Keraguan membeli mobil listrik di Indonesia umumnya berputar pada tiga hal yang sama: jarak tempuh, waktu isi daya, dan kepastian purna jual. XPENG mencoba menjawab keraguan itu dengan pendekatan teknis melalui spesifikasi baterai, arsitektur 800V, serta jaringan diler dan layanan yang mulai dibangun di pasar lokal.
Merek kendaraan listrik pintar asal China yang berdiri pada 2014 itu kini resmi masuk Indonesia dengan dua model, yakni SUV coupe G6 dan MPV premium X9. XPENG juga menekankan pengembangan teknologi secara mandiri, mulai dari ADAS, sistem operasi kendaraan, hingga powertrain.
Jarak tempuh jadi pertanyaan pertama
Bagi banyak calon pembeli, angka jarak tempuh masih menjadi tolok ukur utama sebelum beralih dari mobil konvensional. Di titik ini, XPENG menempatkan G6 dan X9 sebagai jawaban untuk kebutuhan penggunaan harian hingga perjalanan lebih jauh.
XPENG G6 varian Standard Range memakai baterai LFP berkapasitas bruto 66 kWh. Jarak tempuhnya diklaim sekitar 435 km berdasarkan standar WLTP dalam sekali pengisian daya.
Varian G6 Pro membawa baterai LFP 80,8 kWh. Versi ini diklaim mampu menempuh hingga 525 km berdasarkan standar WLTP.
Untuk model MPV, XPENG X9 menawarkan angka yang lebih tinggi. Varian Long Range Pro+ diklaim bisa melaju hingga 690 km berdasarkan standar NEDC, yang menempatkannya sebagai salah satu MPV listrik dengan jangkauan sangat jauh di kelasnya.
Dalam konteks penggunaan perkotaan di Indonesia, angka-angka itu dinilai sudah mencukupi kebutuhan harian. Termasuk ketika efisiensi menurun akibat kemacetan dan penggunaan AC secara intensif.
Isi daya cepat jadi jawaban atas rasa khawatir menunggu
Selain jarak tempuh, waktu tunggu saat pengisian cepat menjadi faktor yang sering membuat calon konsumen ragu. XPENG menonjolkan arsitektur 800V pada G6 sebagai solusi teknis untuk mengurangi waktu berhenti.
VP Commercial XPENG Indonesia Steven Sulung menjelaskan G6 dibangun di atas platform 800V XPower. Menurut dia, sistem itu mampu menambah jarak tempuh 230 km hanya dalam 10 menit pengisian.
Secara keseluruhan, fast charging dari 10% ke 80% pada G6 disebut memerlukan waktu sekitar 20 menit. Klaim ini disebut sebagai salah satu yang terbaik di kelasnya saat ini.
Pada G6 Pro, kemampuan pengisian disebut lebih agresif lagi. Dalam kondisi ideal, pengisian dari 10% sampai 80% diklaim hanya memakan waktu sekitar 12 menit.
XPENG X9 juga membawa kemampuan pengisian besar. Model ini dilengkapi sistem maximum charging 330 kW yang disebut dapat menambah jarak tempuh hingga 330 km hanya dalam 10 menit.
Baterai dan garansi jadi faktor penenang
Baterai tetap menjadi komponen paling mahal dalam kendaraan listrik. Karena itu, jenis baterai dan perlindungan garansi menjadi aspek penting dalam keputusan pembelian.
XPENG G6 Standard Range menggunakan baterai LFP atau Lithium Iron Phosphate. Teknologi ini dikenal lebih stabil secara termal dan memiliki siklus pengisian yang lebih panjang.
Pada X9, XPENG menawarkan dua pendekatan. Varian Standard Range memakai baterai LFP 84,5 kWh, sedangkan varian Long Range Pro dan Long Range Pro+ menggunakan baterai NCM berkapasitas 101,5 kWh.
Untuk perlindungan purna jual, G6 mendapat garansi baterai dan kendaraan hingga 8 tahun atau 160.000 km. Konsumen juga memperoleh gratis servis selama 5 tahun atau 100.000 km.
Skema serupa berlaku pada X9 dengan garansi baterai dan kendaraan selama 8 tahun. XPENG juga menambahkan garansi ban selama 1 tahun untuk pembelian awal serta gratis pengisian daya selama 1 tahun.
Bukan hanya mobil listrik, tapi juga mobil dengan bantuan berkendara canggih
XPENG tidak hanya menjual efisiensi energi. Merek ini juga menekankan fitur keselamatan aktif berbasis AI lewat sistem XPILOT 4.0.
Pada G6, sistem ini mendukung kemampuan Navigation Guided Pilot Level 3 dan one-pedal smart driving. Perangkatnya ditopang 29 sensor presisi tinggi untuk fungsi seperti cruise control, lane centering assist, dan auto parking assist.
Di X9, XPILOT 4.0 juga hadir dengan fitur parkir otomatis yang mampu mengingat hingga 20 lokasi parkir berbeda. Mobil ini juga dibekali sistem perlindungan 360 derajat yang mendeteksi potensi risiko di sekitar kendaraan secara real-time.
Fitur seperti ini relevan untuk pengguna perkotaan. Terutama bagi mereka yang sering berhadapan dengan ruang parkir sempit dan lalu lintas padat.
Relevansi teknologi dan layanan setelah pembelian
Steven Sulung juga menilai keputusan membeli mobil listrik tidak bisa hanya dilihat dari spesifikasi hari ini. Menurut dia, platform 800V high-voltage pada G6 dirancang agar tetap relevan hingga 10 tahun ke depan.
XPENG G6 menggunakan platform SEPA 2.0. Platform ini diklaim lebih ringan namun tetap kuat, sehingga membantu efisiensi energi dan kinerja kendaraan secara keseluruhan.
Di sisi layanan, XPENG telah mengoperasikan dua diler 3S di PIK 2 dan Puri. Jaringan itu direncanakan bertambah ke Pluit, Pondok Indah, Sunter, dan BSD dalam waktu dekat.
Ekspansi juga disiapkan ke kota besar lain seperti Surabaya, Bali, Medan, dan Makassar. Langkah ini penting karena ketersediaan sales, service, dan sparepart sering menjadi penentu rasa aman dalam kepemilikan jangka panjang.
Per 2026, XPENG G6 dipasarkan mulai Rp 679 juta dan X9 mulai Rp 1,169 miliar. Harga tersebut naik setelah insentif PPN Ditanggung Pemerintah untuk kendaraan listrik berakhir, tetapi XPENG tetap menempatkan efisiensi operasional dan biaya perawatan yang lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar konvensional sebagai nilai utama yang ditawarkan.
Source: oto.detik.com






