BYD Kuasai Pasar EV Nasional, Pajak Baru Bisa Ubah Peta Persaingan

Pasar kendaraan listrik nasional terus menunjukkan pertumbuhan yang menonjol, dan BYD menjadi salah satu merek yang paling cepat memanfaatkan momentum itu. Sejak masuk ke Indonesia pada 2023, pabrikan asal Tiongkok tersebut agresif menawarkan lini produk yang mencakup SUV, MPV, hingga mobil ringkas seperti Atto 1.

Dalam perkembangan terbaru, BYD tercatat menjadi penyumbang terbesar di pasar EV nasional, seiring penetrasi kendaraan listrik yang disebut telah mencapai 15 persen hingga Maret 2026. Di sisi lain, pencapaian itu juga memperlihatkan bahwa persaingan di segmen EV kini tidak lagi sekadar soal teknologi, tetapi juga soal strategi distribusi, harga, dan kedekatan produk dengan kebutuhan konsumen.

Dominasi penjualan BYD di pasar EV

Catatan BYD di Indonesia terbilang cepat menanjak karena pabrikan ini langsung membangun kehadiran yang luas di pasar. Pada tahun lalu, BYD disebut menguasai sekitar 52 persen pangsa pasar kendaraan listrik di Tanah Air.

Secara volume, perusahaan menyalurkan sekitar 54.000 unit kendaraan ke konsumen sepanjang tahun itu. Atto 1 menjadi model paling menonjol dengan penjualan mencapai 22.000 unit setelah diperkenalkan di GIIAS 2025.

Ekspansi yang ikut menopang pertumbuhan

Kinerja penjualan BYD tidak berdiri sendiri karena perusahaan juga terus memperluas jaringan pendukungnya di Indonesia. Langkah itu mencakup penambahan dealer di berbagai kota, pelengkapan lini kendaraan dan teknologi, serta penyelesaian pembangunan pabrik di Subang, Jawa Barat.

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa BYD tidak hanya mengejar penjualan jangka pendek, tetapi juga membangun basis usaha yang lebih dalam. Kehadiran jaringan yang lebih dekat dengan konsumen penting di pasar EV yang masih berkembang dan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap layanan purnajual.

Luther T Panjaitan, Head of PR & Government BYD Indonesia, mengatakan penjualan BYD naik 65 persen per Maret 2026 dengan pangsa pasar 41 persen. Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi Forum Wartawan Industri bertajuk “Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Menggenjot Adopsi EV” di Jakarta pada 22 April 2026.

Dukungan pasar dan produk yang sesuai kebutuhan

Luther juga menilai capaian tersebut sejalan dengan tren global, di mana BYD merajai pasar EV selama empat tahun berturut-turut. Menurut dia, pertumbuhan di Indonesia ikut didorong oleh dukungan pemerintah serta kehadiran produk yang sesuai dengan selera pasar, baik dari sisi fungsi maupun harga.

Faktor ini penting karena pertumbuhan EV nasional tidak lepas dari perubahan perilaku konsumen. Permintaan meningkat ketika publik melihat mobil listrik bukan lagi sebagai produk niche, melainkan pilihan yang semakin masuk akal untuk kebutuhan harian, terutama jika didukung pilihan model yang beragam.

Aturan pajak baru mulai membentuk peta persaingan

Di tengah pertumbuhan pasar, pemerintah justru merilis aturan baru melalui Permendagri No. 11 Tahun 2026. Dalam aturan itu, mobil listrik tidak lagi otomatis bebas pajak seperti sebelumnya karena PKB dan BBNKB akan dimasukkan sebagai wajib pajak dan diatur oleh masing-masing pemerintah daerah.

Pemda juga disebut disarankan menerapkan tarif pajak progresif untuk EV agar momentum penjualan tetap terjaga. Skemanya, BEV dengan harga di atas Rp500 juta bisa dikenakan tarif tinggi, sementara model di bawah Rp300 juta diharapkan mendapat tarif rendah.

Kebijakan ini menjadi penting bagi produsen seperti BYD karena harga dan struktur biaya masih menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian. Jika pengaturan pajak daerah diterapkan secara berbeda-beda, dinamika pasar EV bisa berubah, terutama di segmen yang sensitif terhadap harga.

Hybrid masih belum mendapat kepastian yang sama

Di sisi lain, pemerintah belum memberi aturan yang jelas untuk kendaraan elektrifikasi di segmen hybrid. Saat ini, pembeli PHEV hanya dikenakan PPnBM sebesar 3 persen, sama seperti kendaraan hybrid lainnya.

Kondisi itu membuat PHEV masih berada di area transisi yang menarik karena menawarkan dua manfaat sekaligus. Mobil jenis ini bisa dipakai dalam mode listrik murni untuk penggunaan dalam kota, tetapi tetap memiliki mesin pembakaran internal untuk perjalanan jarak jauh.

Bagi pasar Indonesia, karakter PHEV dinilai relevan untuk menjawab ketimpangan infrastruktur antara Jawa dan luar Jawa. Dengan opsi tersebut, konsumen tidak sepenuhnya bergantung pada SPKLU saat baterai habis, sehingga transisi menuju elektrifikasi bisa berlangsung lebih fleksibel di tengah pasar yang masih terus dibentuk.

Exit mobile version