Pindad Siapkan Mobil Nasional TKDN Tinggi, Tantang Dominasi Komponen Impor di Indonesia

PT Pindad tengah menyiapkan proyek mobil nasional yang menonjol lewat kandungan komponen lokal tinggi. Pemerintah ingin kendaraan ini melampaui capaian TKDN mobil listrik yang saat ini berada di kisaran 30 sampai 70 persen.

Dorongan itu menempatkan Pindad di pusat agenda kemandirian industri manufaktur nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut proyek mobnas ini sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi dalam negeri, dengan target nilai TKDN yang lebih tinggi dari kendaraan listrik yang sudah ada.

Dorongan kemandirian industri

Agus menyampaikan rencana tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI. Ia menegaskan bahwa perhatian terhadap TKDN menjadi ukuran penting dalam pengembangan industri nasional, termasuk saat meninjau pabrik-pabrik.

"Kalau saya mengunjungi pabrik-pabrik, pabrik-pabrik apa pun itu, pasti yang saya tanya TKDN-nya berapa persen. Mobil listrik kita rata-ratanya TKDN-nya 30 sampai 70 persen. Walaupun memang nanti kita harapkan mobnas yang sekarang sedang didesain oleh Pindad itu akan memiliki nilai TKDN yang lebih tinggi," kata Agus Gumiwang Kartasasmita.

Pernyataan itu memberi sinyal bahwa mobil nasional yang disiapkan Pindad tidak hanya dilihat sebagai produk baru. Proyek ini juga diposisikan sebagai tolok ukur baru bagi industri otomotif yang lebih mandiri dan lebih banyak menyerap komponen lokal.

Arah hilirisasi yang lebih luas

Gagasan kendaraan nasional juga sejalan dengan penekanan Presiden Prabowo Subianto soal industrialisasi. Ia berulang kali menegaskan pentingnya membangun kendaraan sendiri, bukan hanya memasarkan produk untuk kebutuhan pasar.

"Kita harus industrialisasi, kita harus bikin mobil sendiri, kita harus bikin motor sendiri, kita harus bikin televisi komputer handphone kita sendiri. Kita tidak boleh hanya dari pasar untuk pasar lain," ujar Prabowo Subianto.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa proyek mobil nasional tidak berdiri sendiri. Arah kebijakannya mencakup hilirisasi yang lebih luas, dari roda empat hingga sepeda motor, bus, dan truk produksi lokal.

Tahap awal di Subang

Langkah teknis proyek ini juga mulai terlihat di Subang. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin meninjau langsung pembangunan fasilitas manufaktur yang diproyeksikan menjadi instalasi strategis nasional pada Rabu (10/6/2026).

Dalam kunjungan itu, Direktur Utama PT Pindad Sigit P. Santosa memaparkan cetak biru kawasan industri otomotif terintegrasi. Tahap awal pembangunan akan memakai lahan 60 hektare dengan kapasitas produksi 50 ribu unit kendaraan per tahun.

Rencana jangka panjangnya jauh lebih besar. Kawasan manufaktur itu akan meluas hingga 539 hektare dengan target kapasitas 300.000 unit per tahun.

Ekosistem produksi yang terintegrasi

Proyek ini tidak hanya menyiapkan lini perakitan. Pindad juga merancang fasilitas produksi, pusat rekayasa, dan area pengujian dalam satu kawasan terpadu.

Skema tersebut diharapkan membangun ekosistem otomotif nasional yang lebih lengkap. Selain itu, pengembangan ini diproyeksikan menyerap sekitar 2.000 tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi di wilayah Subang.

Dengan target TKDN yang tinggi dan skala kawasan industri yang besar, mobil nasional Pindad menjadi salah satu proyek yang paling menonjol dalam agenda penguatan manufaktur dalam negeri. Fokusnya kini bukan hanya pada kemampuan memproduksi kendaraan, tetapi juga pada seberapa besar rantai pasok lokal bisa ikut tumbuh di belakangnya.

Exit mobile version