Gaikindo Soroti Daya Beli, EV Murah Rp200 Jutaan Masih Sulit Menggoda Pembeli

Minat terhadap kendaraan listrik memang terus tumbuh di tengah kekhawatiran soal harga dan ketersediaan bahan bakar. Namun, laju adopsinya masih tertahan oleh satu hal yang paling dekat dengan keputusan beli: daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Di Indonesia, harga EV masih berada di atas mobil konvensional segmen bawah. EV entry level saat ini mulai dari sekitar Rp199 juta, sedangkan mobil LCGC seperti Daihatsu Ayla masih berada di kisaran Rp140 jutaan.

Daya beli belum cukup kuat

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menilai kondisi ini membuat masyarakat belum mudah beralih ke kendaraan listrik. Wakil Ketua Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan daya beli belum pulih, sehingga konsumen sulit langsung masuk ke EV yang harga awalnya masih tinggi.

Kukuh juga menggambarkan situasi ini seperti buah simalakama. Konsumen yang bertahan dengan kendaraan berbahan bakar fosil harus menghadapi harga bahan bakar yang naik dan jatah yang terbatas.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi rumah tangga pada 2025 tumbuh 4,98 persen, dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen. Meski konsumsi masih menjadi penopang utama ekonomi, lajunya belum cukup kuat untuk mendorong pembelian barang tahan lama dengan nilai besar seperti kendaraan listrik.

Pembiayaan belum jadi penopang utama

Kondisi serupa terlihat dari sisi pembiayaan. Otoritas Jasa Keuangan mencatat pembiayaan kendaraan listrik mencapai Rp17,71 triliun pada April 2025, dengan kontribusi sekitar 3,34 persen dari total pembiayaan multifinance.

Porsi itu menunjukkan EV belum menjadi portofolio utama pembiayaan di industri pembiayaan. Di saat yang sama, suku bunga kredit masih ikut menekan minat konsumen untuk mengambil kendaraan baru.

Bank Indonesia mencatat suku bunga kredit berada di kisaran 9,05 persen sepanjang 2025, dengan suku bunga dasar kredit kendaraan di level sekitar 12 persen. Beban itu membuat cicilan terasa lebih berat, terutama untuk pembeli di segmen menengah ke bawah.

Pajak jadi titik krusial

Gaikindo berharap pemerintah meninjau ulang peraturan perpajakan untuk kendaraan bertenaga baterai agar masyarakat lebih mudah membeli EV. Harapan itu muncul karena konsumen dinilai tidak bisa begitu saja banting setir dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai kebijakan pajak kendaraan listrik berpotensi memengaruhi permintaan di segmen harga menengah. Ia menyoroti BEV di kisaran Rp200 juta hingga Rp300 juta yang selama ini menjadi kontributor utama penjualan.

Menurut Yannes, konsumen di kelas harga itu sangat sensitif terhadap perubahan biaya kepemilikan dan harga kendaraan. Karena itu, kenaikan pajak tahunan yang mencapai jutaan rupiah di daerah yang menaikkan PKB dan BBNKB bisa langsung mengubah keputusan beli.

Ia juga melihat kemungkinan sebagian calon pembeli menunda pembelian atau kembali mempertimbangkan mobil bermesin konvensional maupun hybrid. Menurutnya, BEV di segmen ini dulu kompetitif karena bebas pajak, tetapi keunggulan itu kini berkurang jika insentif fiskal tidak tersedia.

Efisiensi belum cukup menembus harga awal

Secara operasional, EV memang lebih hemat dibanding mobil bensin. Biaya penggunaan kendaraan listrik berada di kisaran Rp250–Rp350 per kilometer, sementara kendaraan berbahan bakar bensin mencapai Rp1.000–Rp1.200 per kilometer.

Meski begitu, efisiensi tersebut baru terasa setelah kendaraan dimiliki. Pada tahap awal pembelian, harga tetap menjadi faktor paling menentukan, terutama ketika daya beli belum sepenuhnya pulih dan insentif fiskal belum cukup kuat untuk menurunkan beban konsumen.

Berita Terkait

Back to top button