Dua merek mobil di Indonesia memilih menahan harga jual di tengah pasar roda empat yang tidak menentu. Langkah itu menarik perhatian karena banyak produsen lain justru berhadapan dengan tekanan biaya dan kekhawatiran penjualan melambat.
Sikap tersebut muncul saat kenaikan harga mobil dinilai bisa membuat konsumen menunda pembelian. Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, harga baru yang terlalu tinggi memang berisiko mengurangi minat beli dan memukul target penjualan produsen.
BYD menjadi salah satu merek yang tetap mempertahankan harga mobilnya untuk saat ini. Keputusan itu cukup menonjol karena merek ini sedang menghadapi kelangkaan chip semi-konduktor di kampung halamannya, padahal komponen tersebut sangat penting untuk mobil listrik.
Chip semi-konduktor bukan hanya dibutuhkan BYD, tetapi juga merek lokal lain. Namun BYD tetap tidak memilih menaikkan harga karena langkah itu dinilai bukan bagian dari strategi mereka, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Ada alasan bisnis yang lebih besar di balik keputusan itu. BYD disebut memegang pangsa pasar mobil listrik tertinggi dibanding merek lain, sehingga kenaikan harga berpotensi mengganggu posisi mereka di pasar.
Daihatsu memilih jalan berbeda
Daihatsu juga belum menaikkan harga mobilnya. Berbeda dari BYD, merek asal Jepang ini lebih berhitung pada komposisi komponen impor dan risiko kenaikan biaya saat kurs berubah.
Pabrikan ini disebut sudah melokalisasi 80 persen komponen mobilnya. Karena itu, kenaikan harga seharusnya tidak terlalu signifikan jika ada penyesuaian biaya, meski perusahaan tetap belum berani mengubah harga untuk sekarang.
Jika tekanan biaya makin berat, Daihatsu disebut harus melakukan efisiensi produksi. Cara itu bisa menekan ongkos dan membantu mereka mempertahankan harga mobil murah di pasar yang sedang sensitif terhadap perubahan harga.
Pasar bisa makin ketat
Belum ada kepastian apakah merek lain akan mengikuti langkah BYD dan Daihatsu. Sebagian produsen masih mungkin memilih menaikkan harga, meski langkah itu berisiko karena konsumen cenderung menahan pembelian saat mobil baru makin mahal.
Efisiensi ongkos produksi menjadi salah satu cara yang bisa ditempuh produsen agar tetap kompetitif. Strategi semacam ini penting karena pasar otomotif Indonesia sedang berada dalam persaingan yang semakin ketat, termasuk dari merek asal China di segmen kendaraan ramah lingkungan.
Toyota masih disebut memimpin pasar dengan penjualan yang cukup bagus dalam beberapa tahun terakhir, disusul Daihatsu dan Mitsubishi. Di sisi lain, pasar mobil ramah lingkungan kini ramai oleh model-model baru, sementara penjualan hybrid, PHEV, dan listrik ikut terdorong naik.
Situasi itu membuat keputusan menahan harga menjadi langkah yang strategis. Jika harga terus naik dan produsen tidak mampu menahan biaya, pertumbuhan pasar bisa ikut terganggu di tengah persaingan yang sudah semakin sengit.
