SAG Max Meluncur, REEV Bus 1.600 Km Siap Ubah Peta Transportasi Indonesia

Pasar kendaraan niaga elektrifikasi di Indonesia mulai memasuki fase yang lebih serius. PT Sinar Armada Globalindo atau SAG memanfaatkan ajang Busworld Southeast Asia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, untuk meluncurkan SAG Max sekaligus memperkenalkan REEV Bus bagi pasar Indonesia.

Langkah itu menunjukkan arah baru SAG yang tidak hanya bermain di kendaraan listrik perkotaan. Perusahaan mulai membidik transportasi komersial dan perjalanan antarkota dengan fokus pada efisiensi operasional, fleksibilitas penggunaan, dan pengurangan emisi karbon.

SAG Max menyasar shuttle dan mobilitas urban

Salah satu produk utama yang diperkenalkan adalah SAG Max, van listrik komersial dengan konfigurasi 15+1 penumpang. Kendaraan ini dirancang untuk kebutuhan shuttle dan mobilitas urban modern.

SAG mengklaim SAG Max memiliki daya jelajah hingga 440 kilometer dalam sekali pengisian daya. Angka itu menjadi daya tarik di segmen van listrik penumpang yang masih belum terlalu ramai di Indonesia.

Model ini diarahkan ke operator transportasi, hotel, bandara, hingga layanan shuttle perkotaan. SAG menilai kendaraan listrik dapat menekan biaya operasional dibandingkan model diesel konvensional di tengah dinamika harga bahan bakar fosil.

Direktur Teknik PT Sinar Armada Globalindo, Djoko Purwanto, menyebut efisiensi sebagai kunci utama keberlangsungan bisnis di tengah fluktuasi biaya logistik. Ia menegaskan bahwa SAG menghadirkan kendaraan listrik sebagai instrumen strategis untuk menekan biaya operasional secara signifikan.

REEV Bus dibawa untuk kebutuhan jarak jauh

Selain SAG Max, perhatian juga tertuju pada REEV Bus atau Range Extended Electric Vehicle. Konsep ini berbeda dari bus listrik murni karena tetap memakai motor listrik, tetapi dilengkapi range extender untuk menjaga suplai energi saat menempuh perjalanan jauh.

Teknologi seperti ini makin dilirik industri transportasi global. Alasannya sederhana, yaitu menghadirkan pengalaman berkendara yang senyap dan efisien seperti EV, tetapi tetap memberi fleksibilitas saat infrastruktur charging station belum merata.

Unit REEV Bus 12 meter yang dipamerkan diklaim mampu berjalan hingga 1.600 kilometer. Karakter itu membuatnya relevan untuk operasional antarkota dan trayek komersial jarak jauh di Indonesia.

SAG menilai pendekatan REEV bisa menjadi solusi sementara di wilayah yang masih memiliki keterbatasan SPKLU atau charging station untuk kendaraan besar. Alex Chen, Direktur Asia Pacific Golden Dragon Bus, menyebut peluncuran REEV sebagai komitmen bersama untuk menetapkan standar baru dalam transportasi publik berkelanjutan di pasar Indonesia.

Masuk pasar pada Juni mendatang

REEV Bus dijadwalkan mulai masuk pasar pada Juni mendatang. Kehadiran jadwal itu menandakan bahwa SAG tidak sekadar memperkenalkan konsep, tetapi juga menyiapkan langkah komersial untuk pasar Indonesia.

Dalam strategi yang lebih luas, SAG ingin memperkuat posisi di pasar kendaraan niaga elektrifikasi nasional. Perusahaan melihat kebutuhan efisiensi operasional semakin mendesak di sektor transportasi komersial seiring meningkatnya biaya energi.

Kolaborasi dengan Golden Dragon

Di balik langkah tersebut, SAG sudah menjalin kerja sama dengan Golden Dragon sejak beberapa tahun terakhir. Pabrikan bus asal Cina itu dikenal sebagai salah satu pemain kendaraan komersial global.

Kolaborasi ini juga terkait dengan target Net Zero Emission pemerintah Indonesia. SAG tidak hanya menawarkan unit kendaraan, tetapi juga memperkuat layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, dan dukungan teknis bagi operator transportasi.

Dengan dua produk baru ini, SAG memperlihatkan strategi yang lebih agresif di Indonesia. Perusahaan kini mulai membuka pasar baru lewat teknologi REEV untuk kebutuhan perjalanan jarak jauh, sambil tetap menjaga fokus pada efisiensi dan kesiapan infrastruktur yang ada.

Source: www.oto.com

Berita Terkait

Back to top button