Kia sedang memperluas strategi produknya dengan cepat, dan sorotan utamanya jatuh pada EV1, hatchback listrik mungil yang diposisikan sebagai mobil listrik paling terjangkau dari merek Korea Selatan itu. Model ini akan menjadi langkah penting Kia untuk memperkuat pasar Eropa, terutama di segmen supermini yang sudah ramai oleh Renault 5, Peugeot e-208, dan Vauxhall Corsa Electric.
EV1 disebut sebagai saudara yang lebih kecil dan lebih rendah dari EV2, namun tetap membawa ambisi besar untuk menarik pembeli massal. Harga awalnya diperkirakan sedikit di atas £20,000 atau sekitar €23,000, sehingga Kia tampak ingin mematahkan kesan bahwa mobil listrik selalu berada di kelas harga tinggi.
EV1 Dibangun untuk Pasar yang Ketat
Secara teknis, EV1 diyakini berbagi banyak komponen dengan EV2, termasuk arsitektur 400-volt E-GMP dan dua pilihan baterai. Varian dasar diperkirakan memakai baterai 42.2 kWh dengan jarak tempuh sekitar 200 miles atau 322 km, sedangkan versi yang lebih tinggi kemungkinan membawa paket 61 kWh dengan jangkauan mendekati 300 miles atau 483 km.
Tenaga yang ditawarkan juga diperkirakan mengikuti EV2, yakni sekitar 145 hp atau 147 PS. Dengan spesifikasi seperti itu, EV1 tidak dibentuk untuk bersaing lewat performa besar, melainkan lewat efisiensi, ukuran kompak, dan harga yang lebih mudah dijangkau konsumen perkotaan.
Kia juga menempatkan EV1 sebagai model pertama di segmennya yang berstatus software-defined vehicle. Artinya, sistem infotainment hingga berbagai fungsi kendaraan akan lebih terintegrasi dan mudah diperbarui lewat software, sebuah pendekatan yang kini makin penting di mobil baru.
Lebih dari Sekadar Mobil Listrik Kecil
Langkah Kia tidak berhenti pada EV1. Produsen ini menargetkan 14 model EV secara global pada 2030 dan penjualan tahunan satu juta unit listrik, sejalan dengan ambisi meraih 4.13 juta penjualan total dan pangsa pasar global 4.5 persen.
Di balik strategi itu, Kia juga menyiapkan platform EV baru yang diklaim mampu memasang baterai hingga 40 persen lebih besar, dengan densitas energi 15 persen lebih tinggi dan motor 9 persen lebih bertenaga. Ini menunjukkan bahwa Kia ingin mendorong lini listriknya ke arah yang lebih matang secara teknis, bukan hanya menambah jumlah model.
Sebuah SUV listrik baru juga sedang disiapkan untuk mengisi celah antara EV5 dan EV9. Kehadiran model itu akan memperkuat jajaran listrik Kia di pasar global, khususnya di kelas SUV yang masih menjadi daya tarik utama banyak pembeli.
Hybrid Justru Jadi Senjata Besar Kia
Meski EV tumbuh, Kia tidak memilih jalur elektrifikasi penuh dalam waktu dekat. CEO Ho Sung Song mengakui laju adopsi kendaraan listrik global telah melambat, sehingga hybrid kembali mendapat perhatian lebih besar.
- Kia menyiapkan 13 model HEV.
- Target penjualan hybrid tahunan mencapai 1.1 juta unit.
- Versi hybrid dari Telluride, Seltos, dan K4 akan hadir.
- Kia juga menyiapkan hybrid dan range-extender untuk truk body-on-frame ukuran menengah sebelum 2030.
Data itu memperlihatkan bahwa Kia membaca pasar secara pragmatis. Di sejumlah wilayah, hybrid masih lebih mudah diterima karena menawarkan efisiensi tanpa ketergantungan penuh pada infrastruktur pengisian daya.
Bisnis Komersial dan Robotik Ikut Diperkuat
Selain mobil penumpang, Kia juga memperluas bisnis kendaraan komersial lewat PV5, lalu PV7 pada 2027 dan PV9 dua tahun setelahnya. Langkah ini penting karena pasar kendaraan niaga sering memberi volume penjualan yang stabil dan membuka peluang baru di sektor logistik.
Kia juga menaruh perhatian pada robotik, termasuk robot pabrik dan solusi pengiriman. Arah ini menegaskan bahwa strategi terbaru Kia tidak hanya berbicara soal produk jalan raya, tetapi juga efisiensi produksi dan ekosistem mobilitas yang lebih luas.
Di tengah rencana besar itu, EV1 hanya terlihat seperti hatchback kecil. Namun justru model inilah yang bisa menjadi pintu masuk paling realistis bagi konsumen Eropa untuk masuk ke dunia listrik Kia, sementara di belakangnya sudah menunggu gelombang model baru yang tidak semuanya sepenuhnya elektrik.
