BYD Motor Indonesia buka suara setelah penjualannya mencatat kinerja terburuk sejak perusahaan berdiri di Indonesia pada Mei 2026. Perusahaan menegaskan penurunan itu terjadi karena proses transisi sumber produksi dari kendaraan impor utuh atau completely built up (CBU) menuju produksi lokal.
Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan penurunan itu muncul saat perusahaan menyesuaikan rantai pasok seiring dimulainya produksi lokal. Ia menyebut perubahan tersebut berdampak pada angka wholesales, yakni pengiriman dari principal ke dealer.
“Itu adalah dampak dari transisi production source kita, sebelumnya kita masih berbasis impor, wholesales itu bagian dari penjualan principal kepada dealer,” kata Luther di Senayan, Jakarta, akhir pekan kemarin. Ia juga menegaskan perusahaan sedang membenahi sistem suplai agar transisi dari CBU ke produksi lokal berjalan lebih rapi.
Data wholesales yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan BYD hanya membukukan 895 unit sepanjang Mei 2026. Angka itu menjadi yang terendah sejak BYD pertama kali mencatatkan wholesales di Indonesia pada Juni 2024.
Sebelumnya, titik terendah penjualan bulanan BYD tercatat pada September 2025 dengan 1.088 unit. Sepanjang 2024, capaian bulanan terkecil BYD masih berada di angka 1.563 unit, sehingga Mei 2026 menjadi penurunan paling dalam dalam riwayat perusahaan di pasar domestik.
Kondisi itu juga kontras dengan performa empat bulan pertama 2026. Pada Januari BYD mencatat 4.879 unit, lalu 4.653 unit pada Februari, 2.941 unit pada Maret, dan 4.625 unit pada April.
Penurunan pengiriman membuat BYD terlempar dari jajaran 10 besar merek terlaris pada Mei 2026. Posisinya turun ke peringkat 14 dan tertinggal dari sejumlah merek China lain seperti Chery, Geely, dan Wuling.
Luther menyebut gejolak di angka distribusi itu bersifat sementara. Menurut dia, ketika transisi produksi lokal berjalan lebih stabil, angka wholesales akan kembali normal dalam waktu dekat.
Pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, masih berlangsung hingga kini. Perusahaan juga berjanji akan memulai produksi lokal dalam waktu dekat, seiring langkahnya mengalihkan basis produksi dari impor menuju manufaktur di dalam negeri.
Source: www.cnnindonesia.com






