Xiaomi mencatat penjualan mobil listrik yang terus naik, tetapi bisnis ini justru masih menggerus keuangan perusahaan. Dalam kuartal pertama 2026, segmen otomotif Xiaomi membukukan kerugian operasional Rp8,2 triliun meski 80.856 unit mobil berhasil terjual.
Besarnya kerugian itu membuat setiap mobil yang dikirim ke konsumen setara dengan kerugian sekitar Rp101 juta per unit. Angka ini menonjol karena memperlihatkan bahwa pertumbuhan volume belum otomatis mengubah bisnis kendaraan listrik Xiaomi menjadi menguntungkan.
Kondisi ini muncul saat Xiaomi sebenarnya mencetak pendapatan besar dari segmen smart EV dan inovasi AI. Nilainya mencapai Rp52,2 triliun atau sekitar USD 2,9 miliar pada periode yang sama.
Masalah utamanya ada pada profitabilitas, bukan permintaan pasar. Xiaomi masih mampu menjual mobil dalam jumlah besar, tetapi struktur biaya dan komposisi produk membuat margin tertekan.
Margin kotor segmen EV Xiaomi turun menjadi 20,1 persen dari sebelumnya 23,2 persen. Penurunan ini terjadi ketika biaya komponen inti meningkat dan porsi penjualan model dengan harga lebih terjangkau ikut membesar.
Selain itu, subsidi pajak pembelian kendaraan juga ikut disebut sebagai salah satu faktor yang menekan margin. Di sisi lain, kontribusi SU7 Ultra yang punya margin lebih tinggi ikut menurun dalam bauran penjualan.
Artinya, Xiaomi tidak kekurangan pembeli, tetapi lebih banyak menjual model yang memberi keuntungan lebih tipis. Saat biaya komponen naik bersamaan dengan perubahan komposisi penjualan, tekanan terhadap laba pun makin terasa.
Jika dilihat dari volume, performa Xiaomi sebenarnya masih menunjukkan ekspansi. Penjualan kuartal pertama 2026 mencapai 80.856 unit, naik 6,6 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Rata-rata harga jual mobil listrik Xiaomi pada periode ini sekitar Rp623 juta atau USD 34.600. Namun, angka harga jual itu belum cukup menutup biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk setiap unit yang dilepas ke pasar.
Perbandingan dengan periode sebelumnya juga menunjukkan tekanan yang membesar. Tahun lalu, kerugian per unit masih sekitar Rp16 juta, sedangkan kini melonjak menjadi Rp101 juta per mobil.
Lonjakan kerugian per unit ini menegaskan bahwa skala penjualan belum sepenuhnya menghasilkan efisiensi yang dibutuhkan. Dalam fase awal bisnis otomotif, pertumbuhan cepat memang bisa berjalan beriringan dengan beban investasi dan biaya produksi yang masih tinggi.
Di tengah tekanan itu, minat pasar terhadap mobil listrik Xiaomi belum melemah. Seri YU7 disebut telah mencatat penjualan 232.000 unit dalam 10 bulan.
Generasi baru SU7 yang diluncurkan pada Maret 2026 juga langsung mengumpulkan lebih dari 80.000 pesanan. Data ini menunjukkan daya tarik merek dan produk Xiaomi di pasar kendaraan listrik masih sangat kuat.
Tren permintaan juga terlihat pada penjualan bulanan. Pada April 2026, Xiaomi mencatat penjualan 36.702 unit mobil.
Angka tersebut naik 28,4 persen dibanding tahun lalu dan melonjak 71,2 persen dibanding Maret. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa masalah utama Xiaomi saat ini bukan pada sisi penjualan, melainkan pada kemampuan mengubah permintaan tinggi menjadi keuntungan yang sehat.
Situasi ini menggambarkan tantangan klasik dalam industri mobil listrik. Perusahaan bisa tumbuh cepat lewat harga kompetitif dan fitur canggih, tetapi tetap harus menghadapi biaya komponen inti, insentif pasar, serta tekanan margin dari model yang lebih murah.
Bagi Xiaomi, fase ini memperlihatkan bahwa ekspansi ke otomotif masih berada dalam tahap investasi besar. Perusahaan tampaknya masih membangun fondasi ekosistem mobil listrik, sambil mengejar volume dan memperluas penerimaan pasar.
Dari sudut pandang konsumen, strategi seperti ini bisa terlihat menarik karena menghadirkan produk dengan harga yang agresif. Namun dari sisi perusahaan, konsekuensinya adalah jalan menuju profitabilitas menjadi lebih panjang dan lebih mahal.
Data kuartal pertama 2026 memperjelas kontras itu. Xiaomi berhasil menjual puluhan ribu mobil, menghasilkan puluhan triliun rupiah pendapatan, tetapi tetap harus menanggung kerugian operasional besar karena margin yang menurun dan biaya yang belum terkendali.
Selama permintaan tetap kuat, Xiaomi masih punya ruang untuk memperbesar skala bisnisnya. Namun laporan ini menunjukkan bahwa dalam bisnis mobil listrik, tingginya penjualan saja belum cukup jika setiap unit yang keluar dari showroom masih meninggalkan kerugian besar bagi perusahaan.
Source: www.suara.com