
Wuling Eksion PHEV menarik perhatian bukan hanya karena statusnya sebagai SUV plug-in hybrid, tetapi juga karena cara kerja energinya yang dibuat sangat fleksibel. Model ini punya empat energy mode yang membedakannya dari banyak SUV lain yang umumnya hanya menawarkan mode berkendara biasa.
Di pasar, Eksion PHEV disebut lebih laris dibanding versi BEV-nya. Sambutan itu ikut terdorong oleh desain modern dan teknologi yang dianggap lengkap, meski model BEV-nya juga tetap mendapat pesanan dari konsumen.
Secara teknis, Wuling Eksion PHEV masih mengandalkan mesin bensin 1.500 cc dengan transmisi Dedicated Hybrid Transmission atau DHT. Sistem itu lalu dipadukan dengan teknologi plug-in hybrid dan baterai 20,5 kWh untuk memberi kombinasi tenaga bensin dan listrik yang lebih efisien.
Dengan paket tersebut, mobil ini diklaim bisa menempuh lebih dari 1.000 km saat memanfaatkan bensin dan listrik secara gabungan. Saat hanya memakai tenaga listrik, jarak tempuhnya disebut mencapai 125 km.
Empat mode energi yang disiapkan
Wuling membekali Eksion PHEV dengan EV Max, EV First, Hybrid, dan Fuel Priority. Keempatnya bukan dibuat untuk mengubah karakter jalan seperti mode berkendara pada SUV umumnya, melainkan untuk mengatur sumber tenaga yang dipakai mobil.
EV Max menjadi mode yang paling dekat dengan pengalaman mobil listrik murni. Saat mode ini aktif, mobil mengutamakan tenaga listrik sepenuhnya sampai sisa daya baterai tinggal 12 persen, lalu sistem otomatis berpindah ke Hybrid.
Dengan pola itu, pengemudi bisa merasakan karakter seperti mengendarai mobil listrik, tetapi dengan batas penggunaan yang mengikuti kapasitas baterai. Mode ini cocok untuk kebutuhan yang ingin memaksimalkan listrik tanpa campur tangan mesin bensin.
EV First dan Hybrid lebih praktis
Berbeda dari EV Max, EV First tetap memberi bantuan dari mesin bensin, tetapi baru bisa dipakai setelah daya baterai tersisa 35 persen. Wuling menyebut mode ini bersama Hybrid lebih praktis dan tidak terlalu merepotkan bagi pengguna.
Mode Hybrid bekerja dengan menyeimbangkan tenaga listrik dan bensin secara otomatis sesuai beban atau kebutuhan berkendara. Hasilnya, mobil bisa terasa lebih halus, responsif, dan efisien dalam berbagai situasi.
Karakter Hybrid juga membuat Eksion PHEV punya pendekatan yang mirip mobil hibrida pada umumnya. Kombinasi kedua sumber tenaga itu dirancang untuk menjaga efisiensi tanpa membuat pengemudi perlu terlalu sering mengatur sistem.
Fuel Priority jadi kebalikan EV Max
Satu mode lain adalah Fuel Priority, yang bisa dibilang kebalikan dari EV Max. Pada mode ini, mobil memakai tenaga mesin bensin saja terlebih dahulu.
Jika bensin habis, tenaga listrik murni bisa mulai diandalkan dari baterai yang tersisa saat mobil dipakai di area perkotaan. Polanya membuat mobil tetap bisa berjalan seperti mobil konvensional, tetapi masih menyimpan cadangan tenaga listrik saat dibutuhkan.
Konsep empat mode energi ini membuat Eksion PHEV terasa unik, karena fokusnya bukan pada mode jalan, melainkan pada strategi penggunaan energi. Bagi konsumen, hal ini memberi pilihan lebih jelas antara memaksimalkan listrik, memakai kombinasi keduanya, atau mendahulukan bensin sesuai kebutuhan harian.
Di tengah pasar SUV yang ramai dengan produk merek senegara, kehadiran teknologi semacam ini menjadi salah satu modal penting Wuling. Apalagi model ini disebut punya harga yang cukup terjangkau untuk kelas SUV, sementara rival seperti Chery Tiggo 8 CSH masih tercatat sebagai PHEV terlaris sejauh ini.
Source: ridertua.com








