Memberi mobil sebagai hadiah terdengar seperti gestur yang langsung menuai pujian. Namun, transaksi semacam ini punya risiko hukum yang sering luput dari perhatian, terutama soal siapa yang namanya tercantum di dokumen dan siapa yang akhirnya memikul tanggung jawab jika sesuatu terjadi.
Kasus yang dibagikan Kevin Kunze, atau @ecomsidehustlecars di TikTok, menunjukkan bahwa membeli mobil untuk orang lain bukan sekadar urusan bayar lalu serah kunci. Ia membeli mobil baru untuk saudara iparnya setelah kendaraan perempuan itu rusak, tetapi langkah yang paling penting justru ada pada struktur kepemilikan dan asuransi.
Dokumen atas nama penerima jadi kunci
Kunze mendatangi Vandergriff Toyota di Arlington, Texas, bersama saudara iparnya. Perempuan itu memilih 2026 Toyota Corolla Cross Hybrid XSE karena efisiensi bahan bakarnya, lalu Kunze membayar mobil itu tunai.
Detail yang menentukan ada pada paperwork. Semua dokumen dimasukkan atas nama penerima, bukan atas nama Kunze, sehingga kepemilikan dan tanggung jawab hukum tidak menempel padanya.
Langkah itu bukan kebetulan. Kunze menyadari bahwa jika mobil tercatat atas namanya atau terhubung ke polis asuransinya, lalu terjadi kecelakaan, ia bisa menjadi target gugatan yang lebih menarik karena memiliki aset besar dan polis asuransi senilai $5 juta.
Liabilitas mengikuti kepemilikan dan kontrol
Di banyak negara bagian, konsep yang relevan disebut owner liability. Artinya, jika nama seseorang ada di title dan kendaraan itu menimbulkan cedera, ada dasar untuk menilai bahwa pemilik ikut bertanggung jawab.
Texas, tempat pembelian itu berlangsung, tergolong cukup tegas dalam soal ini. Jika seseorang memiliki mobil, mendaftarkannya, mengasuransikannya, dan menentukan siapa yang boleh mengemudi, maka tanggung jawab biasanya ikut melekat ketika masalah muncul.
Karena itu, membeli mobil untuk orang lain menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar hadiah besar. Struktur transaksi menentukan siapa yang paling rentan saat kendaraan itu terlibat kecelakaan atau sengketa hukum.
Masih ada risiko negligent entrustment
Meski struktur kepemilikan sudah rapi, ada satu celah hukum yang tetap bisa memunculkan masalah. Doktrin negligent entrustment memungkinkan seseorang tetap dituntut jika dengan sadar memberikan kendaraan kepada orang yang tidak layak mengemudi.
Risiko itu bisa muncul jika penerima tidak memiliki lisensi, punya catatan mengemudi sembrono, atau ada alasan kuat untuk percaya bahwa orang tersebut sedang dalam kondisi terganggu. Kunze menyebut faktor-faktor itu tidak berlaku pada saudara iparnya.
Pajak dan biaya ikut menentukan struktur hadiah
Aspek pajak juga perlu dihitung sejak awal. Di Texas, pajak penjualan kendaraan standar berada di angka 6,25 persen, dan itu berlaku untuk pembelian normal di dealer.
Jika seseorang memberikan uang kepada orang lain agar mobil dibeli, penerima umumnya tidak membayar pajak penghasilan federal atas hadiah uang tunai itu. Namun, tetap ada batas pengecualian pajak hadiah tahunan yang perlu diperhatikan.
Ada pula aturan khusus di Texas untuk transfer antaranggota keluarga. Jika seorang anggota keluarga membeli mobil lalu memindahkan title ke anggota keluarga lain, penerima hanya membayar gift tax $10, bukan pajak kendaraan penuh.
Dalam kasus Kunze, mobil dibeli langsung atas nama saudara iparnya. Karena itu, struktur pajaknya mengikuti pembelian biasa, dan biaya yang timbul kemungkinan sudah tercakup dalam pembayaran tunainya.
Pengalaman Kunze menunjukkan pola yang disengaja
Kunze mengatakan ini bukan kali pertama ia melakukan hal serupa. Ia menyebut telah membeli 11 kendaraan untuk orang lain, termasuk anggota keluarga dan para pengikut yang sedang mengalami kesulitan finansial.
Menurut arahan pengacaranya, pola yang paling aman adalah membeli lewat dealer, membayar langsung, lalu memastikan penerima menandatangani dokumen dan menjadi pemilik resmi. Dengan cara itu, transaksi lebih rapi dan garis tanggung jawab menjadi jelas.
Ia juga memastikan saudara iparnya memiliki polis asuransi sendiri sebelum meninggalkan dealer. Polis itu diatur melalui agen asuransinya, tetapi sepenuhnya atas nama penerima, sehingga perlindungan kendaraan tidak menempel pada dirinya.
Mobil tersebut juga disertai cakupan tiga tahun untuk perawatan, ban, dan masalah mekanis. Bagi siapa pun yang ingin melakukan hadiah serupa, pesan utamanya jelas: niat baik saja tidak cukup, karena kepemilikan, asuransi, dan kontrol atas kendaraan harus disusun dengan cermat sebelum mobil diserahkan.







