Colorado diam-diam mengubah aturan penerbitan pelat nomor setelah pembaca pelat otomatis berulang kali keliru membaca huruf “O” sebagai angka “0”. Langkah ini langsung menyorot masalah yang lebih besar: bukan pengemudinya yang selalu salah, melainkan sistem yang memicu surat tilang, biaya tol, dan penghentian kendaraan yang keliru.
Pemerintah negara bagian mengakui bahwa teknologi pembaca pelat telah kesulitan membedakan dua karakter itu pada sejumlah pelat. Kekeliruan tersebut disebut sudah memicu tiket ngebut, tagihan tol, denda parkir, dan beberapa penghentian lalu lintas terhadap pengemudi yang tidak bersalah.
Masalahnya ada di pembacaan otomatis
Pada dasarnya, persoalan ini bukan sekadar soal desain pelat. Colorado pada 2018 mengubah format pelat menjadi empat huruf dan dua angka, lalu menempatkan huruf dan angka di sisi yang sama sehingga posisi “O” dan “0” bisa tampak mirip.
Investigasi 9NEWS menyebut kebingungan itu terutama berasal dari sistem pembaca pelat otomatis yang dipakai pemerintah kota, operator tol, perusahaan penegakan parkir, dan aparat penegak hukum. Dalam beberapa kasus, manusia di lapangan justru ikut memproses kendaraan yang salah.
Salah satu contoh terbaru melibatkan seorang pengemudi yang menerima surat tilang photo-radar dari sebuah kota yang berjarak lebih dari dua jam, padahal mobil yang dikemudikannya berbeda dengan kendaraan yang tertangkap kamera. Lagi-lagi, penyebab yang tampak adalah kesalahan membaca satu karakter pada pelat.
Colorado memilih ubah pelat, bukan kamera
Untuk meredakan masalah itu, pejabat Colorado tidak memperbaiki kamera yang membaca pelat. Mereka justru menghentikan penerbitan pelat yang memiliki huruf O pada posisi keempat.
Kebijakan ini tidak banyak membantu pemilik pelat lama yang sudah terlanjur memakai O di posisi tersebut. Bagi mereka, risiko salah baca tetap ada selama sistem di jalan masih memproses pelat secara keliru.
DMV Colorado juga menyesuaikan font pelat agar huruf O lebih mudah dibedakan dari angka 0. Selain itu, lembaga tersebut menyebut bekerja dengan berbagai instansi untuk mengkalibrasi pembaca mereka.
Teknologi yang dipakai luas ikut jadi sorotan
Kasus ini menambah daftar kritik terhadap penggunaan kamera otomatis dalam penindakan lalu lintas. Sistem serupa tidak hanya dipakai untuk kamera tilang, tetapi juga untuk tol, parkir, dan patroli kendaraan.
Masalahnya menjadi lebih sensitif karena dampaknya langsung ke warga yang tidak bersalah. Satu kesalahan baca bisa berubah menjadi tagihan, denda, atau penghentian kendaraan yang harus diperdebatkan kembali oleh pengemudi.
Keputusan Colorado pada akhirnya menunjukkan pengakuan bahwa teknologi itu punya batas. Namun alih-alih memaksa setiap sistem pembaca pelat untuk menjadi lebih akurat, negara bagian memilih menyesuaikan cara pelat baru diterbitkan agar potensi salah baca berkurang.
Bagi pengemudi, kebijakan ini mungkin terasa seperti upaya memperbaiki gejala, bukan penyebab. Tetapi bagi pemerintah, langkah itu cukup untuk mencegah lebih banyak pelat baru memicu masalah yang sama di jalan raya.
