Changan Automobile bersiap memasuki fase baru dalam pasar kendaraan listrik dengan rencana penjualan massal mobil listrik berbaterai natrium pada pertengahan 2026. Langkah ini menarik perhatian karena bahan utama baterai tidak lagi bergantung pada litium, melainkan natrium yang lebih melimpah dan dinilai bisa membantu menekan biaya produksi.
Rencana tersebut juga menandai upaya industri otomotif untuk mencari alternatif baterai yang lebih aman dan lebih terjangkau. Changan melihat teknologi ini sebagai bagian dari strategi menghadirkan EV yang lebih cocok untuk pasar kendaraan hemat biaya, tanpa sepenuhnya meninggalkan teknologi baterai yang sudah ada.
Uji coba di kondisi ekstrem
Sebelum masuk ke tahap penjualan massal, Changan telah menguji teknologi ini di Yakeshi, Mongolia Dalam, pada Februari lalu. Dalam demonstrasi itu, model SUV dan coupe berbaterai natrium berhasil melintasi jalur es dan salju ekstrem dengan suhu mencapai -30 derajat Celcius.
Hasil uji tersebut menjadi salah satu bukti awal bahwa baterai natrium memiliki daya tahan menarik di iklim dingin. Bagi pasar otomotif, kemampuan seperti ini penting karena performa baterai sering menjadi perhatian utama saat kendaraan listrik digunakan di wilayah bersuhu rendah.
Calvin Quek, direktur eksekutif bidang keuangan berkelanjutan di Oxford Sustainable Finance Group, menilai uji itu punya makna lebih luas bagi industri. “Saya pikir ini menandai momen terobosan bagi teknologi baterai natrium-ion di kendaraan listrik,” ujarnya.
Peran CATL dan peningkatan kepadatan energi
Changan tidak bergerak sendiri dalam pengembangan ini. Produsen mobil asal Chongqing itu bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL) untuk menyuplai komponen baterai natrium yang dibutuhkan.
CTO CATL, Gao Huan, mengatakan pada Selasa di Beijing bahwa kepadatan energi baterai natrium telah meningkat sebesar 50 persen. Ia juga menegaskan pandangannya melalui pernyataan, “Era natrium dan litium bersinar bersama telah tiba.”
Pemasok tersebut menargetkan produksi massal komponen baterai natrium dimulai pada kuartal keempat 2026. Target itu disusun sebagai bagian dari strategi manajemen risiko terhadap fluktuasi harga litium yang selama ini memengaruhi rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Keunggulan dan batasan teknologi natrium
Meski menjanjikan, baterai natrium belum sepenuhnya menggantikan baterai litium dalam hal jarak tempuh. Data yang disebut dalam referensi menyebutkan daya jelajahnya sekitar 350 kilometer, sehingga masih lebih pendek dibanding baterai litium pada banyak model EV saat ini.
Namun, teknologi ini dipandang punya nilai lebih pada penggunaan di cuaca dingin dan segmen mobil listrik berbiaya lebih rendah. Sejumlah analis menilai natrium dapat mengisi ceruk pasar yang membutuhkan kendaraan listrik terjangkau dengan karakter pemakaian yang tidak selalu menuntut jarak tempuh sangat jauh.
James Frith, Kepala Volta Energy Technologies, mengatakan minat terhadap sel ion natrium terus meningkat untuk kendaraan listrik maupun penyimpanan energi stasioner. Sementara itu, Badan Energi Internasional atau IEA menyebut, “2026 bisa menjadi tahun yang menentukan.”
Persaingan dengan LFP masih ketat
Di sisi lain, baterai natrium masih menghadapi tantangan besar dari teknologi lithium iron phosphate atau LFP yang terus berkembang. Sam Adham dari CRU Group menilai kemajuan baterai LFP tetap menjadi target yang bergerak bagi komersialisasi natrium.
Artinya, saat teknologi natrium berkembang, standar efisiensi biaya pada baterai LFP juga ikut naik. Kondisi ini membuat sebagian pemain industri berhitung ulang sebelum melanjutkan investasi besar ke arah natrium.
Sejumlah startup bahkan telah menghentikan pengembangan karena kesulitan mencapai efisiensi biaya yang lebih baik daripada LFP. Spencer Gore, co-founder Bedrock Materials, menyebut, “Bahkan dalam skenario terbaik, produknya tidak jauh lebih baik daripada lithium besi fosfat saat ini.”
Prospek jangka panjang tetap terbuka
Walau kompetisi ketat, para analis masih melihat ruang tumbuh bagi baterai natrium, terutama karena kebutuhan penyimpanan energi terbarukan terus meningkat. Teknologi ini dinilai belum bisa diabaikan karena menawarkan jalur diversifikasi yang relevan dalam ekosistem energi masa depan.
Evan Hartley, analis senior di Benchmark Mineral, menegaskan, “Ini benar-benar merupakan teknologi baru yang tidak dapat diabaikan.” Dengan dukungan produsen besar seperti Changan dan CATL, baterai natrium kini mulai bergerak dari tahap uji teknis menuju peluang komersial yang lebih nyata di pasar kendaraan listrik.






