Korlantas Polri membuka jalan yang lebih longgar bagi warga yang ingin membuat SIM. Masyarakat kini diizinkan berlatih ujian praktik secara mandiri di Satpas wilayah masing-masing tanpa dipungut biaya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghapus anggapan bahwa ujian SIM sulit dan memberatkan. Kepolisian juga menegaskan bahwa proses penerbitan SIM saat ini sudah jauh lebih mudah karena regulasi dan fasilitasnya terus disesuaikan.
Dirregident Korlantas Polri Brigjen Pol Wibowo mengatakan, sistem penerbitan SIM untuk masyarakat kini sudah sangat mudah. Salah satu perubahan yang paling terasa adalah perombakan total materi ujian praktik.
Latihan gratis sebelum ujian resmi
Bagi warga yang ingin menambah kesiapan sebelum mengikuti tes resmi, Korlantas memberi ruang latihan di Satpas. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan untuk mengasah keterampilan berkendara sekaligus membangun rasa percaya diri saat menghadapi ujian.
Menurut Wibowo, kesempatan latihan mandiri di Satpas memang diperbolehkan. Ia menegaskan bahwa masyarakat dapat menggunakan fasilitas itu secara gratis.
Kebijakan ini dinilai penting karena tidak semua daerah memiliki sarana pelatihan khusus. Dengan akses latihan di Satpas, pemohon SIM tetap memiliki tempat untuk mempersiapkan diri sebelum diuji.
Namun, penggunaan lapangan praktik tidak bisa dilakukan sembarangan. Warga tetap harus berkoordinasi dan meminta izin lebih dulu kepada petugas kepolisian di Satpas setempat.
Selain itu, latihan hanya dapat dilakukan di luar jam dinas. Pada jam kerja, lapangan praktik diprioritaskan untuk pemohon SIM yang sedang menjalani ujian resmi.
Ujian praktik diubah agar lebih realistis
Perubahan besar juga dilakukan pada lintasan ujian praktik. Korlantas menghapus metode lama yang selama ini dinilai publik tidak realistis dan kurang berhubungan langsung dengan kondisi berkendara di lapangan.
Wibowo mencontohkan salah satu perubahan tersebut ada pada penghapusan putaran angka 8. Menurut dia, materi ujian kini disesuaikan dengan kondisi yang lebih relevan dengan kebutuhan berkendara sehari-hari.
Penyesuaian lintasan ini menjadi sinyal bahwa pendekatan ujian tidak lagi semata menekankan kesulitan teknis. Fokusnya bergeser ke kemampuan berkendara yang benar-benar dibutuhkan saat berada di jalan.
Perubahan itu juga dimaksudkan untuk mengurangi stigma lama seputar ujian SIM. Selama ini, banyak warga menilai tes praktik terlalu sulit sehingga proses membuat SIM terasa menakutkan sejak awal.
Ada ISDC di beberapa Polda
Di luar Satpas, Korlantas sebenarnya juga sudah menyiapkan fasilitas pelatihan khusus di sejumlah wilayah. Fasilitas itu bernama Indonesia Safety Driving Center atau ISDC.
Wibowo menjelaskan, ISDC tersedia di beberapa Polda dan difungsikan sebagai tempat latihan masyarakat untuk menghadapi uji praktik. Kehadiran sarana ini memberi opsi tambahan bagi warga yang ingin berlatih lebih terarah.
Meski begitu, jangkauan ISDC belum merata di semua daerah. Karena itu, akses latihan gratis di Satpas menjadi pelengkap agar warga di berbagai wilayah tetap punya kesempatan yang sama untuk mempersiapkan diri.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kemudahan membuat SIM tidak hanya berhenti pada perubahan aturan ujian. Korlantas juga mencoba membuka akses pembelajaran sebelum ujian berlangsung.
Fokus pada kesiapan dan keselamatan
Kebijakan latihan gratis di Satpas bukan sekadar mempermudah administrasi. Langkah ini juga diarahkan agar pemohon memiliki kesiapan mental dan teknis yang lebih matang saat mengikuti ujian.
Dengan lebih banyak kesempatan berlatih, potensi kesalahan saat tes dapat ditekan. Di sisi lain, masyarakat juga didorong untuk membentuk kebiasaan berkendara yang lebih tertib dan kompeten.
Korlantas berharap kemudahan ini bisa membantu meningkatkan tingkat kelulusan ujian SIM. Pada saat yang sama, tujuan yang lebih besar tetap terkait dengan keselamatan dan kualitas pengendara di jalan raya.
Karena itu, warga yang merasa belum siap menghadapi ujian praktik kini memiliki pilihan yang lebih aman daripada langsung mencoba tes. Mereka dapat lebih dulu berkoordinasi dengan Satpas setempat, memanfaatkan waktu di luar jam dinas, lalu berlatih tanpa biaya sebelum menjalani ujian resmi.
