Pajak Tinggi Bikin Alphard Indonesia Dua Kali Lebih Mahal, Ada Apa Dengan Regulasi Kita?

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, menyoroti harga Toyota Alphard di Indonesia yang dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan pasar Jepang. Ia menyebut selisihnya bisa mencapai dua kali lipat, dan perbedaan itu diduga kuat berkaitan dengan tingginya beban pajak kendaraan di dalam negeri.

Di Jepang, Toyota Alphard dipasarkan mulai 5,1 juta yen atau sekitar Rp 540 jutaan. Di Indonesia, MPV premium yang sama dijual mulai Rp 1,2 miliar, meski daya beli masyarakat Indonesia rata-rata lebih rendah dibandingkan masyarakat Jepang.

Selisih Harga yang Dinilai Tidak Wajar

Agus Purwadi menilai kondisi ini janggal karena mobil yang sama justru lebih mahal di Indonesia, padahal pendapatan rata-rata masyarakat Jepang lebih tinggi. Ia menyampaikan bahwa alasan lokasi produksi tidak sepenuhnya bisa menjelaskan disparitas harga itu.

“Aneh kan? Orang Jepang income-nya lebih tinggi dari kita, tapi beli Alphard yang sama harganya lebih murah dari kita. Mungkin argumentasinya karena Alphard produksi sana, tapi nggak seperti itu juga,” ujar Agus Purwadi, pengamat otomotif senior ITB.

Perbedaan harga ini juga memunculkan pertanyaan soal struktur biaya yang membentuk harga jual kendaraan di Indonesia. Dalam banyak kasus, harga mobil tidak hanya ditentukan oleh biaya produksi dan distribusi, tetapi juga oleh berbagai pungutan negara yang menempel di setiap tahap pemasaran.

Pajak Jadi Komponen Besar dalam Harga Mobil

Menurut Agus, beban pajak di Indonesia saat ini menyumbang sekitar 40 persen dari total harga jual kendaraan. Angka itu dinilai terlalu tinggi jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki kondisi ekonomi serupa.

Ia menilai kisaran ideal seharusnya berada di level 15 hingga 20 persen agar harga mobil tetap masuk akal bagi konsumen dan tidak menekan pasar otomotif secara berlebihan. Beban pajak yang tinggi, menurut pandangan tersebut, ikut membuat mobil keluarga kelas premium seperti Alphard terasa semakin jauh dari jangkauan banyak orang.

Berikut gambaran sederhana perbedaan harga yang disorot:

  1. Harga Toyota Alphard di Jepang: mulai 5,1 juta yen atau sekitar Rp 540 jutaan.
  2. Harga Toyota Alphard di Indonesia: mulai Rp 1,2 miliar.
  3. Beban pajak kendaraan di Indonesia: sekitar 40 persen dari total harga jual.
  4. Kisaran ideal pajak menurut Agus: sekitar 15 persen hingga 20 persen.

Bandingkan dengan Cara Jepang Memajaki Kendaraan

Agus juga menilai kebijakan Jepang lebih rasional karena tidak membebani alat yang dipakai untuk mendukung produktivitas. Ia menyebut pemerintah Jepang lebih fokus mengenakan pajak pada aktivitas ekonomi, bukan pada barang yang dipakai untuk menjalankan aktivitas tersebut.

“Padahal Jepang transportasi publiknya luar biasa bagus. Jadi artinya beli mobil memang mahal, harus orang kaya. Tapi mereka nggak gila (soal pajak kendaraan), mereka tetap rasional,” tutur Agus Purwadi.

Menurutnya, pendekatan seperti itu membuat sistem perpajakan lebih mendukung perputaran ekonomi. Ketika biaya kepemilikan kendaraan terlalu tinggi, daya beli bisa tertahan dan pasar otomotif ikut kehilangan momentum.

Mengapa Harga Mobil Bisa Berbeda Jauh

Perbedaan harga antara Indonesia dan Jepang tidak semata-mata dipicu oleh nilai tukar atau ongkos kirim. Struktur pajak, kebijakan impor, beban administrasi, serta biaya distribusi juga ikut memberi pengaruh besar pada harga akhir yang dibayar konsumen.

Kalau dilihat dari data yang disorot Agus, muncul kesan bahwa pasar domestik justru menanggung beban lebih berat untuk model yang sama. Situasi makin menarik karena ada mobil produksi Indonesia yang dikabarkan bisa dijual lebih murah saat diekspor ke Thailand, sehingga memunculkan dugaan bahwa struktur harga di dalam negeri memang tidak efisien.

Pada akhirnya, isu harga Toyota Alphard menjadi contoh konkret bagaimana kebijakan fiskal dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Selama beban pajak kendaraan tetap tinggi, selisih harga mobil premium di Indonesia dengan pasar negara asalnya berpotensi tetap lebar dan terus menjadi sorotan publik.

Exit mobile version