Toyota Mulai Tersendat Di Pasar Utama, China Dan Timur Tengah Jadi Sinyal Bahaya

Penjualan Toyota mulai menunjukkan tanda melemah di beberapa pasar besar pada bulan lalu. Sorotan paling jelas datang dari China, karena penurunan di negara itu ikut menekan performa global merek Jepang tersebut.

Toyota selama ini masih memegang posisi sebagai merek otomotif nomor satu di pasar global. Namun dominasi itu kini mendapat tekanan dari pasar yang makin kompetitif, terutama ketika merek-merek China tampil semakin agresif dengan produk yang lebih terjangkau.

Di China, penjualan Toyota turun 3,1 persen dibanding April 2025. Totalnya hanya 849.306 unit, dan angka itu sudah termasuk kontribusi Lexus.

Angka tersebut tetap besar, tetapi masih di bawah level yang biasa dicapai Toyota di pasar itu. Dalam kondisi normal, penjualannya kerap menembus lebih dari 900 ribu unit per bulan.

Tekanan di China tidak berdiri sendiri. Toyota juga mengalami pelemahan di sejumlah kawasan lain, sehingga penurunan ini tidak bisa dianggap sebagai kasus lokal semata.

Di Timur Tengah, penjualan Toyota turun sangat dalam hingga 33,7 persen. Di Amerika Serikat, penurunannya tercatat 4,6 persen, sementara penjualan di luar Jepang secara keseluruhan turun 7,5 persen.

Justru Jepang menjadi pengecualian dalam periode ini. Di pasar domestik, penjualan Toyota naik 24,2 persen dibanding bulan April tahun lalu.

Perbedaan arah itu menunjukkan bahwa performa Toyota sangat bergantung pada karakter pasar masing-masing wilayah. Di Jepang, perubahan kebijakan pajak lingkungan membuat konsumen menunda pembelian mobil, tetapi efeknya disebut hanya sementara.

Kondisi paling berat justru terlihat di China karena persaingan harga dan produk semakin ketat. Merek lokal seperti BYD, Geely, dan Chery terus memperkuat posisi mereka dan telah memimpin pasar dalam beberapa tahun terakhir.

Persaingan itu menyulitkan merek luar China untuk menembus pasar dengan mudah. Toyota pun ikut terdorong ke posisi yang lebih defensif, terutama saat lini elektrifikasinya belum seluas para rival.

Masalah lain ada pada portofolio mobil ramah lingkungan Toyota yang masih terbatas. Model listrik dan plug-in hybrid mereka dinilai belum banyak, dan sebagian besar dibanderol cukup mahal.

Kondisi tersebut membuat Toyota sulit bersaing dengan merek China yang menawarkan kendaraan elektrifikasi dengan harga lebih ramah. Di pasar yang sensitif terhadap harga, faktor ini sangat menentukan.

Situasi serupa juga terlihat di Indonesia, meski Toyota masih menjadi merek otomotif nomor satu. Penjualannya masih unggul jauh dari merek seperti Daihatsu dan Mitsubishi.

Namun merek China mulai naik ke peringkat 10 besar di pasar Indonesia. Jaecoo menjadi yang paling sering terlihat hingga bulan lalu, dengan penjualan yang sebagian besar ditopang J5 EV sebagai mobil listrik terlaris.

Toyota memang sudah punya mobil listrik rakitan lokal melalui bZ4X, tetapi harganya disebut masih cukup mahal. Untuk model plug-in hybrid, Toyota pernah menjual RAV4 PHEV, namun unitnya sangat terbatas.

Di sisi BEV, pilihan Toyota juga masih terbatas pada bZ4X dan Urban Cruiser EV. Selama lini elektrifikasi belum berkembang lebih jauh, tekanan dari merek China berpotensi terus membayangi penjualan Toyota di berbagai pasar penting.

Source: ridertua.com
Exit mobile version