Impor Truk CBU Menekan Produsen Lokal, Utilisasi Pabrik Cuma 40 Persen

Impor truk CBU dinilai memberi tekanan besar ke industri kendaraan niaga lokal karena membuat persaingan harga di pasar menjadi jauh lebih ketat. Di saat kapasitas produksi nasional sebenarnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik, pabrikan dalam negeri justru menghadapi utilisasi pabrik yang rendah dan penjualan yang melemah.

Kondisi itu ikut tercermin pada pasar mobil nasional yang tengah turun. Gaikindo menyebut arus masuk kendaraan niaga impor utuh atau completely built up membuat produsen lokal sulit menjaga volume produksi, sementara rantai pasok dari komponen hingga layanan purnajual ikut merasakan dampaknya.

Tekanan dari impor truk CBU

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menegaskan bahwa industri otomotif Indonesia pada dasarnya sudah mencapai swasembada. Artinya, produksi lokal mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri tanpa harus bergantung besar pada pasokan dari luar.

Namun, situasi berbeda terjadi di segmen kendaraan komersial. Masuknya truk CBU dari negara lain membuat pasar lokal menghadapi kompetisi yang tidak seimbang karena harga jual produk impor kerap lebih rendah.

Kapasitas produksi besar, pemanfaatan rendah

Gaikindo memaparkan kapasitas produksi industri otomotif nasional berada di kisaran 2,59 juta unit per tahun. Meski begitu, realisasi produksi hanya sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta unit, sedangkan penjualan berada di sekitar 1,2 juta unit per tahun.

Kondisi ini menunjukkan masih ada ruang besar yang belum terserap pasar. Di segmen kendaraan komersial, beberapa produsen bahkan disebut hanya memanfaatkan 40 persen hingga 50 persen kapasitas produksinya.

Berikut gambaran sederhana kondisi yang disorot Gaikindo:

Indikator Angka
Kapasitas produksi nasional 2,59 juta unit per tahun
Realisasi produksi 1,3 juta–1,4 juta unit
Penjualan tahunan sekitar 1,2 juta unit
Produksi komersial yang terpakai 40 persen–50 persen

Harga impor yang lebih agresif

Menurut Kukuh, tekanan utama datang dari truk impor yang diproduksi dalam skala besar di negara asalnya. Skala produksi yang masif membuat harga jual menjadi lebih kompetitif, sehingga produsen lokal semakin sulit bersaing.

Ia menyatakan penurunan penjualan kendaraan komersial sudah berlangsung cukup lama dan berkaitan erat dengan importasi truk dari luar negeri. Dalam penjelasannya, Kukuh menegaskan, “Kita sudah cukup lama berbicara, kenapa terjadi penurunan, sudah jelas penurunannya terjadi karena adanya importasi truk-truk dari negara lain. Sulit untuk bersaing dengan harga yang sangat kompetitif.”

Efek berantai ke industri pendukung

Dampak impor kendaraan niaga tidak berhenti pada pabrikan. Pemasok komponen lokal, bengkel, dan usaha layanan purnajual juga ikut terdampak karena volume kendaraan yang diproduksi dan dijual di dalam negeri menurun.

Kondisi pasar juga makin berat karena daya beli masyarakat masih melemah dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tekanan itu, penjualan kendaraan secara grosir yang sebelumnya berada di kisaran 1,2 juta hingga 1,3 juta unit per tahun turun menjadi sekitar 803 ribu unit pada 2025.

Dampak yang paling terasa di pasar kendaraan niaga

  1. Utilisasi pabrik lokal menurun karena pasar terserap produk impor.
  2. Produsen dalam negeri sulit menandingi harga truk CBU.
  3. Pemasok komponen dan bengkel ikut kehilangan volume bisnis.
  4. Penjualan mobil nasional turut melemah dalam kondisi daya beli yang belum pulih.

Di tengah kondisi tersebut, industri kendaraan niaga domestik menghadapi tantangan ganda: menjaga daya saing harga dan mempertahankan utilisasi produksi. Selama arus impor truk CBU tetap deras, tekanan terhadap penjualan mobil dan ekosistem otomotif nasional berpotensi terus berlanjut.

Exit mobile version