Tesla kembali merebut posisi sebagai produsen mobil listrik murni terbesar di dunia pada kuartal pertama dengan pengiriman 358.023 unit kendaraan ke berbagai negara. Capaian ini membuat Tesla unggul atas BYD, yang mengirimkan 310.389 unit dan tertinggal hampir 48.000 unit dari rival asal Amerika Serikat itu.
Persaingan dua pemain besar mobil listrik ini kembali menunjukkan bahwa strategi pasar jauh lebih menentukan daripada sekadar volume produksi. Tesla mendapat dorongan dari jangkauan global yang lebih luas, sementara BYD justru menghadapi tekanan dari pasar domestik China yang sedang berubah.
Tesla kuat karena sebaran pasar lebih luas
Kinerja Tesla tidak hanya ditopang oleh permintaan di satu negara, tetapi oleh jaringan penjualan yang tersebar di banyak wilayah. Pola ini membuat perusahaan lebih tahan terhadap gejolak di pasar tertentu, termasuk saat persaingan harga makin ketat.
Salah satu penopang terbesarnya datang dari pabrik Shanghai, yang menghasilkan 213.398 kendaraan selama kuartal pertama. Angka itu menyumbang lebih dari separuh total pengiriman global Tesla dan menunjukkan betapa pentingnya basis produksi tersebut bagi ekspansi perusahaan.
BYD tertekan kebijakan dan konsumsi domestik
Di sisi lain, BYD menghadapi kondisi yang lebih berat karena masih bergantung pada permintaan dalam negeri China. Saat pemerintah mengubah skema subsidi kendaraan listrik melalui program tukar tambah yang berlaku sejak 1 Januari, daya tarik pembelian ikut menurun.
Diskon kini dibatasi maksimal RMB 20.000 atau sekitar €2.500, dengan batas 12 persen dari harga kendaraan. Selain itu, pajak penjualan 5 persen ikut menambah beban biaya konsumen dan membuat sebagian pembeli menunda keputusan pembelian mobil baru.
Dampaknya terasa langsung pada segmen mobil listrik murni BYD, yang turun 25,5 persen secara tahunan. Dalam pasar yang tengah sensitif terhadap harga, perubahan insentif bisa cepat memengaruhi arus permintaan.
Strategi harga jadi senjata utama
Tesla merespons pasar dengan pendekatan yang lebih fleksibel, terutama di China. Perusahaan menawarkan pinjaman hingga tujuh tahun dengan bunga rendah untuk menjaga minat konsumen terhadap Model 3 dan Model Y.
Skema itu membuat cicilan bulanan bisa berada di bawah RMB 2.000 setelah uang muka sekitar RMB 80.000 dibayarkan. Strategi pembiayaan seperti ini membantu Tesla menjaga aksesibilitas produk di tengah kompetisi harga yang makin agresif.
Berikut perbandingan singkat kinerja dan strategi kedua perusahaan:
- Tesla mengirimkan 358.023 unit dan tumbuh 6,5 persen secara tahunan.
- BYD mengirimkan 310.389 unit dan turun 25,5 persen secara tahunan.
- Tesla lebih kuat di pasar global, sedangkan BYD lebih bergantung pada pasar China.
- Tesla mengandalkan pembiayaan murah, sementara BYD terdampak perubahan subsidi dan pajak.
Pasar China masih menentukan arah persaingan
Meski tertinggal secara kuartalan, BYD belum kehilangan momentum sepenuhnya. Pada Maret, perusahaan itu masih mencatat penjualan 300.222 kendaraan, lebih tinggi dibandingkan Februari.
Kenaikan itu didorong oleh dukungan pemerintah daerah dan naiknya harga bahan bakar, yang membuat kendaraan listrik tetap terlihat lebih menarik dibandingkan mobil berbahan bakar fosil. Situasi ini menunjukkan bahwa permintaan masih bisa pulih jika insentif pasar kembali menguat.
Persaingan Tesla dan BYD kini bergerak di dua medan sekaligus, yaitu strategi harga dan kemampuan membaca kebijakan. Selama konsumsi di China belum stabil dan Tesla terus menjaga akses pasar globalnya, duel dua raksasa mobil listrik ini masih akan menjadi salah satu indikator utama arah industri kendaraan listrik dunia.
