Biaya pengisian kendaraan listrik kian naik, namun banyak pemilik EV belum memaksimalkan cara untuk menekan tagihan. Temuan terbaru JD Power menunjukkan hanya 12% responden yang memakai program smart charging saat mengisi daya di rumah, padahal 69% di antaranya sudah tahu fitur itu ada.
Kondisi ini menyoroti jarak antara pengetahuan dan kebiasaan penggunaan. Di saat pengisian listrik menjadi komponen biaya penting bagi pemilik EV, riset tersebut memperlihatkan bahwa peluang penghematan masih sering terlewatkan.
Fitur hemat biaya yang belum banyak dipakai
Smart charging bekerja dengan menjadwalkan pengisian pada jam-jam off-peak ketika permintaan listrik lebih rendah. Charger yang terhubung ke Wi-Fi dapat mengatur siklus pengisian agar mengikuti periode tersebut, sehingga pemilik kendaraan bisa membayar lebih murah.
JD Power menilai cara ini tidak hanya menguntungkan pengguna, tetapi juga membantu perusahaan listrik menjaga beban permintaan agar lebih stabil pada jam sepi. Meski manfaatnya jelas, adopsinya masih rendah dibandingkan tingkat kesadaran yang sudah cukup tinggi di kalangan pemilik EV.
Bagi pemilik yang belum memiliki home charger dengan fitur pintar, penghematan tetap bisa dilakukan dengan menjadwalkan pengisian di luar jam sibuk. JD Power mencatat pengemudi yang memindahkan pengisian ke tarif off-peak dapat menghemat rata-rata $6 setiap 30 hari, atau sekitar $73 per tahun.
Kebiasaan pengisian masih belum konsisten
Data survei menunjukkan hanya 38% pemilik EV yang selalu menjadwalkan pengisian kendaraan mereka. Sebaliknya, 46% responden mengaku tidak pernah melakukannya, sehingga potensi penghematan bulanan itu sering tidak dimanfaatkan.
Waktu terbaik untuk mengisi daya memang berbeda-beda tergantung lokasi dan penyedia listrik. Namun, pengisian pada malam hari kerap lebih murah daripada siang hari, terutama bagi pelanggan dengan tarif fleksibel yang memakai skema harga berdasarkan waktu penggunaan.
Perbedaan kepuasan di tiap wilayah
JD Power juga menelusuri kepuasan pemilik EV terhadap biaya pengisian yang mereka hadapi sehari-hari. Hasilnya menunjukkan tingkat kepuasan berbeda antara wilayah dan jenis charger, dengan area berbiaya tinggi cenderung memiliki lebih banyak pemilik yang tidak puas.
Pemilik EV di New England menghadapi biaya pengisian tertinggi sekaligus tingkat kepuasan terendah terhadap biaya tersebut. Sebaliknya, pengemudi di wilayah Mountain menikmati biaya rata-rata yang paling rendah dan melaporkan kepuasan yang lebih baik.
Jenis charger ikut memengaruhi pengalaman
Riset itu juga membandingkan tingkat kepuasan berdasarkan level charger di rumah. Pemilik charger Level 2 tercatat lebih puas dibandingkan pengguna Level 1, meski charger Level 2 justru mengalami lebih banyak gangguan rata-rata karena sistemnya lebih kompleks.
Merek charger juga berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pengguna. Tesla mencatat tingkat kepuasan tertinggi, disusul Emporia di posisi kedua dan ClipperCreek di posisi ketiga.
Temuan ini menunjukkan bahwa penghematan biaya EV tidak hanya bergantung pada tarif listrik, tetapi juga pada kebiasaan pengisian dan pilihan perangkat di rumah. Bagi banyak pemilik, keputusan sederhana seperti menjadwalkan pengisian di jam murah dapat menentukan apakah kendaraan listrik benar-benar memberi biaya operasional yang lebih efisien dibandingkan mobil berbahan bakar bensin.
