
Mitsubishi tengah menyiapkan langkah yang bisa mengubah kembali pandangan pembeli Amerika terhadap merek ini. Produsen asal Jepang itu sedang menggarap proyek pickup bersama Nissan untuk pasar Amerika Utara, dan arah barunya memberi peluang masuk kembali ke segmen midsize pickup yang sudah lama ditinggalkan.
Langkah ini menarik karena Mitsubishi bukan kembali sendirian. Nissan masih menjadi mitra aliansi sekaligus pemegang saham besar, dan kerja sama itu memberi Mitsubishi akses ke basis teknik, pabrik, serta pengalaman pickup yang tidak dimilikinya saat ini.
Peluang baru setelah Raider
Satu hal yang sudah jelas adalah Mitsubishi tidak ingin mengulang kisah Raider. Pickup terakhir Mitsubishi di Amerika Serikat itu berbasis Dodge Dakota, dijual untuk model tahun 2006 hingga 2009, dan menggunakan konstruksi body-on-frame tradisional.
Raider sebenarnya punya bekal yang cukup layak. Mobil itu ditawarkan dengan mesin V6 3,7 liter dan V8 4,7 liter, serta kapasitas derek yang bisa mencapai sekitar 6.500 pon tergantung konfigurasi.
Masalahnya, Raider tidak pernah cukup kuat untuk mengalahkan pilihan yang lebih mapan. Banyak pembeli tetap memilih versi Dodge atau nama-nama yang sudah lebih dulu dipercaya di kelas midsize pickup.
Mengandalkan Nissan untuk memotong jarak
Kali ini, Mitsubishi tampak mencoba pendekatan yang berbeda. Laporan yang beredar mengarah pada platform body-on-frame buatan Nissan, bukan sekadar menghidupkan kembali formula Raider lama dengan lencana baru.
Pabrik Nissan di Canton, Mississippi, disebut sebagai lokasi produksi yang paling mungkin. Jika benar, Mitsubishi bisa menawarkan truk rakitan lokal tanpa harus membangun jaringan manufaktur AS dari nol.
Itu penting bagi pasar pickup di Amerika. Produksi lokal dapat membantu soal tarif, ketersediaan unit, dukungan suku cadang, kepercayaan dealer, dan persepsi bahwa produk tersebut dibuat untuk pembeli Amerika.
Pasar yang lebih padat dan lebih sulit
Tantangan Mitsubishi juga tidak kecil. Segmen midsize pickup kini diisi oleh Toyota Tacoma, Chevrolet Colorado, GMC Canyon, Ford Ranger, Jeep Gladiator, Honda Ridgeline, dan Nissan Frontier.
Selain padat, segmen ini juga jauh lebih terspesialisasi dibanding era Raider. Pembeli kini bisa memilih trim off-road serius, mesin turbo, kemungkinan hybrid, interior premium, teknologi derek yang lebih canggih, dan paket petualangan pabrikan.
Kia juga telah memberi sinyal minat pada pickup lain untuk pasar AS. Walau timing, produksi, dan spesifikasinya belum pasti, kehadiran pemain baru itu bisa membuat persaingan Mitsubishi semakin berat saat truknya nanti masuk showroom.
Identitas jadi pertarungan utama
Masalah terbesar Mitsubishi bukan hanya membangun truk. Tantangan yang lebih besar adalah membuat truk itu terasa sebagai produk Mitsubishi yang nyata, bukan sekadar hasil tukar emblem.
Di sinilah sejarah merek ini bisa membantu. Mitsubishi sedang menyiapkan visi jangka menengah hingga panjang yang mencakup 13 model baru dari fiscal 2026 sampai fiscal 2031, termasuk hybrid, plug-in hybrid, bensin, dan baterai listrik.
Rencana itu juga memasukkan pickup, SUV, minivan, serta kembalinya nama Pajero atau Montero. Arah tersebut menunjukkan bahwa pickup baru ini bukan proyek lepas, melainkan bagian dari upaya membangun kembali visibilitas dan kekuatan produk Mitsubishi di pasar penting.
Elektrifikasi ikut masuk ke strategi besar
Mitsubishi tetap mempertahankan mesin bensin, tetapi perusahaan ini juga tidak menutup pintu untuk elektrifikasi. Dalam rencana 13 model tadi, Mitsubishi menargetkan lima model hybrid dan lima plug-in hybrid.
Perusahaan juga sudah mengonfirmasi kendaraan listrik baterai untuk Amerika Utara berbasis Nissan Leaf generasi berikutnya, yang dijadwalkan mulai hadir pada musim panas 2026. Namun, pickup barunya sendiri belum dipastikan akan menjadi model listrik.
Untuk pasar truk di Amerika, itu bisa jadi keputusan yang lebih aman. Banyak pembeli masih menginginkan kemampuan yang familiar, jarak tempuh yang mudah diprediksi, dan karakter truk yang sudah terbukti sebelum beralih ke kendaraan kerja listrik sepenuhnya.
Kesempatan yang lebih realistis
Karena itu, pickup midsize berbasis bensin atau hybrid bisa lebih cocok untuk kebangkitan Mitsubishi. Opsi seperti itu memberi ruang bagi perusahaan untuk mengontrol biaya, memanfaatkan pengembangan Nissan, dan menawarkan produk yang lebih mudah dipahami pembeli.
Mitsubishi juga ingin mempercepat proses pengembangan kendaraan. Target internalnya adalah memangkas waktu pengembangan dari 45 bulan menjadi 36 bulan, yang akan membantu saat pasar dan regulasi berubah lebih cepat.
Jika semua elemen itu menyatu, Mitsubishi punya peluang untuk menghadirkan produk yang lebih meyakinkan daripada Raider. Truk ini masih harus membuktikan identitasnya sendiri, tetapi kombinasi rekayasa Nissan, produksi lokal, dan arah produk Mitsubishi yang lebih serius bisa memberi alasan baru bagi pembeli Amerika untuk melihat merek ini lagi.









