
Penyusutan harga mobil tetap menjadi salah satu biaya kepemilikan terbesar, dan data terbaru menunjukkan kendaraan listrik serta mobil mewah menanggung beban paling berat. Dalam studi iSeeCars yang menelaah lebih dari 950.000 unit bekas berusia lima tahun yang terjual dari Maret hingga Februari, mobil listrik murni tercatat kehilangan rata-rata 57,2% dari harga transaksi awalnya setelah lima tahun dipakai.
Bagi pembeli mobil baru, angka ini penting karena depresiasi langsung memengaruhi nilai jual kembali, uang muka kendaraan berikutnya, dan simulasi cicilan leasing. Bagi pemburu mobil bekas, justru ada peluang menarik karena model yang nilainya turun paling dalam sering kali menawarkan harga beli yang jauh lebih rendah dibanding saat pertama keluar dari diler.
Mengapa EV dan mobil mewah paling terpukul
Carl Brauer, Executive Analyst iSeeCars, menjelaskan bahwa mobil listrik umumnya punya harga awal lebih mahal dibanding model bensin atau hybrid setara. “Electric vehicles consistently cost more than the equivalent gasoline or hybrid model,” katanya, menambahkan bahwa harga tinggi di awal sering “come back to haunt electric cars on the used market, where buyers aren’t willing to pay the premium.”
Selain harga awal, depresiasi juga dipengaruhi suplai dan permintaan di pasar bekas. Diskon besar, insentif pabrikan, dan potongan dealer bisa membuat nilai sebuah model turun lebih cepat karena harga transaksi barunya sudah tertekan sejak awal.
Model dengan penurunan nilai terbesar
Di posisi paling bawah, Nissan Leaf memimpin daftar dengan penurunan 63,1% atau sekitar $17,743. Di bawahnya ada Infiniti QX80 dengan depresiasi 62,8% dan kehilangan nilai sebesar $52,631, disusul Volkswagen ID.4 yang turun 62,1% atau $28,010.
Tabel berikut merangkum beberapa model dengan depresiasi paling besar menurut iSeeCars:
| Model | Segmen | Depresiasi | Nilai turun |
|---|---|---|---|
| Nissan Leaf | EV | -63,1% | $17,743 |
| Infiniti QX80 | Luxury SUV | -62,8% | $52,631 |
| Volkswagen ID.4 | EV | -62,1% | $28,010 |
| Tesla Model S | EV | -62,0% | $58,907 |
| Land Rover Range Rover | Luxury SUV | -61,7% | $69,856 |
| BMW 7 Series | Luxury Car | -61,6% | $61,141 |
| Tesla Model X | EV | -61,2% | $61,216 |
Dominasi EV dan segmen premium
Dari 25 model dengan depresiasi terburuk, 18 di antaranya berasal dari kelas mewah. Pola ini menunjukkan bahwa harga tinggi tidak selalu berarti nilai tahan lama, terutama jika pasar bekas menilai ulang fitur, merek, dan teknologi dengan lebih ketat.
Tesla Model S, Tesla Model X, Ford Mustang Mach-E, Kia Niro EV, dan Hyundai Kona Electric juga masuk daftar besar penyusut nilai. Ini memperlihatkan bahwa tekanan depresiasi tidak hanya dialami EV merek lama, tetapi juga model populer di kelas menengah atas.
Mengapa mobil mewah ikut turun tajam
Mobil mewah biasanya dibekali fitur canggih dan harga transaksinya sangat tinggi saat baru. Namun, ketika masuk pasar bekas, pembeli sering membandingkan fitur tersebut dengan harga yang jauh lebih murah pada model lain, sehingga premi harga tidak bertahan lama.
Beberapa SUV mewah besar juga mengalami pukulan berat karena biaya kepemilikan mereka tinggi, dari konsumsi energi hingga perawatan. Land Rover Range Rover tercatat turun 61,7% atau $69,856, sementara Audi A8 L kehilangan 57,6% atau $54,824.
Daftar singkat model yang masuk sorotan
- EV dengan penurunan paling besar: Nissan Leaf, Volkswagen ID.4, Tesla Model S, Tesla Model X, Ford Mustang Mach-E.
- Mobil mewah yang paling terdepresiasi: Land Rover Range Rover, BMW 7 Series, Audi A8 L, Cadillac Escalade ESV, Lincoln Navigator/L.
- Model dengan nilai turun paling besar secara nominal: Land Rover Range Rover ($69,856), BMW 7 Series ($61,141), Tesla Model X ($61,216).
Bagi konsumen, data ini bisa menjadi alat negosiasi yang kuat saat membeli mobil bekas. Bagi pembeli baru, angka depresiasi menegaskan bahwa reputasi, permintaan pasar, dan insentif pabrikan kerap lebih menentukan nilai jangka panjang dibanding sekadar label harga dan status merek.









