Altaf Ridwan langsung menarik perhatian di FIA Karting Academy Trophy Round 1 karena tampil kompetitif meski memulai dari situasi yang tidak ideal. Pembalap muda Indonesia berusia 16 tahun itu tetap mampu menembus babak final di Sirkuit Genk, Belgia, pada 21 hingga 24 Mei 2026.
Pencapaiannya terasa menonjol karena ia menjadi satu-satunya wakil Indonesia di kelas Academy Junior. Ia bersaing dengan 54 pembalap dari berbagai negara dalam ajang karting yang dikenal sangat ketat.
Bangkit dari posisi belakang
Perjuangan Altaf dimulai dari QTT yang berat. Ia hanya menempati posisi ke-46 setelah sasis gokartnya bengkok akibat insiden tabrakan sebelumnya.
Situasi itu tidak membuat performanya meredup. Pada Heat 1 Grup B-C, ia start dari posisi ke-23 dan finis di urutan ke-12 setelah menyalip 11 pembalap.
Aksinya di lintasan membuatnya mendapat penghargaan Most Movers. Catatan waktu terbaiknya pada sesi itu mencapai 54,6 detik.
Pada Heat 2 Grup A-B, Altaf kembali menunjukkan pace yang stabil. Ia start dari grid ke-24, menyalip 10 pembalap, lalu finis ke-13 dengan waktu terbaik 56,2 detik.
Performa serupa berlanjut di Heat 3 Grup B-D. Dari posisi ke-23, ia naik sembilan tempat dan finis ke-14 dengan catatan waktu terbaik 55,07 detik.
Lolos ke final dan berakhir dengan insiden
Hasil gabungan tiga heat tersebut membawa Altaf ke posisi ke-26 secara keseluruhan. Posisi itu cukup untuk mengamankan tiket ke babak final bersama 36 pembalap terbaik lain.
Di balapan penentuan, Altaf sempat tampil kompetitif dan naik hingga posisi ke-19. Namun, perjuangannya terhenti ketika ia terlibat tabrakan dengan pembalap asal Kenya, Bwana Gessese, saat lomba masih menyisakan 17 lap.
Race Direction kemudian menjatuhkan sanksi diskualifikasi kepada pembalap yang menyebabkan insiden itu. Dengan demikian, Altaf gagal menyelesaikan final meski telah menunjukkan daya saing kuat sejak awal.
Mentalitas yang tetap positif
Meski hasil akhirnya pahit, Altaf tetap menampilkan sikap positif. Ia mengaku menikmati perjuangan dari posisi belakang karena memberi banyak peluang untuk menyalip.
“Saya senang berada di posisi belakang karena di setiap heat bisa overtake. Ini pengalaman menyenangkan dan saya selalu positif melihat segala kejadian dan masalah,” ujar Altaf Ridwan.
Sikap itu ikut memperkuat kesan bahwa ia bukan hanya cepat, tetapi juga matang dalam menghadapi tekanan balapan. Di usia 16 tahun, ia sudah mampu bersaing dalam format yang menuntut konsistensi, keberanian, dan ketepatan membaca situasi.
Format yang menuntut kemampuan murni
FIA Karting Academy Trophy memakai format one make race. Seluruh peserta menggunakan spesifikasi mesin dan chassis yang identik, sehingga hasil balapan benar-benar ditentukan oleh kemampuan pembalap.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan Altaf menyalip puluhan rival dan menembus final menjadi catatan penting. Performa tersebut memberi sinyal positif bagi perkembangan motorsport Indonesia di level internasional.
Source: www.liputan6.com