Tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali naik dan dampaknya kini merembet jauh ke luar isu tarif. Yang paling terasa adalah ancaman terhadap rantai pasok kendaraan listrik, karena konflik ini sudah menyentuh rare earth, baterai, semikonduktor, energi, dan teknologi strategis lain.
Pemerintahan Donald Trump memperluas kebijakan tarif dan sanksi terhadap Beijing, lalu China membalas dengan langkah yang juga menyasar sektor strategis. Akibatnya, perang dagang yang semula identik dengan barang konsumsi kini berubah menjadi perebutan pengaruh atas industri masa depan.
Tekanan baru di jalur pasok EV
Reuters melaporkan konflik terbaru tidak lagi berhenti pada tarif impor seperti pada periode pertama Trump. Perseteruan ini kini melibatkan sektor energi, rare earth, kendaraan listrik, semikonduktor, dan teknologi tinggi lainnya.
Langkah Washington menjatuhkan sanksi terhadap kilang-kilang China yang membeli minyak Iran memicu respons keras dari Beijing. Sebagai balasan, China memakai undang-undang anti-sanksi untuk melawan daftar hitam Amerika Serikat dan menyiapkan pembatasan ekspor teknologi panel surya.
China juga memanfaatkan dominasinya atas rantai pasok mineral kritis sebagai alat tekanan. Reuters menyebut posisi Beijing sangat kuat dalam rare earth dan mineral strategis, dua komponen yang sangat penting bagi kendaraan listrik, baterai, elektronik, dan teknologi pertahanan.
Mengapa pasar otomotif ikut terguncang
Ketergantungan industri global pada pasokan China membuat ketegangan ini langsung memunculkan kekhawatiran baru. Industri kendaraan listrik menjadi salah satu yang paling rentan karena banyak bahan baku dan komponen utamanya masih bergantung pada rantai pasok dari China.
China saat ini masih mendominasi pasokan rare earth, bahan baku baterai, dan berbagai komponen penting kendaraan listrik dunia. Jika aliran pasokan ini terganggu, biaya produksi bisa naik dan produsen otomotif berisiko harus mencari jalur produksi baru di negara alternatif Asia.
Reuters menilai perang dagang kali ini jauh lebih kompleks dibanding konflik dagang pada periode pertama Trump. Penyebabnya bukan hanya tarif, tetapi juga geopolitik, energi, dan teknologi tinggi yang saling bertabrakan dalam waktu bersamaan.
Upaya saling lepas ketergantungan
Di tengah memanasnya hubungan, pemerintah AS tetap berupaya mengurangi ketergantungan industrinya terhadap China. Washington mendorong relokasi manufaktur dan membatasi investasi untuk memperkecil risiko pasokan dari Beijing.
China juga bergerak untuk memperluas pasar ekspor ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat yang selama ini menjadi salah satu tujuan penting ekspor China.
Meski tensi politik dan dagang meningkat, komunikasi tingkat tinggi antara kedua negara masih berjalan. Reuters melaporkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng beberapa kali melakukan pembicaraan untuk menjaga stabilitas hubungan ekonomi.
Namun, kedua pihak masih saling menuduh melanggar kesepakatan dagang yang sebelumnya dicapai dalam sejumlah perundingan internasional. Situasi ini membuat ruang kompromi tetap ada, tetapi tingkat saling percaya masih sangat rendah.
Geopolitik ikut menambah tekanan
Konflik di Timur Tengah turut memperumit relasi Washington dan Beijing. Reuters melaporkan perang Iran meningkatkan ketegangan geopolitik dan menambah tekanan terhadap perdagangan global serta pasokan energi dunia.
Trump bahkan sempat menunda rencana kunjungannya ke Beijing akibat perang Iran sebelum akhirnya dijadwalkan ulang pada Mei. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hubungan dagang AS-China kini ikut dipengaruhi oleh dinamika keamanan global yang lebih luas.
Bagi Indonesia, situasi ini membawa dua arah dampak. Di satu sisi, ketegangan dagang dapat membuka peluang masuknya investasi manufaktur dan kendaraan listrik ke Asia Tenggara, tetapi di sisi lain gangguan rantai pasok global juga berpotensi menekan biaya industri domestik.
