236 Ribu Motor Listrik Tertanam, Subsidi Berhenti Laju Mulai Terasa?

Populasi motor listrik di Indonesia terus menanjak dan kini menembus 236.451 unit hingga Februari 2026. Angka itu menegaskan bahwa kendaraan roda dua listrik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Lonjakan tersebut juga memperlihatkan perubahan yang sangat cepat dalam waktu singkat. Dari hanya 31.101 unit pada 2022, jumlahnya naik menjadi 229.820 unit pada akhir 2025, atau bertambah hampir 200 ribu unit dalam tiga tahun.

Roda dua masih mendominasi ekosistem listrik

Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menyebut sektor roda dua sebagai penyumbang terbesar dalam pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Meski begitu, ia menilai laju adopsi masih perlu dipercepat karena jumlah motor bensin di Indonesia sudah mencapai 140 juta unit.

“Kita lihat ini terus tumbuh dan yang terbesar sektor roda dua. Tapi dibandingkan angka 140 juta motor bensin, ini belum apa-apa. Makanya, butuh akselerasi dan percepatan,” kata Trois di Senayan, Jakarta Pusat.

Secara keseluruhan, kendaraan listrik di Indonesia kini berjumlah sekitar 358 ribu unit. Dari total itu, sekitar 65 persen disumbang oleh kendaraan roda dua, sementara sisanya berasal dari mobil, bus, dan truk listrik.

Subsidi ikut mendorong lonjakan penjualan

Pertumbuhan populasi motor listrik tidak lepas dari kebijakan subsidi pemerintah sebesar Rp 7 juta per unit pada periode 2022 hingga 2024. Insentif itu mendorong transaksi penjualan motor listrik secara besar-besaran di pasar domestik.

Dampak kebijakan tersebut terlihat jelas pada kenaikan populasi tahunan. Data Kementerian ESDM menunjukkan jumlah motor listrik naik dari 3.357 unit pada 2020 menjadi 13.903 unit pada 2021, lalu melompat ke 31.101 unit pada 2022.

Kenaikan terus berlanjut pada 2023 saat populasinya mencapai 93.510 unit. Setahun kemudian, angkanya bertambah lagi menjadi 170.588 unit sebelum mencapai 229.820 unit pada akhir 2025.

Perlambatan mulai terasa setelah subsidi dihentikan

Meski tren jangka panjang masih naik, laju transaksi mulai melambat setelah subsidi dihentikan pada akhir 2024. Volume transaksi yang sebelumnya mencapai 80 ribu unit pada periode 2023-2024 turun menjadi kisaran 50 ribu unit pada periode 2024-2025.

Perubahan ini menunjukkan bahwa insentif fiskal masih berpengaruh besar terhadap pasar motor listrik. Tanpa dukungan serupa, pertumbuhan tetap berjalan tetapi tidak seterang saat program subsidi aktif.

Kondisi tersebut membuat pemerintah dihadapkan pada tantangan baru untuk menjaga momentum adopsi kendaraan listrik. Di tengah dominasi motor bensin yang masih sangat besar, percepatan diperlukan agar motor listrik tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi juga semakin kuat di jalan raya.

Terkait