Kenaikan harga BBM non-subsidi kembali jadi perhatian besar di pasar otomotif nasional. Pertamax 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 bergerak dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Lonjakan itu memperlebar jarak harga dengan Pertalite yang masih ditahan pemerintah di angka Rp10.000. Di sisi lain, kenaikan ini datang saat industri otomotif berusaha menjaga momentum pemulihan penjualan di tengah daya beli yang masih sensitif.
Dampak ke biaya harian dan keputusan beli
Gejolak harga minyak dunia ikut mendorong perubahan harga BBM di dalam negeri. Faktor itu juga membuat biaya operasional pengguna kendaraan naik, terutama bagi mereka yang mengandalkan Pertamax untuk aktivitas harian.
Toyota melihat efeknya tidak berhenti di pompa bensin. Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Bansar Maduma, menyebut kenaikan harga bahan bakar yang signifikan berpotensi memberi dampak luas ke berbagai aspek kehidupan dan sektor industri lain.
Ia mencontohkan penyesuaian biaya yang mulai terasa di beberapa sektor bisnis, termasuk tarif transportasi udara dan layanan lainnya. Menurut Toyota, situasi ini juga dapat memengaruhi minat masyarakat terhadap mobil yang lebih efisien, termasuk kendaraan hybrid.
Bansar menjelaskan bahwa konsumen akan semakin selektif dalam mengatur pengeluaran. Karena itu, kebutuhan terhadap kendaraan elektrifikasi seperti Hybrid EV dinilai bisa meningkat di tengah tekanan biaya hidup.
Toyota menegaskan akan terus berkoordinasi dengan manufacturing, dealer, dan seluruh value chain. Langkah itu ditujukan untuk mengoptimalkan paket penjualan serta purnajual agar tetap kompetitif bagi konsumen.
Honda dan Daihatsu sama-sama memantau pasar
Honda menilai harga BBM tetap menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan pembelian mobil. Sales & Marketing and After Sales PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, mengatakan konsumen mempertimbangkan banyak hal sebelum membeli kendaraan.
Pertimbangan itu mencakup kebutuhan mobilitas, kondisi ekonomi, value produk, hingga harga BBM. Honda pun menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar dan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Billy menambahkan bahwa efisiensi bahan bakar tetap menjadi fokus di semua lini produk Honda. Selain itu, kenyamanan dan layanan purna jual juga disebut tetap menjadi bagian dari strategi perusahaan.
Daihatsu juga melihat pengeluaran bahan bakar sebagai pertimbangan krusial sebelum konsumen membeli kendaraan. Marketing and Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani, menyebut pihaknya akan terus mencermati kondisi pasar.
Agung mengatakan lini Daihatsu masih didominasi penggunaan BBM yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Indonesia. Sebagai pabrikan yang menjual lini bermesin bensin, Daihatsu memilih memantau situasi lebih dulu sebelum menarik kesimpulan yang lebih jauh.
JAECOO melihat peluang di kendaraan elektrifikasi
Di sisi lain, JAECOO membaca kenaikan BBM sebagai momentum positif untuk kendaraan New Energy Vehicle atau NEV di Indonesia. Segmen ini mencakup plug-in hybrid atau PHEV hingga Battery Electric Vehicle alias BEV.
Head of Marketing JAECOO Indonesia, Mohamad Ilham Pratama, menyebut BEV dan PHEV bisa menjadi pilihan berkendara modern yang lebih efisien bagi konsumen. Ia juga menegaskan bahwa produk NEV JAECOO menawarkan efisiensi sekaligus performa.
Ilham memberi contoh bahwa biaya operasional mobil listrik per bulan bisa berada di bawah Rp300 ribu. Sementara itu, mobil PHEV disebut bisa berada di bawah Rp700 ribu.
Dengan asumsi jarak tempuh 1.500 km per bulan, JAECOO menyebut J5 EV membutuhkan biaya Rp290.760. Untuk J7 SHS-P biayanya Rp543.243, sedangkan J8 SHS-P ARDIS sebesar Rp668.076.
JAECOO menilai pengeluaran itu bisa menghasilkan penghematan lebih dari Rp1 juta per bulan dibandingkan mobil ICE pada umumnya. Untuk jarak tempuh yang sama, perusahaan menyebut J5 EV bisa menghemat Rp2.146.740 per bulan, J7 SHS-P Rp1.894.257, dan J8 SHS-P ARDIS Rp1.769.424.
