
Di balik dua bangunan putih sederhana di luar Detroit, General Motors sedang menguji taruhan besar untuk menekan harga mobil listrik. Perusahaan ini ingin membuat baterai EV yang jauh lebih murah tanpa mengorbankan jarak tempuh yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama kendaraan listrik.
Langkah itu berpusat di Battery Cell Development Center yang baru dibuka di Warren Tech Center. Di fasilitas ini, GM berusaha membawa kimia baterai lithium-manganese-rich atau LMR dari tahap laboratorium menuju produksi massal.
Taruhan besar di balik baterai LMR
GM memandang proyek ini sebagai bagian penting dari investasi EV senilai $900 juta. Dari luar, dua gedung off-white yang tampak biasa justru menyimpan upaya untuk memangkas harga mobil listrik hingga ribuan dolar.
Menurut TechCrunch, pengembangan ini juga berpotensi membuat baterai berbiaya lebih rendah tersedia sekitar satu tahun lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Bagi GM, percepatan itu penting karena persaingan EV kini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal harga yang bisa diterima pembeli.
GM menyebut LMR bisa memberi keseimbangan antara performa dan harga. Kepadatan energinya diklaim mendekati baterai nickel-manganese-cobalt yang lebih mahal, sementara biayanya lebih dekat ke paket lithium-iron-phosphate.
Pada kendaraan seperti Chevrolet Silverado EV, GM juga mengatakan kimia ini dapat mempertahankan sebagian besar jarak tempuh lebih dari 400 mil. Di saat yang sama, biaya kendaraan tersebut bisa turun setidaknya $6,000.
Dari laboratorium ke produksi massal
Fasilitas baru ini dirancang sebagai jembatan antara penemuan awal dan pabrik skala besar. Mo Gallegos, kepala BCDC di GM, menyebut pusat itu dibuat untuk “bridge the gap,” dengan fungsi sebagai operasi pilot yang lebih besar.
Di sana, insinyur menguji apakah hasil riset kecil benar-benar bisa dipindahkan ke manufaktur besar. GM menargetkan transfer proses itu ke pabrik baterai yang jauh lebih besar di Tennessee dan Ohio.
Skala uji coba di Warren juga memberi keuntungan biaya. Setiap test run memakan sekitar $200,000, jauh lebih murah dibanding mengerjakan pekerjaan serupa di pabrik penuh skala produksi.
Untuk mempercepat pengembangan, GM memakai AI dan pemodelan komputer tingkat lanjut. Perusahaan mengatakan sudah menghabiskan lebih dari 150 juta jam CPU untuk mensimulasikan LMR dan membangun digital twin seluruh fasilitas, termasuk sistem kabel dan pencampurannya.
Mengapa GM begitu agresif mengejar biaya baterai
Biaya baterai masih menjadi salah satu alasan utama harga jual EV tetap tinggi. Jika GM berhasil, baterai yang lebih murah bisa membantu mobil listrik mendekati harga kendaraan bensin yang setara.
Bagi konsumen, dampaknya tidak hanya pada harga beli. EV yang lebih terjangkau juga bisa memperkuat daya tarik biaya bahan bakar dan perawatan yang lebih rendah, terutama ketika harga bensin naik.
GM sendiri sedang berada dalam fase penyesuaian strategi EV setelah menghadapi sejumlah tekanan keuangan. Di tengah pertumbuhan penjualan kendaraan listrik global, perusahaan ini menaruh harapan besar pada baterai murah untuk memperkuat posisinya saat pembeli menimbang nilai dan kepraktisan.
Kurt Kelty, wakil presiden battery and sustainability GM, menyebut teknologi ini akan menjadi inti bisnis baterai perusahaan. “That is really going to be our bread and butter,” kata Kelty kepada TechCrunch.
Kelty juga menegaskan tantangan sebenarnya baru muncul setelah formula baterai bekerja di lingkungan riset. Berikutnya adalah memastikan proses itu tetap efisien saat diproduksi dalam volume tinggi.
Target berikutnya di depan mata
GM mengatakan fasilitas ini mampu membuat sekitar 2,500 sel per hari. Kapasitas itu menjadi tahap penting untuk menguji apakah baterai LMR bisa naik kelas dari eksperimen ke produksi yang konsisten.
Jika seluruh upaya ini berhasil, GM menyebut kendaraan bertenaga LMR bisa hadir di jalan pada 2028. Untuk saat ini, dua bangunan putih di Warren menjadi pusat dari salah satu pertaruhan terbesar GM dalam upaya membuat EV lebih murah tanpa kehilangan jarak tempuh.









