Dominasi mobil Cina kini membuat merek Jepang menghadapi tekanan yang semakin besar di pasar global. Harga yang lebih rendah, teknologi yang terus berkembang, dan produksi massal menjadi kombinasi yang sulit disaingi, terutama ketika pabrikan Cina juga agresif membangun perakitan lokal di berbagai negara.
Situasi itu ikut terasa pada Honda. Setelah melihat langsung proses produksi mobil di Cina, CEO dan Presiden Honda Toshihiro Mibe mengakui kerasnya persaingan dan menyebut, “Kita tak ada peluang buat melawan ini,” seperti dikutip dari Nikkei Asia.
Tekanan dari harga dan skala produksi
Keunggulan utama manufaktur Cina tidak hanya terletak pada fitur yang ditawarkan. Mereka juga mampu menjaga harga tetap lebih rendah dibandingkan model lain di segmen yang sama, sehingga menarik konsumen yang mencari nilai lebih dalam satu paket pembelian.
Strategi itu diperkuat dengan produksi dalam jumlah besar. Pabrikan Cina juga aktif merakit kendaraan secara lokal di sejumlah negara agar lebih sesuai dengan regulasi setempat dan tetap kompetitif dari sisi biaya.
Langkah tersebut membuat mereka cepat beradaptasi di pasar yang berbeda. Dalam konteks ini, merek Jepang yang selama bertahun-tahun dominan kini harus menghadapi lawan yang bergerak lebih lincah dan lebih agresif.
Honda ikut merasakan dampaknya
Honda menjadi salah satu contoh paling jelas dari perubahan peta persaingan tersebut. Pabrikan asal Jepang itu bahkan membatalkan pengembangan tiga model mobil listrik, yaitu Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX, setelah mengaku kesulitan bersaing.
Salah satu pemicunya adalah penghentian insentif mobil listrik di negara seperti Amerika Serikat. Di sisi lain, Honda juga menyadari bahwa mereka belum mampu menghadirkan produk dengan value for money yang lebih baik dibandingkan manufaktur lain.
Mibe tetap menilai elektrifikasi tidak bisa dihindari. Namun, Honda disebut perlu berhati-hati dalam memperkenalkan mobil listrik agar tidak berujung pada penghentian produk di tengah jalan.
Pasar Cina menjadi medan tersulit
Tekanan paling terasa justru datang dari pasar Cina, yang selama ini menjadi salah satu arena penting bagi banyak merek otomotif dunia. Di negara itu, penjualan Honda turun tajam dari 1,6 juta unit pada 2020 menjadi prediksi sekitar 600.000 unit pada 2026.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa persaingan tidak lagi berjalan seimbang. Merek lokal Cina yang semakin kuat telah menggerus ruang gerak produsen Jepang, termasuk di segmen yang dulu relatif aman.
Kondisi ini membuat Honda harus menyesuaikan langkah bisnisnya dengan lebih hati-hati. Perubahan strategi menjadi penting agar perusahaan tidak makin tertinggal dalam pasar yang bergerak cepat.
Perubahan juga merembet ke Korea Selatan
Dampak persaingan itu tidak berhenti di Cina. Di Korea Selatan, Honda juga mengumumkan kepergiannya pada akhir tahun karena melihat kondisi kompetisi yang telah berubah.
Meski demikian, Honda masih akan melanjutkan penjualan motor di negara tersebut dan tetap memberi layanan purnajual kepada seluruh konsumennya. Keputusan ini menegaskan bahwa tekanan dari dominasi merek Cina dan pergeseran pasar kini sudah memengaruhi langkah perusahaan Jepang di lebih dari satu negara.
