Demon-Gilang Pimpin AJI Bengkulu, Di Tengah Tekanan Baru Untuk Kebebasan Pers

Demon Fajri dan Gilang Tri Wibisono resmi memimpin AJI Bengkulu untuk periode 2026-2029 setelah terpilih secara aklamasi dalam Konferta ke-4 Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu. Pemilihan ini menandai estafet kepemimpinan baru di tengah perubahan cepat dunia pers dan derasnya tantangan digital.

Demon kini dipercaya sebagai ketua, sementara Gilang menjadi sekretaris. Keduanya dipilih dalam forum yang digelar pada Minggu, 3 Mei, dan dinilai mendapat dukungan kuat dari anggota untuk melanjutkan arah organisasi ke depan.

Duet baru dari dua jurnalis aktif

Demon Fajri dikenal sebagai jurnalis Bincang Perempuan, sedangkan Gilang Tri Wibisono bekerja sebagai jurnalis Kompas TV. Sebelumnya, AJI Bengkulu dipimpin Yunike Karolina sebagai ketua dan Demon Fajri sebagai sekretaris.

Usai terpilih, Demon menyampaikan terima kasih atas kepercayaan anggota. Ia menegaskan bahwa amanah memimpin AJI Bengkulu tidak bisa dijalankan sendirian dan membutuhkan dukungan penuh dari seluruh anggota.

Menurut Demon, kepengurusan baru akan menghadapi tantangan besar, terutama di era digital yang berubah sangat cepat. Ia menilai organisasi jurnalis harus mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.

Tantangan jurnalisme makin kompleks

Demon menyoroti bahwa persoalan jurnalisme saat ini bukan hanya persaingan media. Ia juga mengingat maraknya informasi yang belum tentu benar, sehingga AJI Bengkulu perlu hadir menjaga profesionalisme dan kualitas jurnalisme.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat solidaritas antaranggota, meningkatkan kapasitas jurnalis, dan menjaga independensi profesi dari berbagai bentuk intervensi. Tiga hal itu, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi organisasi profesi di tengah perubahan lanskap informasi.

Gilang Tri Wibisono juga menyatakan kesiapan mendampingi ketua dalam menjalankan program organisasi. Ia menilai AJI Bengkulu punya peran strategis dalam memperkuat ekosistem pers yang sehat di daerah.

Gilang menyebut AJI Bengkulu harus menjadi rumah bersama bagi jurnalis yang menjunjung integritas, kompetensi, dan kebebasan pers. Ia menekankan bahwa kolaborasi seluruh anggota akan sangat menentukan arah kerja organisasi.

Regenerasi dan demokrasi internal

Kehadiran Sekjen AJI Indonesia, Bayu Wardhana, memberi penegasan lain atas arti konferensi kota bagi organisasi. Ia menyebut Konferta sebagai bagian penting dari regenerasi dan proses demokrasi internal AJI.

Bayu menilai forum semacam ini menjadi ruang penyegaran organisasi. Dari sana, kata dia, lahir kepemimpinan baru dan semangat baru untuk menjawab tantangan zaman.

Ia juga mengingatkan bahwa jurnalis kini menghadapi tekanan terhadap kebebasan pers, intervensi berbagai kepentingan, dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Dalam situasi seperti itu, organisasi profesi perlu lebih aktif merawat solidaritas sesama jurnalis dan meningkatkan kualitas karya jurnalistik.

Bayu menambahkan bahwa ada peluang besar sekaligus tantangan besar di hadapan jurnalis. Karena itu, ia menilai para jurnalis perlu lebih sering berkumpul, berdiskusi, dan menyusun strategi untuk merawat profesi ini.

Exit mobile version