Kebakaran Mobil Listrik Sulit Dipadamkan, Tiga Langkah Ini Bisa Menyelamatkan

Kebakaran mobil listrik sulit dipadamkan karena sumber apinya tidak hanya berada di permukaan, tetapi juga berasal dari reaksi berantai di dalam baterai lithium-ion. Saat baterai rusak, terbentur keras, atau mengalami panas berlebih, sel-sel di dalamnya bisa memicu thermal runaway yang membuat suhu melonjak sangat tinggi dan api terus menyala meski oksigen luar dikurangi.

Kondisi ini berbeda dari kebakaran mobil konvensional yang umumnya lebih mudah dijinakkan dengan memutus suplai api dari luar. Pada mobil listrik, baterai bahkan dapat menghasilkan oksigen sendiri selama reaksi kimia berlangsung, sehingga api bisa tetap hidup dan berisiko muncul kembali setelah terlihat padam.

Mengapa Api pada Mobil Listrik Begitu Sulit Dikuasai

Lithium-ion menjadi baterai yang paling banyak dipakai pada mobil listrik karena efisien menyimpan energi. Namun, karakteristik yang sama juga membuatnya berbahaya saat terjadi kerusakan serius, karena panas dapat menjalar dari satu sel ke sel lain dan memperburuk kebakaran dalam waktu singkat.

Dalam situasi tertentu, suhu kebakaran baterai dapat mencapai lebih dari 1.200 derajat Fahrenheit. Panas ekstrem ini membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menyemprot api di bagian luar kendaraan, sebab sumber panas masih aktif dari dalam paket baterai.

Masalah lain muncul dari risiko re-ignition atau api menyala kembali. Banyak kasus kebakaran baterai tidak selesai hanya karena api tampak mengecil, sehingga petugas perlu memastikan suhu benar-benar turun dan reaksi kimia berhenti total.

Tiga Cara yang Bisa Dipakai Saat Mobil Listrik Terbakar

Berikut tiga metode yang disebut efektif untuk membantu memadamkan kebakaran mobil listrik, terutama saat penanganan harus cepat dan terukur.

CaraFungsi UtamaKeterangan
Selimut apiMenutup akses oksigenMembantu menghentikan api dan menekan sebaran asap
APARMemutus reaksi apiIdealnya dry chemical powder untuk kelas A, B, dan C
Fire suppression systemPemadaman otomatisAktif saat sensor mendeteksi panas atau asap

1. Gunakan selimut api

Selimut api atau car fire blanket bekerja dengan menutup seluruh kendaraan yang terbakar agar suplai oksigen terhenti. Prinsip ini penting karena api membutuhkan panas, bahan bakar, dan oksigen untuk terus menyala.

Alat ini juga membantu menahan sebaran asap serta zat beracun ke area sekitar. Setelah selimut menutup rapat hingga menyentuh tanah, alat ini perlu dibiarkan sekitar 20 menit agar panas di dalam benar-benar turun.

2. Pakai APAR yang sesuai

APAR tetap bisa digunakan, terutama untuk kebakaran kelas C yang melibatkan listrik. Jenis dry chemical powder sering direkomendasikan karena dapat bekerja pada beberapa kelas kebakaran sekaligus dan membantu menghambat reaksi kimia pemicu api.

Meski begitu, APAR harus dipilih dengan hati-hati karena tidak semua alat pemadam cocok untuk baterai lithium-ion. Di kondisi darurat, alat ini lebih efektif untuk memperlambat dan mengendalikan api sambil menunggu penanganan lanjutan dari petugas.

3. Andalkan sistem pemadam otomatis

Fire suppression system menjadi solusi yang bekerja otomatis melalui sensor suhu tinggi atau asap. Begitu ada indikasi kebakaran, sistem akan menyemprotkan gas pemadam ke sumber api untuk menurunkan suhu, mengurangi oksigen, dan menghambat reaksi kimia.

Keunggulan teknologi ini ada pada respons yang cepat dan residu yang minim. Karena tidak meninggalkan banyak sisa, sistem ini dinilai lebih aman untuk komponen kendaraan dan dapat dipasang di kendaraan maupun area penyimpanan.

Langkah aman yang perlu segera dilakukan

Selain menyiapkan alat pemadam, pengguna mobil listrik perlu menjaga kondisi baterai dan sistem pengisian daya tetap baik. Kebiasaan memarkir di lokasi aman, memeriksa kabel charger, dan memastikan tidak ada kerusakan fisik pada baterai dapat membantu menekan risiko kebakaran sejak awal.

Di area parkir, garasi, SPBU, bandara, maupun bengkel, keberadaan selimut api dan APAR yang tepat bisa menjadi pembeda antara kerusakan terbatas dan kebakaran besar. Dalam kasus mobil listrik, kecepatan respons dan alat yang sesuai sering kali menjadi faktor paling penting sebelum api menjalar lebih jauh.

Terkait