdasarkan situs resminya, Emmo JVX GT dijual Rp 56,8 juta, sedangkan Emmo JVH Max dibanderol Rp 48,8 juta dengan kecepatan puncak 90 km/jam, jarak tempuh 70 km, dan baterai 72V 30Ah.

Dalam katalog pengadaan, satu unit motor listrik Emmo JVX GT tercatat Rp 49,95 juta termasuk PPN 12 persen. Jika dikalikan dengan satu paket berisi 24.400 unit, nilainya sekitar Rp 1,218 triliun, atau mendekati angka Rp 1,22 triliun yang tercantum pada paket pengadaan.

Harga bukan satu-satunya soal

Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia, Hendro Sutono, menilai harga Emmo JVX GT masih masuk akal untuk kelas motor trail listrik. Ia membandingkannya dengan produk lain seperti United RX6000 yang berada di kisaran Rp 49 jutaan, Alessa Dimentro DT-Pro, Surron Ultra Bee yang tembus Rp 99 jutaan, serta Tromox UKKO di rentang Rp 35-85 jutaan.

Namun, penilaian berbeda muncul pada Emmo JVH Max. Menurut Hendro, harga Rp 48,8 juta tergolong terlalu tinggi untuk karakter skuter listrik dengan spesifikasi yang ada, karena banyak alternatif lain yang menawarkan nilai lebih baik di harga lebih rendah.

Pilihan motor listrik di bawah Rp 40 juta

Ada sejumlah model yang bisa menjadi pembanding langsung karena sama-sama menyasar kebutuhan operasional, tetapi harganya lebih rendah. Data berikut menunjukkan opsi yang lebih hemat tanpa harus menurunkan terlalu banyak soal fitur dan performa.

  1. Alva One XP
  2. Polytron Fox 500
  3. Zeeho AE6
  4. Indomobil Emotor Tyranno

Perbandingan singkat

ModelHargaJarak tempuhKecepatan maksimumCatatan utama
Alva One XPmulai Rp 38,5 juta70 km per baterai, 140 km dengan dua bateraitidak disebutkanGaransi baterai 3 tahun atau 25.000 km
Polytron Fox 500Rp 38,1 juta130 km130 km/jamAda cruise control dan tiga mode berkendara
Zeeho AE6Rp 37,5 juta100 km80 km/jamTenaga maksimal 4.700 Watt
Indomobil Emotor TyrannoRp 26.750.000110 km80 km/jamPakai ban all-terrain untuk medan lebih variatif

Alasan Emmo dinilai kurang efisien

Jika yang dicari adalah motor operasional untuk mobilitas lapangan, maka harga bukan hanya soal citra merek. Faktor jarak tempuh, daya tahan baterai, garansi, dan biaya pengadaan massal perlu dihitung bersama agar anggaran publik tidak terkunci pada produk yang lebih mahal dari kebutuhan.

Dalam konteks itu, Polytron Fox 500 terlihat menarik karena dijual Rp 38,1 juta dengan jarak tempuh 130 km dan top speed 130 km/jam. Zeeho AE6 juga punya nilai kompetitif di Rp 37,5 juta dengan jarak tempuh 100 km, sementara Indomobil Emotor Tyranno menjadi opsi paling murah di daftar ini dengan harga Rp 26.750.000 dan jarak tempuh 110 km.

Alva One XP pun tetap relevan karena menawarkan dua pilihan paket baterai di harga Rp 38,5 juta dan Rp 39,5 juta. Motor ini memakai baterai lithium 60V 45 Ah, membutuhkan sekitar 4 jam untuk isi penuh satu baterai, dan memberi jarak tempuh 70 km per baterai, atau 140 km dengan dua baterai.

Mengapa perbandingan ini penting untuk MBG

Untuk pengadaan kendaraan bagi lembaga publik, spesifikasi teknis seharusnya berjalan seiring dengan efisiensi anggaran. Saat tersedia model lain yang lebih murah dan tetap kompetitif, pertanyaan soal alasan memilih Emmo menjadi wajar untuk diajukan, terutama jika targetnya adalah mobilitas layanan yang luas, terukur, dan berdaya guna.

Dalam skema pengadaan massal yang jumlahnya puluhan ribu unit, selisih harga beberapa juta rupiah saja bisa memengaruhi total belanja negara secara signifikan. Karena itu, evaluasi terhadap Emmo tidak cukup berhenti pada merek atau desain, tetapi juga perlu melihat kecocokan harga, fungsi, dan kemampuan operasional di lapangan.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: oto.detik.com
Terkait