Pernyataan berani datang dari Xpeng di tengah persaingan sengit teknologi swakemudi. Kepala autonomous driving perusahaan itu, Dr. Xianming Liu, mengklaim Xpeng sudah cepat menyusul Full Self-Driving v13 milik Tesla.
Liu menyampaikan klaim itu dalam wawancara dengan Electrek, sambil menyoroti besarnya anggaran pelatihan AI yang dipakai Xpeng. Menurutnya, perusahaan menggelontorkan sekitar US$41 juta per bulan untuk melatih sistem tersebut.
Liu juga kembali menjelaskan frasa yang selama ini melekat padanya, yakni “language is poison”. Ia menegaskan Xpeng masih menerima input bahasa dari pengemudi, tetapi tidak ingin kendaraan membentuk representasi mirip bahasa saat berkendara.
Cara kerja yang berbeda dari Tesla
Menurut penjelasan yang dikutip Electrek, sistem terbaru Xpeng melewati satu langkah perantara. Mobil tidak lagi mengubah apa yang dilihat menjadi token bergaya bahasa sebelum diterjemahkan menjadi perintah berkendara.
Liu mengatakan penghapusan langkah tengah itu mengurangi pemborosan komputasi dan latensi. Ia juga menyebut Xpeng sedang memasangkan pendekatan itu dengan “world model” untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi di jalan, dengan peluncuran produksi yang diharapkan pada akhir tahun ini.
Xpeng disebut memakai tumpuan utama berbasis visi atau vision-only untuk driving stack-nya. Namun, beberapa kendaraan masih dilengkapi radar dan sensor ultrasonik untuk sistem keselamatan darurat terpisah seperti pengereman dan kemudi otomatis.
Posisi itu membuat Xpeng berada di tengah dua kubu besar dalam debat teknologi swakemudi. Di satu sisi ada filosofi kamera-only seperti Tesla, sementara di sisi lain ada pendekatan yang lebih sarat sensor seperti Waymo.
China sebagai medan uji
Liu juga menilai jalanan China memberi keuntungan besar untuk pengembangan kendaraan otonom. Ia mengatakan kondisi di sana menyediakan peluang lebih besar untuk menemukan corner cases dan mengumpulkan data.
Menurutnya, itu adalah salah satu keunggulan yang dimiliki Xpeng. Besarnya data dan variasi situasi jalan dinilai penting untuk melatih sistem agar lebih siap menghadapi kondisi nyata.
Di sisi lain, perdebatan soal cara terbaik membangun sistem keselamatan masih terbuka. Electrek menyinggung bahwa Waymo dan Tesla berada di dua ujung spektrum kamera versus sensor, sementara Xpeng memilih jalan yang berbeda.
Taruhan reputasi ikut dipertaruhkan
Klaim Liu menjadi lebih sensitif karena ada taruhan publik yang mengaitkannya dengan benchmark Tesla. Jika Xpeng gagal memenuhi tolok ukur Tesla, ia disebut harus berlari telanjang di Golden Gate Bridge.
Liu tampak yakin tak perlu menepati taruhan itu. Ia mengatakan berdasarkan test drive, target tersebut sudah tercapai.
Ia juga menekankan bahwa perbedaan ini bukan sekadar soal teknologi konsumen biasa. Menurutnya, ketika menyangkut kendaraan otonom, yang dipertaruhkan adalah keselamatan manusia.
Bertaruh besar pada AI
Pengeluaran besar Xpeng menunjukkan seberapa jauh produsen mobil kini masuk ke ranah perangkat lunak. Dana tidak lagi hanya mengalir ke pabrik dan baterai, tetapi juga ke sistem AI yang menentukan performa dan keselamatan berkendara.
Pendekatan Xpeng menambah satu opsi lain di tengah debat lama soal kamera, sensor, dan cara terbaik memproses data di jalan. Dengan rencana peluncuran produksi pada akhir tahun ini, perhatian pasar kini tertuju pada apakah klaim Liu akan terlihat di jalanan, bukan hanya di ruang wawancara.
