Dua merek mobil asal China mulai mengincar segmen yang sangat khas di Jepang: kei car. Chery disebut siap masuk lewat merek Emta, sementara BYD sudah lebih dulu menyiapkan Racco untuk pasar yang selama ini dikuasai produsen lokal.
Langkah ini menarik karena Jepang bukan pasar yang mudah ditembus. Di sana ada Toyota, Honda, Mitsubishi, dan Suzuki yang sudah lama bermain kuat, sementara regulasi dan selera konsumen juga terkenal ketat.
Chery dan BYD sama-sama melirik celah yang sama
BYD sudah menghadirkan Racco beberapa bulan lalu dan model itu disebut mendapat sambutan baik di Jepang. Namun, penjualannya masih dibayangi pemotongan tarif untuk mobil impor, karena unitnya tetap didatangkan dari China.
Chery memilih jalur berbeda dengan membawa produk Emta, bukan model QQ yang selama ini dikenal sebagai mobil listrik mungil andalan mereka. Keputusan itu menunjukkan Chery tidak sekadar ikut tren, tetapi mencoba menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar Jepang.
Emta disiapkan khusus untuk Jepang
Emta bermarkas di Singapura dan berada di bawah Electric Mobility Technologies atau EMT. Perusahaan ini merupakan usaha patungan dengan Chery, dan ikut melibatkan Gotion, Autobacs Seven, serta Jiangsu Yueda Automobile Group.
Chery menyuplai teknologi bantuan pengemudi, arsitektur, dan sistem penggerak listrik. Gotion memasok baterai, Autobacs menyediakan suku cadang, sedangkan Yueda bertugas merakit mobilnya.
Mobil itu disebut dirancang agar memenuhi standar pasar Jepang. Penjualannya baru dimulai tahun depan, dan harga resminya belum diumumkan.
Bentuknya kecil, tapi bukan QQ persis
Secara tampilan, Emta disebut mirip QQ Ice Cream versi lima pintu. Ukurannya sedikit lebih besar, tetapi tetap dibuat kompak agar mudah diparkir di ruang sempit dan tetap tampil imut.
Chery sebenarnya juga punya model BEV lain bernama QQ, atau dikenal sebagai model Q di Indonesia. Namun, dimensinya belum cukup kecil untuk masuk kategori kei car, sehingga posisinya lebih dekat ke hatchback.
Pilihan itu mengindikasikan Chery membaca pasar Jepang dengan hati-hati. Untuk segmen kei car, ukuran memang penting, tetapi konsumen juga tetap mencari desain yang menarik dan praktis.
Persaingan di kandang lawan tidak membuat mundur
Masuk ke Jepang berarti Chery dan BYD harus berhadapan langsung dengan merek-merek besar di markasnya sendiri. Mereka juga sadar ada batasan impor yang bisa memengaruhi langkah bisnis di sana.
Meski begitu, kedua merek China ini justru terlihat semakin agresif membawa produk andalan ke Jepang. Mereka melihat ekspor sebagai jalan penting untuk membantu penjualan di tengah tekanan di pasar domestik.
Di sisi lain, kei car tetap menjadi segmen yang menjanjikan karena pasar jenis ini masih laris terjual sampai sekarang. Namun, merek China tidak bisa meremehkan aturan main di sana, karena mobil yang ditawarkan harus berkualitas tinggi sekaligus tetap terjangkau.
Tantangan berikutnya ada pada penerimaan pasar
Keberhasilan Chery dan BYD di segmen ini akan sangat bergantung pada kemampuan mereka membaca selera konsumen Jepang. Jika produk yang ditawarkan sesuai, dua nama besar asal China itu berpeluang membuat persaingan kei car di Jepang jadi jauh lebih panas.
Untuk saat ini, yang sudah pasti adalah keduanya sama-sama menyiapkan langkah serius. Jepang bukan lagi sekadar pasar tujuan ekspor biasa, tetapi arena baru yang akan menguji seberapa jauh merek China bisa bertahan di segmen paling khas milik negeri Sakura.
Source: ridertua.com