
Penjualan BYD di Jepang melonjak tajam meski insentif kendaraan listrik di negara itu dipangkas besar. Kenaikan ini membuat merek asal China tersebut mulai mencuri perhatian di pasar otomotif Negeri Sakura yang selama ini kuat dikuasai pemain lokal.
Data Japan Automobile Importers Association (JAIA) yang dikutip CarNewsChina menunjukkan BYD mencatat 625 unit penjualan pada Maret. Angka itu naik 91,1 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya.
Lonjakan ini menjadi sorotan karena terjadi saat subsidi mobil listrik di Jepang justru turun drastis. Bantuan yang sebelumnya mencapai 400.000 yen disebut merosot menjadi 150.000 yen per kendaraan.
Kondisi itu biasanya menekan minat beli konsumen. Namun, BYD justru bergerak ke arah sebaliknya dan tetap memasang target tinggi di pasar Jepang.
Sepanjang kuartal pertama, distribusi BYD di Jepang tercatat menembus 1.142 unit. Pertumbuhan lebih dari 100 persen itu menunjukkan ekspansi perusahaan mulai menghasilkan dampak nyata, meski skala bisnisnya di Jepang masih relatif kecil.
Dari total penjualan 407.564 unit pada bulan yang sama, posisi BYD belum bisa disebut dominan. Pangsa pasarnya di segmen energi baru baru menyentuh 3,7 persen, sehingga ruang tumbuhnya masih sangat besar.
Naik saat pasar menantang
Kenaikan penjualan BYD menjadi menarik karena berlangsung di tengah tekanan yang tidak ringan. Selain pemotongan subsidi, pasar Jepang juga dikenal selektif terhadap merek asing, terutama di segmen kendaraan penumpang.
Dalam konteks itu, pertumbuhan BYD memberi sinyal bahwa konsumen Jepang mulai membuka ruang bagi merek elektrifikasi dari China. Perubahan ini belum mengubah peta pasar secara total, tetapi cukup untuk membuat persaingan semakin ketat.
BYD juga tidak datang tanpa perencanaan. Perusahaan itu disebut menargetkan penjualan hingga 10.000 unit di Jepang pada tahun ini, sebuah target yang agresif untuk ukuran pemain yang masih membangun pijakan.
Ekspor jadi tumpuan baru
Dorongan ekspansi ke luar negeri tidak lepas dari situasi di pasar domestik China. Persaingan harga yang makin keras setelah penghapusan subsidi membuat produsen otomotif, termasuk BYD, harus mencari pertumbuhan baru dari pasar ekspor.
Data China EV DataTracker menunjukkan penjualan global BYD mencapai 688.939 unit. Capaian internasional itu disebut sudah menyumbang lebih dari separuh total penjualan perusahaan.
Fakta tersebut menegaskan bahwa pasar luar negeri kini bukan lagi pelengkap. Ekspor telah berubah menjadi salah satu penopang utama bisnis BYD di tengah kompetisi yang semakin brutal di negara asalnya.
Keberhasilan di Jepang karena itu punya arti lebih luas dari sekadar kenaikan bulanan. Jepang menjadi salah satu bukti bahwa strategi ekspansi global BYD mulai menemukan jalur pertumbuhan yang lebih stabil.
Andalkan portofolio dan model murah
Saat ini BYD telah menawarkan lima model untuk konsumen Jepang. Lini produk itu mencakup Sealion 7, Atto 3, Dolphin, dan Seal, dengan empat model berbasis baterai murni dan satu model plug-in hybrid.
Susunan produk tersebut menunjukkan BYD tidak hanya menjual satu jenis kendaraan. Mereka mencoba membangun kehadiran lewat beberapa pilihan model agar dapat menjangkau kebutuhan konsumen yang berbeda.
Namun, daya dobrak terbesar justru diperkirakan datang dari model yang belum diluncurkan. BYD menyiapkan kei car listrik bernama Racco untuk memperkuat posisi di pasar Jepang.
Model ini disebut akan dijual dengan harga sekitar Rp270 jutaan. Nilai itu dinilai penting karena kei car merupakan salah satu segmen paling populer di Jepang berkat dimensi ringkas dan fungsi yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas harian.
Jika strategi harga berjalan sesuai rencana, Racco bisa menjadi alat utama BYD untuk memperluas jangkauan pasar. Produk murah di segmen favorit konsumen berpotensi memperbesar tekanan pada merek-merek yang selama ini lebih mapan.
Masuk ke segmen kei car juga memperlihatkan bahwa BYD tidak hanya mengandalkan status sebagai produsen mobil listrik besar. Perusahaan itu mulai menyesuaikan produk dengan karakter pasar Jepang yang unik dan sangat spesifik.
Karena itu, kenaikan penjualan 91,1 persen bukan hanya soal angka bulanan. Di baliknya ada perubahan strategi yang lebih jelas, yakni menjadikan Jepang sebagai salah satu arena penting dalam dorongan ekspor BYD, dengan kei car listrik murah sebagai senjata berikutnya.
Source: www.suara.com








