LCGC Anjlok Hampir 30 Persen, Mobil Murah Kian Kehilangan Pembeli Pertama

Penjualan mobil Low Cost Green Car atau LCGC di Indonesia turun 29,9 persen pada periode Januari hingga Maret. Berdasarkan data wholesales Gaikindo, distribusi mobil di segmen ini hanya mencapai 28.831 unit pada kuartal pertama, menandai pelemahan yang cukup tajam di pasar mobil murah.

Penurunan itu memperpanjang tren negatif yang sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, pada 2023 segmen LCGC sempat menembus lebih dari 200 ribu unit, sehingga kontraksi kali ini menunjukkan perubahan perilaku beli konsumen dan tekanan ekonomi yang semakin nyata.

Daya beli tertekan, pasar ikut melambat

Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai inflasi dan suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang menekan penjualan. Ia menjelaskan bahwa pelemahan daya beli masyarakat ikut memengaruhi keputusan pembelian kendaraan, terutama di kelas entry level yang sensitif terhadap perubahan cicilan dan harga.

Kondisi ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan proporsi kelas menengah di Indonesia turun dari 21,45 persen pada 2019 menjadi 17,13 persen pada Oktober 2024. Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai penurunan itu mencerminkan banyak keluarga kelas menengah yang turun kelas, sementara kenaikan gaji tidak mampu mengejar kenaikan harga mobil.

Harga LCGC makin jauh dari target awal

Segmen LCGC awalnya dikenal sebagai pintu masuk kepemilikan mobil baru bagi pembeli pertama. Namun, banyak model kini tidak lagi berada di bawah plafon Rp150 juta karena penyesuaian regulasi emisi dan penambahan fitur keselamatan, sehingga banderolnya naik ke kisaran Rp180 juta hingga Rp200 juta.

Kenaikan harga tersebut mengurangi daya tarik LCGC di mata konsumen yang membandingkannya dengan mobil lain di kelas lebih tinggi. Di saat yang sama, konsumen juga makin kritis terhadap nilai yang didapat, termasuk fitur keselamatan, efisiensi bahan bakar, dan reputasi teknologi kendaraan.

Tantangan baru dari mobil listrik murah

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyebut kehadiran mobil listrik murah dengan harga sekitar Rp200 jutaan sebagai tantangan serius bagi LCGC. Selisih harga yang dianggap tipis membuat sebagian konsumen mulai melirik EV sebagai alternatif yang dinilai lebih modern dan sesuai dengan tren mobilitas baru.

Perubahan minat ini penting karena pasar LCGC selama ini banyak bergantung pada pembeli pertama dan keluarga muda. Jika segmen tersebut bergeser ke mobil listrik atau kendaraan lain yang menawarkan teknologi lebih maju, maka pemulihan penjualan LCGC bisa berjalan lebih lambat dari perkiraan.

Faktor yang menekan penjualan LCGC

  1. Inflasi yang menekan daya beli rumah tangga.
  2. Suku bunga tinggi yang membuat cicilan kredit lebih berat.
  3. Harga mobil LCGC yang naik ke kisaran Rp180 juta hingga Rp200 juta.
  4. Penyempitan kelas menengah yang mengurangi basis pembeli potensial.
  5. Kompetisi dari mobil listrik murah dengan harga sekitar Rp200 jutaan.
  6. Pengetatan kredit oleh perusahaan pembiayaan yang menyulitkan pembelian via cicilan.

Tabel ringkas tren penjualan LCGC

PeriodeKondisi penjualan
2023Menembus lebih dari 200 ribu unit
2024Mengalami penurunan
Januari-Maret 202628.831 unit, turun 29,9 persen

Di tengah tekanan harga, suku bunga, dan persaingan teknologi, LCGC kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan posisinya sebagai mobil terjangkau bagi masyarakat luas. Arah pasar ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan produsen menjaga harga tetap kompetitif sambil menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen yang makin selektif.

Terkait