
Lebih dari 14 orang mengalami kecelakaan lalu lintas setiap hari di Jakarta. Angka itu menjadi alarm keras bagi upaya keselamatan berkendara di ibu kota yang masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat.
Situasi itu mendorong Pemprov DKI Jakarta memperkuat pendekatan edukatif kepada pelajar. Langkah ini dipilih karena kesadaran keselamatan dinilai perlu ditanamkan sejak dini, bukan hanya saat seseorang sudah aktif berkendara di jalan raya.
Upaya tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Jakarta Road Safety Festival 2026 atau Kita Fest. Kegiatan ini digelar Dinas Perhubungan DKI Jakarta di Ecovention Hall, Ecopark Ancol, Jakarta Utara, pekan ini, 12/5.
Sebanyak 2.000 pelajar tingkat SMP, SMA, dan SMK dari lima wilayah kota di Jakarta mengikuti acara itu. Forum ini dirancang sebagai sarana edukasi keselamatan berlalu lintas sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah dan kalangan pelajar.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menyatakan kegiatan tersebut menjadi bukti komitmen Pemprov DKI dalam menekan angka kecelakaan. Menurut dia, target itu tidak bisa dicapai tanpa dukungan banyak pihak.
Data kecelakaan masih tinggi
Besarnya tantangan terlihat dari data Polda Metro Jaya pada periode Januari-Februari 2026. Dalam dua bulan itu tercatat 1.355 kasus kecelakaan dengan total 1.719 korban.
Dari seluruh korban tersebut, 4 persen meninggal dunia. Sementara itu, 9 persen mengalami luka berat dan 87 persen luka ringan.
Data itu menunjukkan bahwa dampak kecelakaan tidak hanya soal jumlah kejadian, tetapi juga besarnya korban yang ditimbulkan. Karena itu, pendekatan keselamatan tidak cukup berhenti pada penegakan aturan, melainkan juga perubahan perilaku pengguna jalan.
Suharini menekankan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama saat berkendara. Ia menilai berkendara bukan soal siapa yang lebih cepat, melainkan soal bagaimana setiap orang bisa sampai tujuan dengan selamat.
SIM bukan satu-satunya ukuran siap berkendara
Dalam pandangannya, kesiapan berkendara di jalan raya bukan hanya ditentukan oleh kepemilikan Surat Izin Mengemudi. Faktor yang tak kalah penting adalah kematangan individu saat menghadapi situasi di jalan.
Ia menyoroti pentingnya kemampuan mengendalikan emosi ketika berkendara. Pengendara yang mudah terpancing atau kehilangan kendali mental dinilai lebih rentan mengambil keputusan yang berbahaya.
Karena itu, isu keselamatan lalu lintas ditempatkan bukan semata sebagai urusan teknis berkendara. Ada aspek psikologis dan kedisiplinan yang juga harus dipahami oleh setiap pengguna jalan.
Pendekatan ini menjadi relevan ketika edukasi diarahkan kepada pelajar. Pada tahap ini, pembentukan kebiasaan, cara berpikir, dan sikap terhadap aturan lalu lintas dinilai lebih mudah dibangun.
Kolaborasi lintas sektor
Kita Fest 2026 tidak digelar oleh satu instansi saja. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, dan sejumlah BUMD serta instansi terkait.
Sejumlah pihak yang terlibat antara lain PT Jakpro, PT Transjakarta, PT LRT Jakarta, PT MRT Jakarta, dan PT Bank Jakarta. Keterlibatan banyak lembaga ini menunjukkan bahwa keselamatan jalan dipandang sebagai isu bersama, bukan tanggung jawab satu institusi semata.
Kehadiran pelajar dari lima wilayah kota juga memperluas jangkauan pesan keselamatan. Dengan pola seperti ini, edukasi diharapkan tidak berhenti di ruang acara, tetapi ikut menyebar ke lingkungan sekolah dan pergaulan sehari-hari.
Rangkaian edukasi itu juga tidak berhenti di satu kegiatan. Pada Juli 2026, akan ada roadshow tentang road safety ke sekolah-sekolah di Jakarta.
Dorongan beralih ke transportasi publik
Selain menekankan perilaku aman di jalan, Pemprov DKI juga mendorong pemanfaatan transportasi umum. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya menekan risiko kecelakaan sekaligus membentuk budaya mobilitas yang lebih tertib.
Suharini menilai Jakarta memiliki kualitas transportasi umum dan infrastruktur pendukung yang baik. Ia juga menyebut kondisi keamanan Jakarta saat ini termasuk yang terbaik di dunia.
Meski begitu, tingkat penggunaan transportasi publik di Jakarta saat ini baru sekitar 22 hingga 23 persen. Angka itu masih jauh dari target yang ingin didorong pemerintah daerah.
Pemprov DKI menargetkan penggunaan transportasi publik meningkat hingga di atas 40 persen. Dalam strategi itu, pelajar diharapkan berperan sebagai duta transportasi umum yang ikut memengaruhi kebiasaan perjalanan di masyarakat.
Dorongan kepada pelajar menjadi penting karena mereka dinilai bisa menjadi penghubung pesan keselamatan dan penggunaan transportasi publik di lingkungan masing-masing. Di tengah angka kecelakaan yang masih tinggi, perubahan perilaku sejak usia sekolah dipandang sebagai salah satu jalur yang paling mungkin memberi dampak jangka panjang.
Source: otodriver.com








