
Perusahaan asuransi kini harus menghadapi risiko baru seiring makin banyaknya mobil listrik di jalan. Biaya klaim untuk kendaraan listrik cenderung lebih mahal karena karakter kerusakannya berbeda dan komponen utamanya tidak murah.
Di tengah pertumbuhan penjualan yang masih positif, industri asuransi dituntut menyesuaikan cara menghitung premi. Garda Oto menyebut tren mobil listrik perlu menjadi perhatian karena pengalaman klaimnya dinilai lebih tinggi dibanding mobil berbahan bakar bensin atau ICE.
Biaya perbaikan jadi sorotan utama
Salah satu tantangan terbesar ada pada biaya perbaikan yang tinggi. Bengkel yang mampu menangani mobil listrik juga belum sebanyak bengkel mobil konvensional, sehingga proses perbaikan tidak semudah kendaraan lama.
Mulia K. B. Siregar, Technical and Operation Director Asuransi Astra, menyebut ada perbedaan besar pada karakteristik risiko mobil listrik. Kerusakan EV bisa melibatkan motor elektrik dan baterai berkapasitas besar yang tidak ada pada kendaraan konvensional.
Baterai menjadi komponen paling mahal dalam mobil listrik. Karena itu, biaya perbaikan hingga penggantiannya bisa sangat tinggi dan langsung memengaruhi nilai klaim.
Premi harus seimbang dengan risiko
Mulia menegaskan bahwa secara konsep, premi harus cukup untuk menutup risiko yang dibawa kendaraan. Ia menyebut pengalaman klaim mobil listrik relatif lebih tinggi dibanding mobil ICE, sehingga pricing tidak bisa disamakan begitu saja.
“Asuransi harus memastikan bahwa premi yang dibayar pelanggan sesuai dengan risikonya,” ujarnya dalam penjelasan di Jakarta, Rabu (03/06). Dari sisi industri, kondisi ini mendorong perusahaan asuransi untuk menyusun strategi baru di tengah pertumbuhan pasar EV.
Penyesuaian itu mencakup perhitungan premi yang lebih tepat agar kebutuhan pelanggan tetap terjaga. Di saat yang sama, perusahaan juga perlu memastikan perlindungan yang diberikan masih sejalan dengan potensi biaya klaim yang lebih besar.
Pasar EV tumbuh, tantangan asuransi ikut naik
Pertumbuhan mobil listrik di dalam negeri juga membuat isu ini semakin penting. Data wholesales atau distribusi dari pabrik ke diler menunjukkan penjualan EV pada periode 2025 mencapai 103.931 unit.
Jumlah itu menandakan pasar EV terus berkembang dan peluang asuransi kendaraan listrik makin besar. Namun, populasi EV yang masih lebih sedikit dibanding ICE membuat kebijakan asuransi untuk segmen ini belum sepenuhnya stabil dan masih akan berubah dari waktu ke waktu.
Mulia menyebut industri akan masuk dengan calculated risk sambil membaca arah kompetisi di pasar. Perusahaan juga perlu memastikan mereka bisa memberi value terbaik kepada pelanggan tanpa mengabaikan risiko klaim yang lebih mahal pada mobil listrik.
Source: otomotif.katadata.co.id








