BYD mengambil langkah efisiensi besar dengan memangkas sekitar 100 ribu karyawan di China. Kebijakan ini langsung menarik perhatian karena terjadi saat produsen mobil listrik asal China itu masih mencatatkan penjualan dan ekspor yang besar.
Pemangkasan tenaga kerja tersebut tidak disebut sebagai tanda permintaan melemah. Manajemen BYD menegaskan langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi, peningkatan efisiensi, dan pengendalian biaya di tengah persaingan industri kendaraan listrik yang makin ketat.
Apa yang mendorong BYD memangkas karyawan?
Langkah ini menunjukkan BYD sedang masuk ke fase baru, dari ekspansi agresif menuju efisiensi operasional. Perusahaan yang selama ini dikenal sangat agresif memperbesar skala bisnis kini harus menjaga margin keuntungan di tengah perang harga yang masih berlangsung di pasar kendaraan listrik China.
Tekanan itu terlihat dari sisi profitabilitas, meski kinerja penjualan tetap kuat. BYD dilaporkan membukukan pendapatan 8.039,6 miliar yuan dengan total pengiriman 4,60 juta unit kendaraan, sementara ekspor mobil dari China menembus 1,05 juta unit.
Namun, laba bersih justru tercatat 326,2 miliar yuan dan turun sekitar 19 persen secara tahunan. Penurunan ini dipicu dua faktor utama, yaitu persaingan harga di pasar new energy vehicle atau NEV di dalam negeri dan besarnya dana yang digelontorkan untuk teknologi kendaraan serta baterai.
Kinerja penjualan masih kuat, tetapi profit tertekan
Secara bisnis, BYD masih berada dalam posisi yang relatif kuat. Volume pengiriman dan ekspor menunjukkan perusahaan tetap punya daya dorong besar, terutama di pasar domestik dan luar negeri.
Akan tetapi, pasar otomotif China kini sangat kompetitif. Banyak produsen kendaraan listrik saling menekan harga untuk merebut pangsa pasar, dan kondisi ini membuat margin keuntungan perusahaan seperti BYD ikut tergerus.
Di sisi lain, investasi besar dalam riset dan pengembangan juga ikut menekan laba jangka pendek. BYD tetap mengalokasikan dana besar untuk menjaga keunggulan teknologinya, termasuk pada elektrifikasi, baterai, dan infrastruktur pengisian daya.
Fokus BYD bergeser ke efisiensi dan teknologi
Belanja riset dan pengembangan BYD disebut mencapai 634 miliar yuan. Dana itu diarahkan untuk memperkuat kemampuan teknologi perusahaan agar tetap unggul dalam persaingan global kendaraan listrik.
Salah satu hasil dari investasi tersebut adalah peluncuran Blade Battery 2.0 dengan Flash Charging 2.0 pada Maret 2026. Teknologi ini diklaim mampu mengisi daya dari 10 ke 70 persen dalam lima menit, serta hingga 97 persen dalam sembilan menit pada kondisi standar.
Inovasi semacam ini penting bagi BYD karena pasar kendaraan listrik kini tidak hanya menilai harga dan desain, tetapi juga kecepatan isi daya, daya tahan baterai, dan efisiensi penggunaan. Dengan kata lain, efisiensi internal perusahaan berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan posisi teknologinya.
Data penting yang perlu dicermati
- Pemangkasan sekitar 100 ribu karyawan di China.
- Jumlah karyawan BYD di Tiongkok saat ini sekitar 870 ribu orang.
- Pendapatan BYD mencapai 8.039,6 miliar yuan.
- Total pengiriman kendaraan mencapai 4,60 juta unit.
- Ekspor mobil dari China menembus 1,05 juta unit.
- Laba bersih tercatat 326,2 miliar yuan, turun sekitar 19 persen.
- Belanja R&D mencapai 634 miliar yuan.
- Target ekspor tahun 2026 dinaikkan menjadi 1,5 juta unit.
Strategi ekspansi luar negeri tetap jadi andalan
Meski melakukan efisiensi, BYD tidak memperlambat ekspansi global. Perusahaan justru menaikkan target ekspor untuk tahun 2026 menjadi 1,5 juta unit, atau naik sekitar 15 persen.
Langkah itu memperlihatkan bahwa pasar luar China makin penting bagi pertumbuhan BYD. Pasar domestik memang masih besar, tetapi kompetisinya sangat sengit dan harga sering menjadi senjata utama antarprodusen.
Di saat yang sama, BYD juga berharap teknologi baterai baru dapat membantu menstabilkan permintaan dalam beberapa bulan ke depan. Penurunan penjualan NEV di pasar domestik yang sempat anjlok 41 persen pada Februari 2026 disebut lebih dipengaruhi faktor musiman, termasuk libur panjang, bukan karena hilangnya minat konsumen secara permanen.
Dengan kombinasi efisiensi biaya, dorongan R&D, dan ekspansi ekspor, BYD sedang berusaha menjaga pertumbuhan di tengah tekanan margin yang makin besar. Langkah memangkas 100 ribu karyawan menjadi sinyal bahwa perusahaan kini tidak hanya mengejar volume, tetapi juga mulai menata ulang struktur bisnisnya agar tetap kompetitif di industri kendaraan listrik global.
