ASII Tetap Gas Dividen dan Buyback, Astra Perketat Modal Saat Laba Tertekan

PT Astra International Tbk atau ASII sedang memperkuat arah alokasi modalnya saat perusahaan bersiap memasuki perjalanan tujuh dekade operasional. Di tengah tekanan kinerja saham dan laba kuartalan, Astra menegaskan dividen, investasi selektif, serta buyback saham tetap menjadi bagian dari strategi yang dijalankan.

Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan perusahaan akan memperketat disiplin modal agar pertumbuhan laba jangka pendek, menengah, dan panjang tetap seimbang. Pendekatan ini juga diarahkan untuk menjaga kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal bagi seluruh pemangku kepentingan.

Astra tidak mengubah fondasi bisnis utamanya, tetapi menajamkan fokus pada sektor yang paling kuat kontribusinya. Tiga lini utama yang menjadi prioritas adalah otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan, yang saat ini menyumbang sekitar 90 persen terhadap laba perusahaan.

Fokus ke bisnis inti

Pada bisnis otomotif, Astra akan terus mengembangkan ekosistem kendaraan dari hulu ke hilir. Ruang lingkupnya mencakup penjualan mobil baru dan bekas, suku cadang, layanan purna jual, hingga jaringan pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.

Di sektor jasa keuangan, Astra akan mengoptimalkan pengembangan ekosistem produk dan layanan untuk beragam segmen pelanggan. Sementara itu, bisnis alat berat dan solusi pertambangan akan diarahkan untuk memperkuat rantai pasok pertambangan dan mencari sumber pertumbuhan baru.

Di luar tiga bisnis utama, Astra tetap menjalankan pengembangan portofolio secara lebih terarah. Perusahaan menekankan keselarasan strategis dengan ekosistem dan kapabilitas yang sudah dimiliki agar ekspansi tetap relevan dan bernilai tambah.

Dividen dan buyback tetap berjalan

Dalam strategi barunya, Astra menyatakan tetap akan menjalankan belanja modal untuk pemeliharaan bisnis. Perusahaan juga akan membagikan dividen secara konsisten, melakukan investasi yang memberi nilai tambah, dan menjalankan share buyback pada tingkat valuasi yang dinilai tepat.

Langkah itu menunjukkan Astra masih menjaga kombinasi antara pertumbuhan bisnis dan imbal hasil kepada pemegang saham. Sikap ini juga sejalan dengan rekam jejak perusahaan yang selama lebih dari satu dekade terakhir mencatat kenaikan laba dan dividen yang signifikan.

Selama periode 2015 hingga 2025, laba bersih Astra meningkat lebih dari dua kali lipat dari Rp15 triliun menjadi Rp33 triliun. Dalam periode yang sama, dividen kepada pemegang saham naik 245 persen, dari Rp113 per saham menjadi Rp390 per saham.

Tekanan di bursa dan kinerja terbaru

Di pasar saham, ASII justru sedang berada dalam tekanan. Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, saham Astra ditutup melemah 8,48 persen atau turun 475 poin ke level 5.125.

Sepanjang hari, saham bergerak di rentang 5.125 hingga 5.600 dengan nilai transaksi Rp434,8 miliar dan volume 82,65 juta saham. Tekanan jual asing juga masih terlihat, dengan nilai foreign sell Rp221,5 miliar, lebih tinggi dibanding foreign buy Rp193,4 miliar.

Dari sisi valuasi, saham Astra diperdagangkan pada PER tahunan 8,87 kali dan PER trailing twelve months 6,55 kali. Dividend yield TTM tercatat sebesar 7,61 persen, sementara dividend payout ratio berada di level 67,47 persen.

Kinerja keuangan kuartal I 2026 juga menunjukkan pelemahan. Astra membukukan laba bersih Rp5,85 triliun, turun dari Rp6,93 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan pendapatan kuartalan turun 5,63 persen dan laba bersih kuartalan terkoreksi 15,61 persen secara year on year.

Meski menghadapi tekanan pada laba dan harga saham, Astra masih mempertahankan pembagian dividen yang relatif tinggi. Di saat yang sama, perusahaan juga menegaskan fokus pada penguatan bisnis inti, pengelolaan modal yang lebih disiplin, dan strategi portofolio yang lebih selektif.

Skala bisnis dan kontribusi sosial

Astra juga menyoroti kekuatan organisasi dan kontribusi sosialnya sebagai bagian dari fondasi jangka panjang. Saat ini perusahaan memiliki lebih dari 190 ribu karyawan dan menjalankan program Desa Sejahtera Astra yang tersebar di lebih dari 1.500 desa di 35 provinsi.

Program tersebut telah menjangkau lebih dari 3 juta penerima manfaat. Dengan basis bisnis yang besar dan disiplin modal yang diperketat, Astra tampak ingin menjaga ruang tumbuh sekaligus mempertahankan arus imbal hasil bagi investor.

Terkait