Harga BBM Makin Tinggi, Mobil Listrik Jadi Pelarian Hemat yang Sulit Ditolak

Author: Qoo Media

Kenaikan harga BBM nonsubsidi kembali mendorong perhatian ke mobil listrik. Di saat biaya operasional kendaraan berbahan bakar minyak kian membengkak, minat konsumen disebut mulai bergeser ke kendaraan listrik karena dinilai jauh lebih hemat.

Harga sejumlah BBM milik PT Pertamina (Persero) naik lagi per Senin (4/5). Sorotan utama tertuju pada Pertamina Dex yang kini nyaris Rp30 ribu per liter, setelah sebelumnya naik dari Rp23.900 per liter menjadi Rp27.900 per liter.

Tekanan biaya mulai mengubah pilihan konsumen

Kenaikan tidak berhenti di Pertamina Dex. Dexlite (CN 51) juga naik dari Rp23.600 per liter menjadi Rp26.000 per liter, sementara Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp19.400 per liter menjadi Rp19.900 per liter.

Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor Tan Kim Piauw mengatakan pergeseran minat itu sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, pada April masyarakat cenderung membeli mobil listrik.

Kim menilai selisih biaya operasional antara mobil BBM atau internal combustion engine (ICE) dan mobil listrik sangat besar. Dalam perhitungannya, penggunaan mobil listrik untuk kebutuhan harian bisa memangkas pengeluaran secara drastis.

Ia menyebut penghematan dari mobil listrik bisa mencapai 80 sampai 90 persen untuk kebutuhan operasi harian. Bahkan, menurut dia, dengan harga minyak yang makin mahal, penghematan itu bisa lebih dari 90 persen.

Penghematan jadi daya tarik utama

Kim juga menekankan bahwa konsumen mulai merasakan langsung tingginya biaya bahan bakar. Karena itu, menurut dia, langkah beralih ke mobil listrik membuat penghematan terasa sangat besar.

Selain hemat, mobil listrik dinilai punya keunggulan lain yang semakin dipahami pasar. Kim menyebut mobil listrik lebih bersih bagi lingkungan, perawatannya murah, dan biaya operasional hariannya sangat rendah.

Meski begitu, kekhawatiran soal infrastruktur pengisian daya masih ada di masyarakat. Namun, Kim menilai perkembangan fasilitas pengisian saat ini sudah cukup masif dan memadai.

Pangsa pasar EV terus naik

Perubahan preferensi itu ikut tercermin pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Porsi mobil ICE turun dari 99,6 persen pada 2021 menjadi 78,2 persen pada 2025.

Sebaliknya, porsi battery electric vehicle (BEV) naik dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Per Maret 2026, porsi BEV kembali naik menjadi 15,6 persen, sementara ICE turun menjadi 75 persen.

Pada periode yang sama, penjualan BEV melonjak 96 persen menjadi 33.146 unit dari 16.926 unit. Pertumbuhan itu jauh melampaui industri yang hanya 1,7 persen, sedangkan penjualan mobil ICE justru turun dari 174.776 unit menjadi 156.684 unit.

Kim menyebut tren pasar mobil listrik juga terlihat di kuartal I. Menurut dia, pangsa pasar mobil listrik yang sebelumnya hanya 8 persen pada kuartal I tahun lalu, sudah mendekati 15 persen pada kuartal I 2026.

Gaikindo juga memproyeksikan porsi BEV hingga akhir 2026 bisa melambung menjadi sekitar 19-20 persen. Angka itu menunjukkan mobil listrik makin kuat menantang dominasi kendaraan bensin dan diesel di pasar otomotif nasional.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru