Pembatasan pembelian Pertalite untuk mobil pelat hitam maksimal 50 liter per hari memicu kekhawatiran di kalangan pengguna mobil pribadi. Namun jika dihitung dari kapasitas tangki dan konsumsi BBM mobil keluarga yang umum dipakai, batas itu masih tergolong longgar untuk kebutuhan harian, termasuk perjalanan bolak-balik Jakarta-Bandung.
Aturan yang mulai diterapkan pemerintah itu membatasi pembelian BBM subsidi senilai Rp500 ribu per hari untuk kendaraan roda empat pelat hitam. Dengan harga Pertalite Rp10.000 per liter, artinya batas pembelian harian berada di angka 50 liter.
Batas 50 liter lebih besar dari kapasitas tangki mobil populer
Kekhawatiran banyak pemilik mobil muncul karena aturan ini dianggap bisa mengganggu mobilitas. Padahal, sejumlah mobil penumpang yang paling banyak digunakan di Indonesia justru memiliki kapasitas tangki di bawah 50 liter.
Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia, misalnya, memiliki kapasitas tangki sekitar 43 liter. Mitsubishi Xpander sedikit lebih besar, yakni sekitar 45 liter, sehingga secara praktik pengisian dari kosong pun belum menyentuh batas harian yang ditetapkan.
Data ini penting karena menunjukkan batas 50 liter bukan berarti setiap pengguna akan mudah mentok kuota saat sekali isi. Pada banyak mobil keluarga, pengisian penuh tangki bahkan masih berada di bawah ambang maksimal pembelian Pertalite per hari.
Menurut spesifikasi resmi pabrikan yang dirujuk dalam artikel sumber, model seperti Avanza, Xenia, dan Xpander juga masih dapat menggunakan BBM dengan angka oktan RON 90. Itu berarti Pertalite masih sesuai untuk kendaraan-kendaraan tersebut, setidaknya dari sisi kompatibilitas dasar mesin menurut buku panduan.
Cukup untuk berapa kilometer?
Ukuran yang lebih relevan bagi pengguna bukan hanya liter, tetapi jarak tempuh. Jika konsumsi BBM mobil berada di kisaran 10 kilometer per liter, maka 50 liter setara dengan jarak sekitar 500 kilometer.
Jika mobil lebih efisien dan mampu mencatat konsumsi 15 kilometer per liter, maka 50 liter dapat dipakai hingga sekitar 750 kilometer. Angka ini jauh di atas kebutuhan mobilitas harian kebanyakan pengguna mobil pribadi di wilayah perkotaan.
Dalam pola penggunaan normal, mobil harian biasanya dipakai untuk pergi bekerja, mengantar anak sekolah, atau aktivitas rutin lain. Jarak tempuhnya umumnya hanya sekitar 100 sampai 200 kilometer per hari, sehingga kuota 50 liter masih menyisakan ruang yang cukup besar.
Apakah cukup untuk kerja bolak-balik Jakarta-Bandung?
Untuk menjawab pertanyaan itu, rute Jakarta-Bandung bisa dijadikan tolok ukur yang mudah dipahami. Jarak perjalanan satu arah via jalan tol umumnya berada di kisaran 150 hingga 170 kilometer, tergantung titik berangkat dan tujuan akhir.
Jika dihitung pulang-pergi, total jaraknya berkisar 300 hingga 340 kilometer. Dengan asumsi konsumsi BBM 10 kilometer per liter, kebutuhan bensinnya sekitar 30 hingga 34 liter, sehingga masih berada di bawah batas pembelian Pertalite 50 liter per hari.
Bila mobil yang digunakan lebih irit, kebutuhan BBM tentu lebih rendah lagi. Ini berarti untuk perjalanan kerja bolak-balik Jakarta-Bandung dalam sehari, kuota tersebut secara hitungan matematis masih cukup untuk sebagian besar mobil keluarga bermesin bensin yang memakai Pertalite.
Tentu ada faktor yang bisa mengubah hasil di lapangan. Kemacetan berat, gaya mengemudi agresif, muatan penuh, kondisi AC, hingga kondisi kendaraan bisa membuat konsumsi BBM lebih boros dari hitungan ideal.
Namun bahkan dengan skenario konsumsi yang tidak terlalu efisien, perjalanan 300-an kilometer sehari masih realistis dicapai tanpa melampaui batas 50 liter. Karena itu, kekhawatiran bahwa pembatasan otomatis membuat mobil pribadi sulit dipakai untuk perjalanan antarkota pendek belum sepenuhnya terbukti dari sisi angka.
Simulasi sederhana kebutuhan BBM
- Jakarta-Bandung satu arah: 150–170 km
- Bolak-balik: 300–340 km
- Jika konsumsi 10 km/liter: butuh 30–34 liter
- Jika konsumsi 12 km/liter: butuh 25–28,3 liter
- Batas harian Pertalite: 50 liter
Simulasi ini menunjukkan masih ada selisih cadangan meski mobil dipakai pulang-pergi dalam satu hari. Dengan kata lain, pembatasan 50 liter lebih terasa sebagai alat pengendalian distribusi BBM subsidi daripada pembatas yang langsung mengganggu kebutuhan mayoritas pengguna mobil pribadi.
Bagi pengguna yang setiap hari hanya beraktivitas di dalam kota, angka tersebut bahkan cenderung berlebih. Sementara untuk rute seperti Jakarta-Bandung yang sering dijadikan acuan perjalanan luar kota menengah, jatah 50 liter masih masuk akal dan secara umum cukup aman selama kendaraan berada dalam kondisi normal dan konsumsi BBM tidak jauh di luar rata-rata.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.suara.com