Seorang warga Portland mendadak berhadapan dengan masalah yang jauh lebih besar dari renovasi rumah biasa. Khanh Tran mengatakan properti barunya berubah menjadi tempat pembuangan ratusan hingga mungkin ribuan ban bekas, dan tidak ada pihak yang mau mengaku sebagai pemiliknya.
Tran membeli lahan seluas 1,2 acre itu pada April. Saat kesepakatan dibuat, menurut pengakuannya kepada stasiun lokal KATU, hanya ada tumpukan kecil berisi kurang dari 40 ban di lokasi.
Perubahan drastis dalam waktu singkat
Ketika Tran kembali pada akhir Maret, kondisi properti disebut belum banyak berubah. Namun saat ia datang lagi pada 6 Juni untuk memulai pekerjaan konstruksi dan pemulihan lahan, situasinya sudah jauh berbeda.
Ia menemukan dinding-dinding ban yang menjulang, dengan sebagian tumpukan dilaporkan setinggi enam kaki atau lebih. Di salah satu bagian lahan, bahkan ada ruang darurat yang dibuat dari ban dan dilengkapi furnitur.
Tran menilai penumpukan itu terjadi dalam waktu kurang dari 90 hari. “I didn’t know the disaster that was going to come with it,” katanya.
Penyelidikan meluas ke berbagai lembaga
Kasus ini kini memicu perhatian sejumlah otoritas. Kantor Sheriff Multnomah County, petugas kesehatan setempat, lembaga regional Metro, dan Oregon Department of Environmental Quality semuanya terlibat dalam penyelidikan.
Tran dan seorang tetangga menduga ada pihak yang menyamar sebagai layanan daur ulang ban. Menurut dugaan itu, ban bekas diambil dari bisnis-bisnis lalu dibuang secara ilegal di properti Tran.
Hingga saat ini, belum ada tersangka yang diumumkan ke publik. Situasi itu membuat pemilik lahan baru tersebut terjebak dengan tumpukan limbah yang sulit dipindahkan dan belum jelas asal-usulnya.
Masalah ban bekas bukan kasus kecil
Metro menyebut timnya sudah mengangkut lebih dari 14.000 ban yang dibuang secara ilegal dari properti publik selama setahun terakhir. Dari jumlah itu, 5.600 ban diangkat hanya pada bulan Mei.
Data itu menunjukkan bahwa pembuangan ban ilegal menjadi persoalan yang terus berulang di wilayah tersebut. Dalam kasus Tran, jumlah ban di lahannya membuat akses ke sebagian besar area properti tertutup dan rencana rehabilitasi lahan tertunda.
Upaya mencari bantuan biaya pembersihan
Tran kini berusaha mencari cara agar lokasi itu bisa dibersihkan. Untuk menutup biaya pembuangan, ia membuat kampanye GoFundMe dan berharap ada donasi yang bisa membantu meringankan beban tersebut.
Kasus ini menyoroti risiko yang kadang muncul saat membeli properti yang tampak biasa saja di awal. Bagi Tran, yang semula hanya ingin memulai pembangunan, lahan barunya justru berubah menjadi masalah lingkungan dan logistik yang besar, dengan ribuan ban yang belum ada pihak mau bertanggung jawab.
Source: www.carscoops.com