XPeng tengah menghadapi tekanan yang tidak ringan di pasar China, dan dampaknya sudah mulai terasa pada proyeksi bisnis mereka. Merek mobil listrik premium asal China itu memperkirakan pendapatan kuartal kedua 2026 akan menurun, seiring lesunya permintaan mobil listrik di pasar domestiknya.
Situasi ini menjadi penting karena China selama ini menjadi pasar terbesar bagi penjualan mobil global. Ketika permintaan di sana melemah, banyak merek langsung ikut terkena imbas, termasuk XPeng yang selama ini tampil cukup kuat di segmen kendaraan listrik mewah.
Permintaan melambat, insentif ikut hilang
Salah satu pemicu utama tekanan itu datang dari berakhirnya insentif mobil listrik sejak awal tahun ini. Akibatnya, konsumen harus berpikir lebih lama sebelum membeli mobil listrik, terutama ketika pilihan kendaraan yang lebih murah seperti hybrid dan PHEV semakin menarik.
Perubahan itu membuat pasar bergerak ke arah yang lebih hati-hati. Banyak pembeli kini mencari mobil yang tetap ramah lingkungan, tetapi harganya lebih terjangkau dibanding EV murni.
XPeng sendiri masih bertahan sebagai salah satu merek mobil listrik premium yang dikenal di China dan Indonesia. Di Indonesia, merek ini baru menjual dua model, yaitu G6 dan X9, dan keduanya mendapat sambutan cukup baik di segmennya masing-masing.
Penjualan kuartal pertama turun tajam
Tekanan pasar terlihat jelas dari angka penjualan XPeng di China. Pada Januari hingga Maret 2026, XPeng hanya membukukan 62.682 unit, turun 33,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 94.008 unit.
Penurunan sebesar itu memberi sinyal bahwa situasi bisnis mereka sedang tidak ideal. Di saat yang sama, pasar juga makin ramai oleh mobil HEV dan PHEV yang penjualannya terus naik.
Meski begitu, XPeng masih percaya diri. Perusahaan itu tetap memasang target penjualan 100 ribu unit untuk kuartal kedua tahun ini, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka masih punya ruang untuk bertahan.
Tidak separah merek yang kena restrukturisasi
Kondisi XPeng memang terdengar berat, tetapi belum sampai ke level merek lain yang lebih terpuruk. Neta, misalnya, disebut sudah harus melakukan restrukturisasi, sementara dampaknya juga merembet ke pasar global dan membuat merek itu absen merilis mobil baru di Indonesia.
XPeng masih berada di posisi yang lebih aman karena produknya tetap diterima pasar. Selama ini, mereka masih bisa menjual mobil seperti biasa, meski tekanan dari pasar China tidak bisa diabaikan.
Indonesia masih jadi pasar yang menjanjikan
Di Indonesia, XPeng masih mengandalkan G6 sebagai model utama di segmen SUV mewah. Model X9 disebut lebih laris lagi, meski angka detail penjualannya tidak diumumkan.
XPeng juga belum menutup peluang untuk menambah model baru di Indonesia. Salah satu kandidat yang disiapkan adalah P7, yang dinilai menarik karena desainnya unik dan punya daya tarik tersendiri di mata konsumen.
Namun, XPeng masih menunggu waktu yang tepat untuk membawanya ke pasar Indonesia. Tantangannya tidak kecil karena mereka harus bersaing dengan nama-nama besar seperti Lexus, BMW, Mercedes-Benz, Denza, dan Maxus.
Persaingan itu membuat XPeng perlu menawarkan produk yang benar-benar kuat jika ingin memperbesar pijakan di Indonesia. Di sisi lain, perbedaan kondisi pasar China dan global juga menunjukkan bahwa penurunan di satu negara bisa ikut memengaruhi langkah bisnis mereka di banyak pasar lain.
Source: ridertua.com