Memilih motor listrik Selis pada 2026 tidak lagi cukup hanya melihat nama E-Max. Lini produknya kini terbagi cukup jelas, dari model paling terjangkau untuk komuter harian sampai kendaraan roda tiga berkabin untuk kebutuhan usaha dan angkut penumpang.
Perbedaannya juga tidak tipis. E-Max, Go Plus, Agats, dan Bromo bermain di karakter yang berbeda, baik dari sisi kecepatan, jarak tempuh, jenis baterai, sampai kegunaan utama, sehingga calon pembeli perlu mencocokkan spesifikasi dengan pola pemakaian harian.
Bagi pembeli yang mengejar harga masuk paling ramah, E-Max masih menjadi pintu masuk paling mudah ke ekosistem motor listrik Selis. Model ini juga dikenal luas karena menjadi salah satu yang paling sering muncul dalam daftar motor listrik bersubsidi.
E-Max memakai dinamo 1.500 watt dengan kecepatan maksimal sekitar 50 km/jam. Karakternya cocok untuk mobilitas dalam kota, terutama bagi pengguna yang menempuh perjalanan pendek hingga menengah setiap hari.
Pilihan baterainya menjadi nilai jual utama. Versi dasar dengan baterai SLA 60V 20Ah diklaim menempuh sekitar 40 km sekali isi daya, sementara varian lithium single pack sekitar 60 km, dual lithium sekitar 120 km, dan Long Range disebut bisa mencapai hingga 230 km dalam kondisi ideal.
Motor ini juga punya daya angkut hingga 225 kg dan bobot sekitar 92 kg. Rem cakram depan-belakang serta ban tubeless 10 inci melengkapi paket yang cukup untuk penggunaan perkotaan.
Harga E-Max SLA dibuka mulai sekitar Rp15,5 jutaan. Varian lithium berada di kisaran Rp22–28 jutaan, tergantung konfigurasi baterai yang dipilih.
Kalau butuh lebih kencang, Go Plus lebih masuk akal
Go Plus menempati posisi di atas E-Max untuk pengguna yang merasa batas 50 km/jam terlalu membatasi. Model ini ditujukan untuk komuter yang lebih sering melintas di jalan raya utama atau menempuh jarak lebih jauh.
Dinamo rear hub motor 2.000 watt membuat performanya lebih kuat. Kecepatan maksimalnya diklaim bisa menyentuh 80 km/jam dan tersedia tiga level kecepatan yang dapat disesuaikan dengan kondisi berkendara.
Baterainya memakai lithium 60V 27Ah yang bersifat swappable. Dengan satu baterai, jarak tempuh yang diklaim sekitar 70 km, sedangkan dua baterai bisa mencapai hingga 140 km sekali pengisian.
Dari sisi efisiensi, konsumsi dayanya berada di sekitar 23,3 Wh/km. Harga Go Plus single baterai dipasarkan di kisaran Rp31 jutaan, sementara versi double lithium berada di sekitar Rp39 jutaan sebelum potongan apa pun.
Agats cocok untuk yang ingin postur motor lebih besar
Tidak semua calon pembeli nyaman dengan motor listrik berukuran ringkas. Di titik ini, Agats menjadi opsi menarik karena menawarkan bodi lebih besar dan ban 14 inci yang memberi rasa berkendara lebih tegak dan lebih kokoh.
Agats menggunakan rear hub motor 2.000 watt, sama seperti Go Plus. Namun, karakter berkendaranya disebut lebih mirip motor bebek atau skuter menengah karena bobot dan geometri rangkanya berbeda.
Varian Agats SLA memakai baterai 72V 20Ah. Kecepatan maksimalnya sekitar 50 km/jam, jarak tempuh sekitar 50–60 km, waktu pengisian sekitar 7 jam, dan harganya berada di kisaran Rp19,9 jutaan.
Sementara itu, Agats Lithium menggunakan baterai 72V 23Ah. Versi ini disebut lebih ringan, lebih responsif, dan punya potensi top speed sedikit lebih tinggi, dengan harga sekitar Rp29,5 jutaan.
Platform Agats juga dikenal cukup fleksibel untuk dimodifikasi. Bahkan ada edisi “Patroli” yang sudah dilengkapi STNK dan BPKB untuk kebutuhan keamanan dan pengawasan di area tertentu.
Bromo bermain di segmen yang benar-benar berbeda
Jika tiga model sebelumnya fokus pada roda dua, Bromo bergerak ke ranah kendaraan listrik roda tiga. Model ini memakai kabin tertutup dan lebih dekat ke kendaraan angkut atau transportasi area khusus daripada motor konvensional.
Bromo menggunakan motor BLDC dengan tenaga sekitar 1.000–3.000 watt, tergantung varian. Kecepatan maksimalnya sekitar 40 km/jam, tetapi daya angkutnya bisa mencapai 300 kg, tertinggi di antara model Selis lain dalam daftar ini.
Jarak tempuhnya diklaim sekitar 100 km dengan baterai lithium 60V 100Ah. Waktu pengisian dayanya sekitar 6 jam, sehingga cukup relevan untuk operasional usaha jarak dekat hingga menengah.
Nilai pembeda Bromo ada pada kabin tertutup dengan atap dan pintu. Fitur seperti cabin fan, klakson mundur, serta mode maju-mundur membantu manuver di ruang sempit dan menambah kenyamanan pemakaian.
Selis juga mengembangkan varian Bromo yang kompatibel dengan pengisian daya via panel surya. Untuk harga, Bromo dipasarkan di kisaran Rp50–53 jutaan untuk versi lithium standar, sedangkan New Balis berada di sekitar Rp48–49 jutaan.
Perbandingan singkat antar model
| Model | Dinamo | Top speed | Jarak tempuh | Harga mulai |
|---|---|---|---|---|
| E-Max SLA | 1.500 W | 50 km/jam | sekitar 40 km | sekitar Rp15,5 juta |
| E-Max Lithium | 1.500 W | 50 km/jam | sekitar 60–230 km | sekitar Rp22 juta |
| Go Plus | 2.000 W | 80 km/jam | 70–140 km | sekitar Rp31 juta |
| Agats SLA | 2.000 W | 50 km/jam | sekitar 50–60 km | sekitar Rp19,9 juta |
| Agats Lithium | 2.000 W | sekitar 60 km/jam | sekitar 60–65 km | sekitar Rp29,5 juta |
| Bromo | 1.000–3.000 W | 40 km/jam | sekitar 100 km | sekitar Rp50 juta |
Soal subsidi, hampir semua model Selis di atas pernah masuk daftar penerima subsidi motor listrik pemerintah karena nilai TKDN yang memenuhi syarat. Namun status model yang aktif menerima subsidi dan besaran potongannya dapat berubah mengikuti kebijakan Kementerian Perindustrian serta ketersediaan anggaran.
Karena itu, selisih harga akhir bisa sangat menentukan pilihan antara varian SLA dan lithium. Pengecekan ke dealer resmi Selis atau kanal resmi perusahaan menjadi langkah penting sebelum memutuskan model mana yang paling cocok dibawa pulang.
