CPCA Usul Tax Jalan Baru Untuk Era NEV, Beban Warga Tetap Nol?

China mulai menghadapi pertanyaan baru soal pembiayaan jalan di era kendaraan listrik. Di tengah lonjakan penetrasi NEV, sistem pajak jalan yang selama ini bergantung pada konsumsi bahan bakar dinilai makin tidak seimbang.

Cui Dongshu, sekretaris jenderal China Passenger Car Association (CPCA), mendorong reformasi sistem pajak jalan agar sesuai dengan perubahan pasar otomotif. Dalam tulisannya di akun WeChat pribadi pada Rabu, ia menilai pajak lama sudah menunjukkan ketimpangan struktural yang jelas.

Menurut data awal CPCA yang dirilis pada hari yang sama, tingkat penetrasi ritel NEV penumpang di China mencapai 63% pada Mei dan kembali mencetak rekor baru. Angka itu memperkuat argumen bahwa kendaraan listrik dan kendaraan energi baru lain kini menjadi penggerak utama penjualan.

Mengapa sistem lama dinilai tak lagi cocok

Selama ini, pengguna mobil berbahan bakar fosil ikut membayar biaya pemeliharaan jalan secara tidak langsung lewat pengisian bahan bakar. Sebaliknya, NEV tidak memakai bahan bakar dan selama ini memakai ruang jalan publik tanpa beban pajak yang setara.

Cui juga menyoroti bobot NEV yang umumnya lebih berat daripada mobil bahan bakar di kelas yang sama karena membawa baterai besar. Beban itu membuat keausan jalan menjadi lebih tinggi, sehingga menurutnya sistem lama tidak lagi adil untuk semua pengguna.

Usulan pajak baru berbasis penggunaan

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, Cui mengusulkan pajak penggunaan jalan kendaraan yang bersifat legal dan dihitung berdasarkan data. Perhitungan itu bisa memanfaatkan data dari sistem satelit Beidou China dan platform pengawasan kendaraan nasional.

Ia membayangkan mekanisme pajak yang lebih komprehensif, dengan dasar perhitungan jarak tempuh, bobot kendaraan, dan kondisi operasional. Model ini akan menggantikan skema pungutan biaya pemeliharaan jalan yang selama ini cenderung seragam.

Cui menekankan bahwa prinsip dasarnya harus mendorong konsumsi dan menguntungkan masyarakat. Ia juga menegaskan sistem baru tidak boleh menambah beban keluarga biasa yang memakai mobil untuk perjalanan harian.

Karena itu, ia mengusulkan kuota jarak tempuh bebas pajak per tahun untuk mobil pribadi. Dengan skema itu, sebagian besar perjalanan harian dan jarak pendek keluarga tetap tidak terkena beban pajak.

Mobil pribadi dan kendaraan niaga diperlakukan berbeda

Cui juga meminta kebijakan baru membedakan secara tegas mobil pribadi dan kendaraan komersial. Kendaraan dengan frekuensi operasi tinggi dan beban berat, seperti truk angkutan barang dan bus penumpang komersial, disebut harus memikul biaya infrastruktur publik yang sesuai.

Pemisahan ini dirancang agar kendaraan operasional menanggung beban yang lebih besar, sementara mobil pribadi tetap mendapat manfaat yang inklusif. Pendekatan tersebut juga dimaksudkan agar reformasi tidak terasa sebagai kebijakan yang menekan konsumen rumah tangga.

Uji coba bertahap sebelum nasional

Untuk menjaga transisi tetap mulus, Cui menyarankan reformasi diterapkan secara bertahap. Ia mengusulkan uji coba dimulai di wilayah yang penetrasi NEV-nya tinggi dan pasar otomotifnya matang, seperti Hainan.

Setelah detailnya disempurnakan dan pengalaman terkumpul, sistem pajak baru itu bisa diperluas ke seluruh negeri secara bertahap. Cara ini, menurutnya, penting untuk meminimalkan dampak fluktuasi kebijakan terhadap konsumsi.

Cui mengingat reformasi 2008 yang mengganti biaya pemeliharaan jalan dengan pajak. Ia menilai langkah tersebut berhasil mendorong konsumsi mobil massal dan membantu meredam tekanan ekonomi saat itu.

Ia berharap putaran baru pembaruan sistem pajak bisa memberi hasil serupa. Target akhirnya, menurut Cui, adalah terciptanya situasi yang menguntungkan semua pihak: beban warga tidak bertambah, konsumsi tetap hidup, dan pembiayaan infrastruktur tetap terjaga.

Source: cnevpost.com

Berita Terkait

Back to top button