Penjualan Toyota Veloz bermesin bensin disebut sudah disetop sejak Veloz HEV mulai dijual, dan langkah ini menandai pergeseran besar di lini low MPV Toyota. Dalam praktiknya, Veloz kini diposisikan hanya sebagai model hybrid, sementara konsumen yang masih mencari Veloz dengan mesin bensin diarahkan ke Avanza.
Perubahan ini menjadi sorotan karena Veloz selama ini dikenal sebagai saudara dekat Avanza dengan posisi yang lebih mewah berkat kelengkapan fitur yang lebih tinggi. Di segmen LMPV, keduanya sama-sama penting bagi Toyota, tetapi kehadiran Veloz HEV memberi arah baru pada strategi produk Toyota di Indonesia.
Veloz HEV mendapat sambutan kuat
Kehadiran Veloz HEV langsung memberi dampak pada pasar. Model ini disebut berhasil terjual sekitar 2 ribu unit pada bulan lalu, yang menunjukkan minat konsumen terhadap mobil hybrid murah masih cukup besar.
Toyota sebelumnya menghadirkan Veloz dalam satu varian ramah lingkungan, lalu memperluas pilihan pada Februari, tepatnya saat IIMS 2026. Pada momen itu, penjualan Veloz HEV bisa dimulai lebih luas, bersamaan dengan berhentinya penjualan Veloz mesin bensin.
Langkah tersebut membuat Veloz masuk ke fase baru elektrifikasi. Dengan konfigurasi yang tersisa hanya hibrida, posisi model ini menjadi lebih jelas sebagai penawaran elektrifikasi di kelas LMPV.
Veloz bensin tak lagi diproduksi
Sejak Maret lalu, tidak ada lagi Veloz mesin bensin yang diproduksi. Meski sempat terlihat produksi varian AT masih berjalan, model itu sudah tidak muncul lagi di laman resmi Toyota Astra Motor, dan yang tersisa hanya Veloz HEV.
Perubahan ini memperkuat dugaan bahwa Toyota memang menata ulang portofolio produknya. Saat model hybrid mendapat ruang lebih luas, model bensin justru ditarik dari lini utama Veloz.
Di sisi lain, data penjualan juga menunjukkan tren penurunan untuk versi bensin hingga Februari. Hal ini memberi gambaran bahwa keputusan penghentian penjualan tidak datang tiba-tiba, melainkan beriringan dengan menurunnya permintaan.
Avanza jadi pengganti untuk konsumen mesin bensin
Bagi konsumen yang masih mencari Veloz bermesin bensin, Toyota menyalurkan kebutuhan itu ke Avanza. Keputusan ini masuk akal karena kedua mobil tersebut merupakan “mobil kembar” yang berbagi dasar yang sama, meski Veloz tetap diposisikan lebih premium.
Perbedaan utama antara keduanya ada pada kelengkapan fitur. Karena itu, Veloz selama ini dianggap sebagai versi yang lebih mewah, sementara Avanza tetap menjadi opsi yang lebih sederhana dan relevan untuk pembeli yang fokus pada mesin bensin.
Strategi ini juga menjaga Toyota tetap kuat di segmen LMPV. Dengan Avanza sebagai alternatif, konsumen yang belum ingin beralih ke hybrid tetap punya pilihan di jaringan produk Toyota.
Penjualan Februari masih kuat, lalu berpotensi melandai
Baik Avanza maupun Veloz disebut sama-sama mencatat hasil penjualan yang memuaskan pada Februari. Namun, kondisi itu berubah saat penjualan Veloz bensin dihentikan, karena pada bulan Maret penjualannya disebut mengalami penurunan.
Belum ada rincian angka penurunan pada artikel referensi, tetapi arahnya cukup jelas. Berkurangnya varian bermesin bensin dan fokus baru pada Veloz HEV berpotensi mengubah komposisi penjualan Toyota di segmen ini.
Bagi pasar, langkah Toyota memperkuat Veloz HEV menunjukkan bahwa mobil hybrid mulai mendapat tempat lebih besar di Indonesia. Sementara itu, Veloz bensin tampaknya sudah resmi ditinggalkan dari panggung utama dan perannya kini digantikan oleh Avanza di jalur mesin konvensional.







