Moto3 akan memasuki fase baru mulai 2028. Yamaha resmi ditunjuk sebagai pemasok tunggal motor untuk kelas junior grand prix tersebut hingga 2033.
Perubahan ini langsung menarik perhatian karena selama ini Moto3 dikenal sebagai arena persaingan beberapa pabrikan. Keputusan itu juga menandai berakhirnya format pemasokan motor oleh lebih dari satu merek di kelas yang menjadi jalur awal pembalap menuju MotoGP.
Langkah tersebut diambil dengan alasan yang sangat jelas, yakni menekan biaya. CEO MotoGP Sports Entertainment Group Carlos Ezpeleta menyebut pengendalian biaya sebagai dasar utama di balik keputusan menjadikan Moto3 sebagai kejuaraan dengan pemasok tunggal.
Menurut Ezpeleta, Moto2 dan Moto3 bukan hanya soal menghadirkan tontonan balap yang bagus. Dua kelas itu juga berfungsi sebagai jalur pengembangan bakat pembalap menuju level tertinggi, sehingga lingkungan yang biayanya terkendali dinilai menjadi kebutuhan penting.
Selama era Moto3 berjalan setelah berakhirnya kelas 125 cc, motor yang dipakai merupakan prototipe bermesin 250 cc dari beberapa pabrikan. Saat ini, pasokan motor di kelas tersebut datang dari Honda dan KTM.
Mulai 2028, pola itu akan berubah total. Kelas Moto3 akan beralih menggunakan motor yang seluruhnya disediakan Yamaha sebagai pemasok eksklusif.
Alasan utama di balik format satu pemasok
Ezpeleta menilai pengalaman selama ini menunjukkan bahwa persaingan antarpabrikan cenderung mendorong biaya naik terus. Dalam pandangannya, ketika kompetisi antarprodusen berjalan ketat, besar kecilnya pabrikan tidak lagi menjadi faktor penahan biaya.
Karena itu, format satu pemasok dianggap sebagai satu-satunya cara nyata untuk menjaga biaya tetap terkendali. Masukan dari tim juga disebut ikut membentuk pemahaman tersebut, meski keputusan akhirnya tidak diambil lewat keterlibatan langsung tim dalam proses penetapan.
Pola serupa sebenarnya bukan hal baru di paddock grand prix. Moto2 lebih dulu memakai konsep pemasok mesin tunggal sejak 2019 dengan Triumph sebagai penyedia mesin.
Namun, ada perbedaan penting antara Moto2 dan Moto3 dalam format baru nanti. Di Moto2, berbagai produsen sasis masih terlibat, sedangkan di Moto3 mulai 2028 motor akan sepenuhnya disediakan Yamaha.
Ezpeleta menilai keberadaan pabrikan yang bereputasi untuk membangun keseluruhan motor memberi kepastian bagi penyelenggara. Hal itu juga disebut membuat proses transisi menuju format baru bisa berjalan lebih mudah dalam 18 bulan ke depan.
Bukan berarti pabrikan lain tersingkir dari pembinaan
Keputusan menunjuk Yamaha sebagai pemasok tunggal tidak otomatis menutup ruang bagi merek lain untuk tetap berperan dalam pengembangan pembalap muda. Ezpeleta menegaskan kesepakatan ini bukan berarti pabrikan yang saat ini aktif di Moto2 dan Moto3 tidak bisa melanjutkan program pembinaan mereka sampai ke level tertinggi.
Artinya, keterlibatan merek-merek tersebut masih dimungkinkan dalam ekosistem balap, meski bukan lagi sebagai pembangun motor Moto3 untuk kejuaraan ini. Fokus utamanya adalah menjaga jalur pembinaan tetap hidup tanpa membiarkan biaya kompetisi terus membengkak.
Pernyataan itu penting karena Moto3 selama ini bukan sekadar kelas balap junior biasa. Kelas ini menjadi salah satu titik awal yang sangat menentukan bagi pembalap muda sebelum menembus Moto2 dan akhirnya MotoGP.
Dengan format motor tunggal, penilaian terhadap bakat pembalap juga dipandang bisa menjadi lebih terukur. Saat perangkat teknis dibuat seragam, sorotan terhadap kemampuan pembalap dan kerja tim menjadi lebih menonjol.
Nilai Moto3 disebut tidak akan turun
Perubahan ke format spesifikasi tunggal sempat memunculkan pertanyaan soal status dan gengsi Moto3 sebagai kelas grand prix. Ezpeleta menolak anggapan bahwa model seperti ini akan menurunkan nilai kejuaraan.
Ia menunjuk pengalaman Moto2 sebagai contoh yang sudah terbukti. Saat kelas 250 cc diganti menjadi Moto2 pada 2010, menurutnya tidak ada yang kemudian memandang Moto2 sekadar sebagai “Cup”.
Bagi penyelenggara, status kejuaraan dunia tetap melekat karena inti kompetisinya tidak berubah. Para pembalap tetap bertarung untuk memenangi gelar juara dunia, dan nilai prestasinya tetap dianggap sama penting.
Perubahan besar ini pada akhirnya menunjukkan arah baru yang ingin dibangun untuk kelas junior. Moto3 akan tetap menjadi panggung pembinaan talenta, tetapi dengan struktur biaya yang lebih terkendali dan format kompetisi yang lebih seragam.
Hingga 2033, Yamaha akan memegang peran sentral dalam fase baru tersebut. Keputusan ini sekaligus menjadi salah satu perubahan teknis paling penting di Moto3 sejak kelas itu menggantikan era 125 cc dengan mesin 250 cc.
