Lamborghini Mundur Dari Mobil Listrik, Luce Ferrari Jadi Contoh Buruk Yang Disyukuri

Lamborghini tampaknya beruntung tidak melanjutkan ambisi mobil listrik baterai penuh atau BEV. Di saat Ferrari Luce menuai hujatan karena desainnya, keputusan Lamborghini mundur justru terlihat seperti langkah yang menyelamatkan mereka dari risiko serupa.

Merek berlogo banteng itu sebenarnya sempat serius menyiapkan elektrifikasi. Mereka ingin merakit mobil listrik mulai tahun depan, namun rencana itu dibatalkan setelah Lamborghini kembali membaca arah pasar mobil listrik global.

Pembatalan itu membuat Lanzador berubah status total. Model yang semula diproyeksikan sebagai calon mobil listrik pertama Lamborghini kini hanya tinggal mobil konsep, tanpa peluang masuk jalur produksi massal.

Lamborghini memilih jalan aman

Lamborghini tidak sepenuhnya menutup pintu untuk elektrifikasi. Mereka masih melihat kemungkinan mobil hybrid, karena teknologi itu tetap memakai mesin bensin seperti pada Sian.

Ada juga jejak rencana BEV lain yang sempat disiapkan. Selain Lanzador, Lamborghini pernah menggarap versi BEV dari Urus, SUV andalannya di pasar.

Jika proyek itu berlanjut, Urus BEV berpotensi menjadi lawan sepadan bagi Ferrari Luce di segmen SUV. Namun Lamborghini justru menganggap diri mereka beruntung karena batal merakit dan menjual model itu sebelum kontroversi desain Ferrari makin meluas.

Desain dan identitas jadi risiko utama

Kontroversi Ferrari Luce memperlihatkan bahwa mobil listrik bukan hanya soal teknologi. Desain juga bisa jadi titik serang jika dianggap tidak selaras dengan identitas merek yang sudah terbentuk lama.

Lamborghini tampaknya membaca risiko itu dengan lebih hati-hati. Kalau Urus BEV jadi diproduksi, bentuknya disebut tidak akan jauh berbeda dari versi bensin, kecuali tanpa grille.

Namun masalahnya tidak berhenti di tampilan. Produk BEV juga berisiko dihujat bila performanya tidak secepat mobil bermesin bensin atau hybrid, atau bila bentuknya dinilai menjauh dari filosofi desain Lamborghini.

Bukan semua supercar listrik mudah dibuat

Secara teknis, mobil super listrik tetap bisa sangat kencang. Yangwang U9 dari BYD bahkan disebut mampu melaju nyaris tembus 500 km/jam.

Tetapi kemampuan seperti itu tidak otomatis mudah ditiru semua produsen. Dengan keterbatasan teknologi yang dimiliki, membuat BEV yang sanggup menyaingi level tersebut tetap menjadi tantangan besar.

Karena itu, Lamborghini dinilai lebih memilih jalur yang lebih aman. Mobil bensin dan hybrid masih dianggap lebih masuk akal untuk menjaga karakter merek yang identik dengan performa tinggi.

Hybrid masih punya ruang

Sukses Sian memberi gambaran bahwa Lamborghini masih punya landasan untuk mengembangkan supercar hybrid. Model plug-in hybrid atau PHEV bahkan disebut bisa menjadi arah menarik, meski pengembangannya lebih rumit.

Di sisi lain, segmen supercar PHEV masih belum terlalu ramai. Sebagian besar merek masih memilih bertahan dengan mesin bensin atau hybrid biasa, sehingga peluang inovasi di area ini masih terbuka.

Di saat pasar mobil listrik terus bertambah ramai, banyak model BEV justru dijual dengan harga lebih mahal dibanding jenis lain. Kondisi itu diperburuk oleh isu insentif dan ekspansi agresif merek China yang membuat produsen dari negara lain semakin tertinggal.

Karena itulah, keputusan Lamborghini untuk tidak ikut terburu-buru masuk ke BEV kini terlihat semakin masuk akal. Saat tren mobil listrik mulai menunjukkan tanda kejenuhan, mempertahankan bahasa desain ikonik sambil mencari jalur elektrifikasi yang lebih aman bisa jadi pilihan paling realistis bagi merek seperti Lamborghini.

Source: ridertua.com

Berita Terkait

Back to top button