Biofuel Dipasang Sebagai Jembatan Ke EV, Tantangan Infrastruktur Masih Menganga

Author: Qoo Media

Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF menilai biodiesel dan bioetanol dapat menjadi jembatan penting dalam transisi energi transportasi. Kedua bahan bakar nabati itu dianggap mampu mengurangi ketergantungan pada impor BBM sebelum kendaraan listrik berbasis baterai atau EV digunakan secara lebih luas.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho menyebut biofuel bisa menjadi bridging fuel menuju EV. Ia menilai pendekatan ini relevan karena kebutuhan energi transportasi di Indonesia belum bisa dipenuhi hanya dengan mengandalkan kendaraan listrik dalam waktu singkat.

Biofuel dinilai paling relevan di daerah yang belum siap EV

Andry menekankan bahwa peran biodiesel dan bioetanol akan terasa besar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Di daerah-daerah tersebut, infrastruktur pendukung kendaraan listrik belum tersedia merata, sehingga masyarakat masih memerlukan alternatif yang lebih mudah diakses.

Dalam situasi itu, biofuel dinilai bisa membantu menekan konsumsi BBM fosil tanpa memaksa semua wilayah berpindah ke EV secara serentak. Menurut INDEF, kebutuhan transportasi di berbagai daerah juga tidak sama, sehingga transisi energi perlu berjalan dengan dua jalur yang saling melengkapi.

“Di beberapa wilayah masih dibutuhkan (BBM), sembari kita bisa menunggu infrastruktur dari EV-nya tercipta di wilayah tersebut,” kata Andry. Ia menambahkan bahwa biofuel dan EV sebaiknya didorong berdampingan agar transisi berlangsung lebih realistis dan tidak menimbulkan hambatan di lapangan.

Mandatori B50 mulai disiapkan untuk semua sektor

Di sisi kebijakan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM menyampaikan mandatori biodiesel 50 persen, atau B50, akan diterapkan serentak untuk semua sektor mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini menunjukkan bahwa biodiesel tetap menjadi bagian penting dari strategi energi nasional di tengah dorongan menuju elektrifikasi.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan B50 masih menjalani uji jalan untuk sektor otomotif. Uji jalan itu dimulai sejak 9 Desember 2025 dan melibatkan 9 unit kendaraan.

Setelah uji jalan selesai, pemerintah akan melakukan pengecekan kondisi mesin untuk melihat dampak penggunaan bahan bakar tersebut. Uji jalan dan pemeriksaan mesin untuk sektor otomotif ditargetkan rampung pada Juni 2026, sebelum kebijakan diterapkan lebih luas.

Eniya juga menyampaikan hasil sementara menunjukkan kualitas bahan bakar B50 telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan. Temuan ini menjadi sinyal awal bahwa skema campuran biodiesel yang lebih tinggi masih memungkinkan diterapkan, meski proses pengujian tetap harus diselesaikan.

Bioetanol masih terbatas pada campuran E5

Selain biodiesel, pemerintah juga masih mendorong penggunaan bioetanol pada mesin bensin. Namun, saat ini BBM untuk mesin bensin berbasis bioetanol masih berada pada standar E5 atau campuran etanol 5 persen.

Produk itu sudah tersedia di SPBU Pertamina dengan nama Pertamax Green. Kehadiran produk tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan bioetanol sudah mulai masuk ke pasar, meski porsinya masih terbatas dibanding kebutuhan transisi energi yang lebih besar.

Kondisi ini membuat biofuel tidak hanya dipandang sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai solusi antara yang bisa dipakai sambil menunggu kesiapan EV. Di saat infrastruktur pengisian kendaraan listrik belum merata, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau, biodiesel dan bioetanol masih punya peran operasional yang jelas.

Transisi energi dinilai perlu realistis

Pandangan INDEF memperlihatkan bahwa transisi kendaraan di Indonesia tidak harus berlangsung dalam satu lompatan besar. Ada kebutuhan untuk menurunkan emisi dan ketergantungan BBM, tetapi pada saat yang sama masih ada wilayah yang belum siap menerima perubahan teknologi secara penuh.

Karena itu, biofuel dinilai bisa mengisi ruang transisi tersebut dengan lebih fleksibel. Di saat EV terus didorong melalui pembangunan infrastruktur, biodiesel dan bioetanol tetap bisa membantu menjaga pasokan energi transportasi sekaligus mengurangi tekanan pada impor BBM.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru