
Kemendikdasmen memberi ruang pengecualian bagi calon murid SD yang usianya baru 5 tahun 6 bulan per 1 Juli. Namun, kebijakan ini tidak berlaku umum karena hanya ditujukan untuk anak yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa serta kesiapan belajar yang dibuktikan lewat rekomendasi psikolog profesional atau dewan guru sekolah tujuan.
Poin terpenting dari aturan ini bukan sekadar umur, melainkan kesiapan anak untuk masuk lingkungan sekolah dasar. Karena itu, anak yang lebih muda dari batas umum tetap harus melalui penilaian yang ketat agar sekolah tidak memaksakan beban belajar yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya.
Kesiapan Anak Jadi Penentu
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa usia 5,5 tahun adalah pengecualian. Ia menyebut anak dalam kategori ini harus memiliki kecerdasan dan atau bakat istimewa, lalu disertai surat keterangan dari ahli yang berwenang, seperti psikolog.
Gogot juga menekankan bahwa sekolah perlu menerima bukti kesiapan tersebut sebagai dasar pertimbangan. Menurut dia, syarat ini dibuat agar keputusan masuk SD tidak hanya bertumpu pada angka usia, melainkan pada kesiapan nyata anak.
Guru Diminta Siap Hadapi Murid Lebih Muda
Aturan ini ikut memunculkan perhatian dari kalangan akademisi karena kesiapan belajar setiap anak bisa berbeda. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Arina Restian, menilai kompetensi guru menjadi faktor penting saat menerima murid usia 5,5 tahun di kelas 1 SD.
Arina mengingatkan bahwa tanpa pelatihan khusus, guru berisiko menerapkan standar belajar anak usia 7 tahun kepada murid yang usianya masih jauh lebih muda. Kondisi itu, kata dia, bisa membuat anak stres, mogok sekolah, atau bahkan dilabeli lambat belajar padahal perilakunya masih sesuai dengan fase usia.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan guru SD selama ini cenderung menyiapkan pendidik untuk anak usia 7 sampai 12 tahun. Karena itu, Kemendikdasmen dinilai perlu memberi pelatihan tambahan bagi guru kelas 1 agar mampu menghadapi anak usia dini.
Model Belajar Perlu Diubah
Jika anak 5,5 tahun benar-benar masuk SD, Arina menilai manajemen pembelajaran harus ikut menyesuaikan. Sekolah disarankan menghadirkan kelas 1 transisi yang ramah anak, menyediakan sudut bermain, dan melakukan asesmen awal selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan masing-masing siswa.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang intensif dengan orang tua agar ekspektasi akademik tidak melampaui kesiapan anak. Untuk menjaga fokus belajar, sekolah bisa menerapkan pola pembelajaran yang singkat, bergerak, dan bermain, karena daya tahan fokus anak usia 5,5 tahun disebut sekitar 15 menit.
Arina memberi contoh strategi 15-5-15, yakni 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan berikutnya. Ia juga menyarankan guru menghindari lembar kerja di awal, memberi pilihan kecil kepada anak, dan merayakan keberanian sekecil apa pun agar suasana sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD.
Pandangan Psikolog Soal Usia Masuk SD
Soal usia ideal masuk SD, psikolog dan akademisi Universitas Indonesia, Prof Dr Rose Mini Agoes Salim M Psi, menyebut setiap anak punya kesiapan yang berbeda. Menurut dia, sebagian anak bisa matang belajar sejak usia 6 tahun, bahkan ada yang 5 tahun, sedangkan 7 tahun merupakan usia kematangan rata-rata.
Pandangan serupa disampaikan pakar psikologi perkembangan Universitas Sebelas Maret, Afia Fitriana, S Psi, M Psi. Ia menegaskan bahwa standar masuk sekolah seharusnya bertumpu pada kesiapan belajar, bukan semata umur, dengan perhatian pada perkembangan fisik, mental, sosial, dan emosional.
Afia juga menyebut aspek lain yang perlu dilihat meliputi perkembangan belajar, gerak, bicara, diri, dan kontrol tangan. Dengan dasar itu, pengecualian usia 5,5 tahun dalam aturan Kemendikdasmen tetap diarahkan agar sekolah hanya menerima anak yang benar-benar siap secara psikologis dan perkembangan, bukan sekadar lebih cepat dari batas umum.









